Pada 7 Desember 2006 silam, Mahkamah Konstitusi melalui putusannya No. 013-022-/PUU-IV/2006 menyatakan mengabulkan seluruhnya permohonan Uji Materi terhadap beberapa pasal yang tergolong “penghinaan terhadap presiden/kepala negara”. Pasca-keputusan MK dengan tersebut, klausul “penghinaan presiden” seperti pada pasal 134, 136bis, dan 137 Kitab Undang-undang Hukum Pidana dianggap tidak berlaku lagi. Setelah sekian lama pasal tersebut tidak ada, kini menyeruak kembali wacana akan rancangan undang –…
Logika Kulit Pisang
Beberapa yang membaca tulisan saya sebelumnya tentang Ojek Nasibmu Kini, berkomentar bahwa tulisan saya tersebut seakan memberikan justifikasi akan tindakan intimadasi ataupun kekerasan yang akhir – akhir ini marak dilakukan tukang ojek tradisional. Meskipun jika anda membacanya dengan penuh pemahaman saya yakin anda akan mengetahui bahwa maksud saya tidaklah demikian. Saya hanya hendak menyampaikan perimbangan pandangan, dari suatu pandangan mainstream yang selama ini…
Tukang Ojek, Nasibmu Kini
Akhir – akhir ini mulai marak mengenai pemberitaan konflik antara tukang ojek tradisional konvensional yang biasanya mangkal di gang – gang dan sudut – sudut perumahan, dengan tukang ojek pesanan online melalui aplikasi seperti Gojek dan Grabbike. Di beberapa sudut gang marak spanduk – spanduk provokatif yang melawan kehadiran ojek pesanan melintasi suatu kawasan tertentu. Saya prihatin sekaligus entah tidak…
Kemenangan dalam Idul Fitri
Tulisan ini saya buat, di kampung halaman saya, Kediri, pada pagi dini hari 1 syawal di tahun 1436 Hijriah, atau 2015 menurut perhitungan kalender Masehi. Suara takbir menggema memenuhi udara pagi ini, haru bercampur syahdu. Keharuan yang memuat kesedihan, sekaligus kegembiraan, yang entah bagaimana sulit untuk saya tuliskan. Takbir yang kita pekikan tepat di hari kemenangan, kemenangan melawan siapa? Para…
Meramadhankan Diri
Ramadhan penuh keharuan, kesunyian, kotemplasi, perenungan. Ramadhan membuat kita menepi sejenak, mengkhilafi setiap kesalahan, memperbarui setiap sel rohani kita, yang menua, melapuk oleh kotoran. Berlapar – lapar sebulan penuh, menghidupkan sepertiga malam, dalam hubungan intim denganNya, mengembalikan hakikat kehambaan pada Tuhan. Belajar kembali tentang ketulusan dari puasa. Menyadari kembali bahwa sisi terbaik dari seorang manusia adalah ketulusan hatinya, perbuatan baiknya kepada sesamanya yang…
Proxima Centauri (Bagian ke – 11)
Pandangan mataku masih kulayangkan di jendela bus di sampingku. Mengharapkan ada sesuatu yang baru dapat kutemui saat itu. Mengamati toko-toko yang berjajar, kantor – kantor dan bank serta bangunan – bangunan lain di pinggir jalan, juga kendaraan bermotor yang berebut jalan – seperti anak kecil yang berebut kue. Mungkin memang mereka adalah anak kecil, yang begitu gemar bermain klakson tanpa bisa menggunakan nalarnya bahwa jalanan…
Proxima Centauri (Bagian ke – 10)
Alarm ponselku berdering tiba – tiba, bergetar mengagetkanku yang tadinya larut dalam tidur. Spontan tanganku meraih ke arah sumber bunyi itu. Dengan mata yang masih setengah terbuka aku menengok jam duduk di dekat tempatku tidur, masih belum terlihat jelas namun samar dari jarum panjang dan pendeknya aku menebak kalau sekarang jam tiga pagi. Suasa masih sepi, hanya ada desis kipas angin di kamarku yang sebentar berputar ke…
Proxima Centauri (Bagian ke – 9)
“Begitu ya?” Sahut Kiran. “Memang, waktu tak bisa dihentikan. Semuanya akan berubah, kita tidak akan bisa mempertahankan kenangan lalu untuk bisa menjadi kenyataan hari ini. Sejarah memang bisa saja berulang. Tapi waktu tidak pernah berputar. Senja hari ini akan selalu saja berbeda dengan senja kemarin, dan akan berlainan di esok hari.” Sekilas aku memandang Kiran, lalu kembali mengalihkan pandanganku kearah langit yang kini sedang dipandangnya,…
Proxima Centauri (Bagian ke – 8)
Pandanganku terpaku pada jalanan melalui sebuah jendela bus yang kami tumpangi, menyaksikan pemandangan lalulintas Yogya yang makin siang, semakin dipenuhi oleh kendaraan bermotor. Beberapa diantaranya mungkin adalah mahasiswa yang hendak berangkat kuliah, beberapa lagi bisa jadi memang warga asli sini, tapi tak kalah banyak juga kendaraan dengan platnomer luar kota yang membanjiri . Aku dan Kiran sedang berada di sebuah bus yang melaju menuju Magelang. Bus ini akan melewati desa dimana…
Proxima Centauri (Bagian ke – 7)
“Kamu tahu nggak, mengapa akhir – akhir ini begitu banyak pasangan yang menikah namun kemudian rumah tangganya berantakan, bahkan banyak dari mereka yang berpisah, padahal-kan dulunya mereka berjanji sehidup semati?” “Memang mengapa?” Aku bertanya balik pada Kiran. “Mungkin kesalahan terbesarnya – yang mungkin juga bisa menjadi kesalahan kita – adalah karena mereka meniatkan pernikahan itu untuk mencari kebahagiaan. Disangkanya bahagia dapat diraih hanya dengan hidup bersama…







