Pak Imron, sebut saja namanya demikian- karena saya juga lupa melihat tanda pengenal yang biasanya terpasang di setiap taksi. Berprofesi sebagai pengemudi taksi yang, aku tumpangi di perjalanan menuju stasiun Gambir, senin lalu. Dari percakapan kami sepanjang perjalanan, saya tahu kalo pak Imron berasal dari Padang, Sumatera Barat. Namun pada lebaran ini ia memilih tidak mudik, dikarenakan mahalnya tiket pesawat dan kebutuhan yang semakin meningkat dari hari ke hari
“Ongkos pesawat sekarang mahal pak, jadi paling ya pulang 5 tahun sekali
Ya, pasti biaya ongkos perjalanan jakarta padang bukanlah perkara remeh, bagi seorang sopir taksi. Memang banyak yang mengadakan acara mudik gratis, namun kebanyakan hanya berkutat di wilayah jawa, sedang pak imron yang orang minang, tentu harus rela gigit jari dengan berlebaran jauh dari kampung halaman.
Pembangunan yang bersifat jakarta sentris beberapa puluh tahun belakangan, tak pelak mengakibatkan banyak orang berduyun – duyun meninggalkan kampung halaman untuk mencari peruntungan di kota besar. Idul fitri menjadi momentum penting yang bersifat kultural dimana mereka ingin merayakannya bersama keluarga di kampung halaman.
Namun semakin jauh jarak kampung halaman, tentu akan berkorelasi dengan jauhnya ongkos yang harus dirogoh. Bagi kita yang bekerja kantoran yang memiliki gaji berkali-kali lipat diatas UMR Jakarta, perjalanan jawa sumatera mungkin bukanlah masalah besar namun bagaimana bila itu terjadi pada seorang sopir taksi?
Seorang sopir taksi adalah profesi kecil, yang hampir pasti tidak diimpikan oleh para sarjana seperti kita. Ia hanyalah sebuah profesi kecil yang hanya mungkin bisa dijalani dengan penuh kesungguhan oleh manusia – manusia yang memiliki keyakinan tinggi akan rejeki Allah.
Misalnya, saat saya mencegat taksi di suatu jalan, pada jam tertentu, menit tertentu dan detik tertentu. Siapakah yang bisa menjamin bahwa saya akan menumpang taksi pak Imron atau bukan. Seandainya saya terlambat atau lebih cepat beberapa menit. Mungkin bukan taksi Pak imron yang saya tumpangi. Siapakah yang mengatur perjumpaan saya dengan pak Imron.
Mampukah kadar pengetahuan dan perhitungan kita memprediksi taksi mana yang akan didapatkan oleh seorang calon penumpang. Orang modern mengatakan itu adalah peristiwa kebetulan. Namun tidak ada kebetulan bagi mereka yang meyakini adanya Tuhan.
Orang – orang kecil seperti pak imron, adalah satu dari sekian banyak mereka yang tidak bisa berlebaran di kampung halaman. Sementara kita di sini sibuk memamerkan kesuksesan yang didapat dari kota. Kesuksesan bagi mata pandang kita adalah kepemilikan materi, gelar mentereng, punya mobil, rumah mewah, hingga karir yang cemerlang.
Kita memanjat tangga kesuksesan meninggalkan orang – orang kecil. Orang – orang seperti pak Imron hanyalah mereka yang hanya perlu dibantu sesekali, dan dikasihani seperlunya. Orang kecil bagi mata pandang kita adalah sarana untuk dihayati kala ramadhan tiba, sebagaimana disebut banyak ustadz, “Puasa untuk menghayati penderitaan orang miskin”. Seolah mereka yang miskin dan papa tidak berhak atas puasa.
Kita sungguh – sungguh lupa. Bawa mudik adalah upaya manusia untuk kembali ke sangkan parannya. Ke kampung halamannya. Yang paling dekat adalah tempat kelahirannya. Namun yang paling jauh – dan tidak bisa kita mengelak darinya- adalah mudik kembali ke kampung halaman Allah.
Dan dalam peristiwa mudik yang sejati itu tidak mungkin dibawa semua – semua yang kita banggakan saat lebaran. Semua akan tanggal dihadapanNya. Satu – satunya yang sanggup dibawa kepadaNya adalah Cinta seorang hamba kepadaNya. Dan Cinta kita kepadaNya berwujud pada cinta kepada sesama makhluk Allah.
Tidaklah beriman seseorang sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri
(HR Al-Bukhari dan Muslim).