Bulan Ramadan hampir separuhnya dilewati. Milyaran hamba Allah berpuasa di muka bumi. Milyaran kaum muslim berislam (menyerahkan diri) untuk menyublimkan diri di bulan ini. Menghilangkan kotoran – kotoran yang selama setahun penuh melekat di hati. Menjadi pemisah antara manusia dengan sejatinya azali.
Semua kita sepakat menyebut Bulan Ramadhan sebagai bulan suci, tentu tanpa hendak menyebut bulan selain ramadhan tidak suci. Karena kita semua mahfum, suci tidak suci sebuah ruang waktu tidak bergantung pada ruang dan waktu itu melainkan bersifat subjektif bergantung pada pelakunya, manusia, khalifatullah.
Kesucian adalah sesuatu yang manusia anggap sakral, dan dihormati. Sesuatu yang membuat manusia mengalami transenden dan menjumpai misteri di jantung eksistensi segala sesuatu. Manusia cenderung mencari pengalaman semacam ini, pengalaman yang membuat takjub, takut, bersemangat, damai, cemas dan mendorong mereka untuk melakukan aktivitas moral. Sebuah hal yang dirasakan dari kedalam diri manusia.
Begitu kita terpisah dari rahim ibu kita, ada perasaan keterasingan yang silih berganti menemui perjalanan hidup kita dalam berbagai bentuk. Karena itulah kita memandang hidup tidak seharusnya seperti ini. Berbekal rasa keterpisahan itu, manusia mengalami kerinduan, sehingga dengannya ia mencari muasal dari adanya. Itulah yang membuatnya tertarik pada kesakralan dan kesucian.
Dalam dimensi ruang, manusia akan menganggap sakral terhadap sebuah tempat yang mengingatkan ia akan peristiwa penting dalam hidupnya. Itulah mengapa seseorang yang dilanda patah hati terkadang menganggap tempat pertama bertemu kekasihnya adalah sebuah tempat yang “sakral”, karena tempat itu memiliki nilai ruhani dan memiliki makna yang tidak bisa dan belum tentu orang lain bisa lihat.
Pun, dalam waktu. Itulah mengapa setiap tahun, kita selalu bersuka cita merayakan tanggal kelahiran. Karena tanggal kelahiran adalah sesuatu yang menurut manusia sebagai hal yang sakral, bermakna, dan memiliki nilai historis.
Ramadhan adalah suci, karena kita, umat islam yang menyucikannya, dengan kerelaan untuk berlapar dan berhaus sepanjang hari dan berjuang untuk men-tidakkan segala kenikmatan dan untuk nyicil hutang cinta kasih kepada Allah.
Puasa itu jalan sunyi. Tersedia makanan tapi tak
dimakan. Tersedia kursi tapi tak diduduki. Tersedia
tanah tapi tak dipagari.
Puasa itu jalan sunyi. Menggambar tapi tak terlihat.
Bernyanyi tapi tak terdengar. Menangis tapi tak
diperhatikan.
Puasa itu jalan sunyi. Menjadi tanpa eksistensi. Pergi
menuju kembali. Hadir tapi tak dikenali. “Menuju Makan
Sejati”Emha Ainun Nadjib
Kita berharap setelah sebulan penuh, menjalani nenepi, laku sunyi. Kita berhasil meramadhankan diri. Sedemikian hingga, kesadaran yang kita jalani setiap hari, menit, detik, nantinya, adalah kesadaran Ramadhan. Kesadaran menahan diri. Kesadaran berpuasa. Sehingga kita sanggup memasuki kesucian, dan kesakralan di bulan apapun, siang ataupun malam.