Libur akhir tahun tiba, besok sudah menjadi malam pergantian tahun. Meskipun secara ruhani, malam pergantian tahun bisa terjadi di setiap malam. Resolusi tidak perlu dibuat tiap tahun, namun bisa tiap hari, tiap malam, tiap saat, tanpa perlu menunda- nundanya ke pergantian satuan waktu. Kebaikan – kebaikan kecil yang dilakukan terus menerus dan meningkat secara perlahan akan menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai daripada mencoba melakukan perubahan yang radikal dalam tempo semalam. Tidak ada memang perubahan yang bisa dilakukan dalam tempo semalam. Semua hal yang besar – besar, selalu dimulai dari yang kecil – kecil.
Ya tapi tidak ada salahnya juga di menjelang pergantian tahun, kita lakukan kontemplasi diri. Berdoa agar di tahun yang baru, kita menjadi lebih baik dari tahun yang telah dilewati. Yang disayangkan jika pada pergantian tahun, yang kita sibukkan hanyalah menghitung -hitung mundur, dan merayakannya dengan hal yang sifatnya mubazir.
Ya, malam pergantian tahun mungkin sama dengan malam – malam lainnya. Itu hanya kesepakatan budaya jika pada tanggal 31 desember adalah akhir dari sebuah tahun masehi. Dalam hidup juga kita memiliki “kalender-kalender tahun” yang lain, sebagaimana yang sering disebut tahun ajaran, tahun anggaran, dan lain sebagainya. Satuan – satuan waktu memang diperlukan oleh budaya sebagai proses review kebelakang untuk bisa menghitung kedepan, dan ujung dari semua masa depan dan masa silam adalah, proses kita sendiri sebagai manusia dari innalillahi ke wa ilaihirajiun. Kita dari Allah, dan mau tidak mau, tidak punya pilihan lain, sukarela ataupun dengan terpaksa harus kembali kepadaNya.
Menapaki Masa Lalu untuk Masa Depan
Saya mencintai sejarah. Saya gemar membaca – baca buku tentang sejarah. Karena sejarah adalah mempelajari akar kita sebagai manusia. Sebagaimana pohon, semakin akar menghujam ke bumi, maka ia tak akan tumbang kala ia tumbuh menjulang ke angkasa.
Sampai sekarang saya terkadang masih menyimpan berbagai benda yang remeh – temeh di mata orang lain, tapi tidak menurut saya. Saya masih menyimpan selembar kertas tiket kereta dari tahun 2005, mungkin itu hanya kertas sampah bagi orang lain, tapi kertas itu bukan sekedar kertas menurut saya, ia seperti monumen, yang membuat orang yang mengingatnya, mengambil jarak dari masa kini, ke masa silam, untuk bisa menentukan langkah apa ke depan yang saya bisa ambil.

Begitupun dengan sebuah botol plastik air minum dalam kemasan yang masih saya simpan hingga kini, ia bisa jadi hanya sekedar limbah plastik di mata orang lain. Orang sekali – kali tidak akan menganggap berharga. Tapi tidak bagi mata pandang saya. Karena setiap benda itu memiliki cerita. Dan saya tidak sedang memandang benda. Saya tidak sedang melihat materi. Saya melihat apa tersimpan yang dibalik materi itu. Kurang lebih sebagaimana hardisk eksternal, bukan materi cakram hardisknya yang berharga tapi data – data yang berada di dalamnya. Begitupun dengan botol plastik itu.

Saya tidak memaksa anda untuk percaya dengan yang saya tuliskan, tapi seyogyanya juga jangan buru – buru menolak. Karena hal penting yang pertama harus dicatat adalah keinginan kita sebelum percaya atau tidak terhadap sesuatu atau seseorang, semestinya dilakukan terlebih dahulu riset atau investigasi, dengan mendekati, mempelajari atau menghayatinya terlebih dahulu. Kita sebaiknya jangan menolak ataupun menerima sesuatu sebelum menemukan alasan mendasar dari sesuatu itu ditolak atau diterima.
Tapi kita tidak bisa menyalahkan seseorang yang terkadang mengambil penilaian tergesa- gesa, karena setiap orang memiliki pengalaman hidup dari perjalanannya, dan tentu berbeda dengan perjalanan yang pernah kita lakukan, sehingga keputusannya untuk menilai seseorang, mengambil keputusan dan kesimpulan bisa akan sangat berlainan dengan yang kita pikirkan. Ya, kita semua sedang belajar, kita semua manusia berproses, dan yang bisa kita lakukan hanya berbaik sangka pada seluruh hal yang terjadi, yang kita alami.
Pada akhirnya, saya hanya bisa mengucapkan selamat Tahun Baru 2018. Semoga kasih sayang Allah yang berlaku pada diri kita semua.