Pandangan mataku masih kulayangkan di jendela bus di sampingku. Mengharapkan ada sesuatu yang baru dapat kutemui saat itu. Mengamati toko-toko yang berjajar, kantor – kantor dan bank serta bangunan – bangunan lain di pinggir jalan, juga kendaraan bermotor yang berebut jalan – seperti anak kecil yang berebut kue. Mungkin memang mereka adalah anak kecil, yang begitu gemar bermain klakson tanpa bisa menggunakan nalarnya bahwa jalanan tidak akan menjadi lengang hanya dengan membunyikan suara – suara gaduh itu. Ya, namanya juga anak kecil, jadi tentu tidak bisa disalahkan.
Begitulah suasana jakarta after hours, saat jam pulang kerja. Suasana ibukota yang selalu begitu terburu-buru. Terburu – buru di jalanan, terburu – buru mengejar kereta, terburu – buru mengejar bus, terburu – buru menyeleseikan pekerjaan. Begitu terburu – buru seolah tak ada waktu lagi. Begitu terburu -buru sehingga merasa tidak ada kesempatan menunggu, termasuk menunggu seseorang yang hidupnya sedang mengalami rasa gelisah dan patah hati. Seperti aku. Ya, seperti aku yang hampir saja tertinggal bus. Seperti aku yang dipaksa terengah – terengah berlari, jika tidak ingin harus menunggu bus berikutnya setengah jam lagi.
Menjalani rutinitas di jakarta kadang memang berat, juga bisa jadi membosankan. Begitulah setidaknya kata banyak orang. Untungnya aku memiliki sistem imun untuk rasa bosan. Untungnya aku adalah sejenis orang yang selalu dapat mengenakan pakaian yang sama dan melahap makanan yang sama serta pergi ke tempat yang sama selama beratus – ratus tahun tanpa harus merasa bosan dengan semua itu, sepanjang aku bisa selalu memperbarui setiap cara pandangku terhadap setiap aktivitas yang kujalani secara rutin setiap hari itu.
Bukan rutinitas yang membuatku bosan. Mungkin itu disebabkan oleh kesendirianku, meski ada beberapa teman dekat. Namun entah mengapa, terkadang, seperti saat sekarang ini, aku sering merasa kesendirian itu semakin sering menghampiriku, bahkan mungkin ia sudah berteman akrab denganku, dan sebagaimana teman baik, ia selalu punya cara untuk hadir di setiap kesempatan dan berusaha menyesuaikan dirinya denganku dimanapun aku berada.
Kesendirian sering memberiku beberapa kesempatan, seperti saat ini, saat di dalam bus dengan pandangan yang masih mengarah ke jendela -memikirkan kelak ada seorang gadis yang cukup cerdas dan berwawasan luas, yang membuat kesendirian angkat kaki dariku. Seorang gadis yang bisa menjadi teman diskusi akan banyak hal, termasuk tentang buku – buku yang kubaca. Seorang gadis yang bisa menemaniku ke bioskop dan menyelamatkanku dari bengong sendirian saat jeda iklan diputar sebelum film dimulai.
Aku berharap gadis itu ialah Kimya. Aku mungkin bermimpi terlalu tinggi. Pikirku sendiri.
Aku kini menumpang sebuah bus antar kota yang membawaku, dalam perjalananku pulang setelah seharian penuh bekerja. Namun aku kini tidak menumpang bus yang biasanya langsung membawaku ke tempat kos – di daerah di jakarta selatan, semenjak beberapa minggu yang lalu, aku menumpang bus yang lain. Bus yang ini membawaku mampir terlebih dahulu ke suatu tempat, tidak hanya membawa ragaku namun juga – yang lebih penting, kenanganku.
***
Malam menenggelamkan cahaya mentari dan menyisakan sisa cahayanya di langit menyambut bus yang aku tumpangi tiba di tempat tujuanku. Aku sudah bersiap berdiri di depan pintu bus, sebelum bus itu berhenti sebentar di depan halte untuk memberikan waktu sekitar 3 detik untukku turun dan menginjak jalanan beraspal.
Kini, di depanku sebuah kafe dengan plang nama yang dibuat dari huruf-huruf yang tersusun apik diatas pintu masuknya bertuliskan Najma Cafe. Ya, Najma Cafe adalah kafe dimana aku pernah bertemu Kimya dulu. Namun aku tidak hendak mampir untuk memesan kopi dan membaca buku seperti biasanya, tidak ada waktu untuk itu di hari kerja seperti ini. Aku hanya sekedar melewati pintu depan kafe ini sambil berharap tak sengaja melihat dan berpapasan dengan Kimya, Atau mengharapkan Kimya mengagetkanku tiba – tiba, menepuk pundaku dari belakang, Tapi harapan yang terakhir itu sepertinya mustahil.
Sejak beberapa hari yang lalu, hampir di setiap sore aku berjalan kaki dari kafe ini menyusuri trotoar, melintasi deretan kafe dan rumah makan, toko buku, apotek, tanpa menghiraukan lalu lalang di sekitarku sepasang muda mudi yang bergandengan tangan layaknya proton dan elektron yang enggan untuk lepas kala ia sudah berdekatan.
Aku berjalan sekitar lima belas menit, hingga menyebrangi satu perempatan jalan, yang cukup padat, sebelum akhirnya berbelok kekiri beberapa meter, sampai aku bertemu sebuah bangunan yang menyerupai rumah susun namun lebih kecil, hanya ada tiga lantai, dengan cat tembok warna biru, begitu terlihat megah di pinggir jalan raya dengan pagar berteralis besi yang cukup tinggi mengelilinginya. Namun pagar itu tak menghalangi pandanganku untuk menatap balkon – balkonnya yang berjejer di lantai dua dan tiga. Aku bahkan bisa menghitung jumlahnya di masing sisi- sisi bangunan, total aku memperkirakan ada dua puluh kamar — dengan asumsi satu balkon merepresentasikan satu kamar.
Bangunan ini adalah tempat indekos khusus putri, siapa pemiliknya, aku tak tahu. Di salah satu kamar indekos inilah Kimya tinggal. Aku tak tahu menahu Kimya berada di kamar sebelah mana, tapi aku tak terlalu memusingkannya, karena ketidaktahuan itu tetap tak menghalangi jantungku berdegup kencang ketika menatap dan melintasi sisi bangunan ini.
Banyak orang menggapku aneh, atau setengah sinting dan tak waras, kala aku begitu canggung jika melewati bangunan ini. Ini hanya sekedar bangunan dengan tembok, yang terdiri beton atau batubata, yang dilapisi semen, dan seterusnya. Sama halnya dengan bangunan – bangunan lain di seantero jakarta. Namun bukankah masjid – tempat ibadah umat muslim, juga terdiri susunan batu bata, semen, lantai dan atap? Ia juga tidak lebih dari bangunan sebagaimana bangunan lainnya.
Sebuah bangunan hanya bisa disebut masjid kala ia dijadikan tempat bersujud – sebagaimana kata masjid sendiri yang artinya “tempat bersujud”. Jadi tembok, atap, lantai, hanyalah bentukan jasad, sedangkan yang menjadikan ia sebagi masjid adalah ruhnya. Dimanapun seorang muslim bersujud maka di tempat itu seketika berubah menjadi masjid. Ketika seorang muslim menemukan kehadiran Tuhannya di setiap tempat, maka sejatinya, hidupnya itu bersujud, dan ia menemukan masjid di setiap jengkal tanah ciptaan Tuhan.
Pun begitu bagiku. Memang, bangunan ini hanyalah kehadiran jasad, sama dengan bangunan – bangunan lain. Yang membuat bangunan ini menjadi begitu membuatku canggung hingga terkadang seolah membuat jantungku berdegup tak teratur adalah ruh didalamnya, ruh itu adalah keindahan Kimya yang tinggal di salah satu kamarnya dan perasaanku sendiri yang menggebu – gebu dan larut di dalam setiap sisi bangunan ini.
Maka karena begitu canggungnya, kadang aku menjadi begitu kehilangan kepercayaan diri kala melewati rumah indekos ini. Serasa tak sanggup menahan beban kepala, hingga membuat kepalaku menunduk kala melewatinya, dengan perasaan sedikit was – was, kalau – kalau, tiba – tiba berpapasan dengan Kimya atau ia memanggil namaku dengan setengah berteriak dari balkon kamarnya. Ada semacam perasaan takut, canggung, yang bercampur dengan harapan.
Namun kejadian itu mungkin hampir mustahil, sejauh ini aku belum pernah berpapasan dengannya. Kadang jika aku beruntung, sesekali aku bisa melihat Kimya dari kejauhan, berjalan masuk atau keluar pagar rumah indekosnya, jika sudah begitu, maka aku akan menghentikan langkahku lalu menepi beberapa saat di tepi dalam trotoar, berusaha agar tak terlihat olehnya. Aku bisa perhatikan ia mengenakan rok panjang anggun yang tertutup, rambut hitam ikal yang tergerai, dengan leher jenjang dengan cara berjalan yang begitu mempesona. Aroma parfumnya masih bisa kucium samar, ketika kemudian aku melewati tempat dimana ia tadi berdiri meskipun itu sudah beberapa menit yang lalu.
Suatu hari, saat aku melintasi sisi depan bangunan ini, kuberanikan diri untuk menatap deretan balkon itu satu persatu, tak sengaja pandanganku terarah pada pot rosmarun yang berada di sebuah balkon lantai dua. Ya,balkon kedua dari kiri. Aku setengah ragu – ragu — khawatir jika salah, namun setelah sekian lama memandang, aku hampir bisa memastikan jika itu adalah mawar rosmarun yang beberapa hari lalu aku kirimkan pada Kimya. Tidak ada rosmarun lain yang dijual di jakart, selain di kedai yang kubeli kemarin. Setidaknya begitu yang kudengar dari bapak penjual bunga kemarin.
Untunglah Kimya sudi menerima mawar itu dan bersedia merawatnya, Duh aku jadi iri, betapa beruntungnya menjadi mawar rosmarun itu, yang bisa bersanding tiap hari melihat kecantikan Kimya dari dekat. Melihatnya pertama kala bangun tidur, dan mendapatkan perhatiannya di tiap pagi dan juga sore.
Tapi setidaknya mawar itu sudah cukup membantuku untuk menemui si pemilik kecantikan itu tinggal. Setidaknya mulai sekarang, aku bisa memandangi balkon itu di setiap sore dari kejauhan, dan jika aku beruntung, ia keluar dari dalam kamarnya suatu waktu
Setelah melintasi rumah indekos itu, dengan debar hati yang begitu sedih bercambur bahagia, aku bersegera melanjutkan perjalanan untuk mencapai halte terdekat, menunggu bus yang membawaku pulang, berbekal kenangan yang lebih dari cukup kusimpan untuk semalam ini.
***
Seperti biasanya, di setiap malam, seusai sepulang kerja aku akan beristirahat sebentar duduk di balkon rumah mencari udara, sebelum kemudian mandi dan bersiap untuk beristirahat. Hari ini adalah hari jumat, dan besok adalah jadwalku untuk kursus bahasa inggris. Aku sudah memutuskan untuk mbolos saja besok, toh aku tidak akan mendapatkan apa – apa lagi di kursus yang membosankan itu. Begitupun Kimya sudah pasti ia akan menghindar bertemu denganku. Sekian minggu aku tidak berpapasan lagi dengannya di tempat kursus, mungkin ia mengambil kelas di jam lain.
Aku sudah mulai membuka ruang untuk menerima itu sebagai sebuah kenyataan hidup. Meski mungkin, aku tak tahu sampai kapan perhatianku padanya bisa hilang. Aku mungkin masih akan melintasi jalan – jalan dari kafe menuju kosnya, di beberapa hari, beberapa minggu, atau beberapa bulan berikutnya sampai benar – benar rindu yang kurasakan ini hilang. Tapi aku tidak akan lagi berusaha menampak-nampakan diriku padanya, atau merebut perhatiannya, yang mungkin dianggapnya terlalu mengganggu. Cinta bukan datang karena terbiasa, ia adalah kecocokan hati, demikian kata salah seorang penyair asal Lebanon dalam bukunya.
Sebagai gantinya, besok aku berencana akan berkunjung ke kedai kopi milik Kiran yang baru buka beberapa hari yang lalu. Setelah beberapa minggu ia tinggal di Indonesia — pembicaraan kita saat kujemput ia di bandara kini terbukti, ia mencoba peruntungannya, kini dengan membuka sebuah kedai kopi kecil – kecilan di daerah Depok, cukup dekat dengan kawasan kampus. Memang, seiring waktu tren penikmat kopi di Indonesia semakin meningkat. Entah karena semakin maraknya film dan novel yang mengangkat tema kopi, sehingga semakin banyak orang yang terdampak untuk ikut-ikutan menyukai minuman hitam itu, atau memang makin banyak orang yang gemar bergadang sepertiku, dengan ditemani kesendirian yang pahit dari secangkir kopi hitam?
Tapi kopi tidak benar – benar pahit, jika lidah kita sudah menyesuaikan diri dengannya. Seiring dengan waktu kita bisa sangat menikmati kopi pahit tanpa gula. Mungkin begitupula dengan kisahku, mungkin seiring waktu aku akan mulai terbiasa dan berdamai dengannya, menyruput takdirku yang dihidangkanNya dalam cangkir kehidupan.
Bersambung


Mas Ted, lanjutannya dong… Nanggung banget ini, penasaran sayaa