Duh diri saya. Berapa kali ramadhan yang melintasi usia. Berapa kali dilakoni puasa. Namun mengapa tidak berkembang peradaban manusia. Ramadhan demi ramadhan, yang dikenal hanya konsumsi dan materi. Saat berpuasa yang terbayang hanya makanan. Terlebih kala terbenam senja. Konsumsi yang meningkat dari biasa. Pantaskah disebut berpuasa. Jika pendalaman hidup dari hari ke hari selalu sama.
Padahal Rasulullah Muhammad. Manusia mutiara, telah bersabda. Ramadhan adalah Madrasah. Sebulan penuh kita bersekolah. Namun dengan makanan saja, kita masih saja kalah. Selalu melampiaskan kala berbuka. Seolah puasa hanya perkara lapar dahaga.
Duh diri saya. Berapa kali mengaku umat Kanjeng Nabi. Tapi, untuk disebut sebagai kekasihnya, kualitas pribadi kami tak mencukupi. Langkah kaki beliau tak benar – benar berani kami ikuti. Kami takut pada latta uzza di sekitar kami. Masih tertunduk kepada materi. Bersujud kepada uang, dan begitu banyak hal yang tak mampu dibawa mati
Duh diri kami. begitu malu kami, pada kondisi diri. Dari satu ramadhan ke ramadhan berganti, hanya terpaku pada seremoni. Berlomba memperbanyak tadarus. Tanpa mau ditadaburi serius. Berebut pahala pribadi, sementara tetangga kebingungan membeli nasi.
Duh diri kami. Mampukah kami beridul fitri. Sementara puasa tak sungguh dijalani. Benarkah kembali suci. Padahal dosa yang telah terjadi, tak pernah disesali. Duhai Allah Yang Maha Mengampuni. Maafkan kami.