Alarm ponselku berdering tiba – tiba, bergetar mengagetkanku yang tadinya larut dalam tidur. Spontan tanganku meraih ke arah sumber bunyi itu. Dengan mata yang masih setengah terbuka aku menengok jam duduk di dekat tempatku tidur, masih belum terlihat jelas namun samar dari jarum panjang dan pendeknya aku menebak kalau sekarang jam tiga pagi. Suasa masih sepi, hanya ada desis kipas angin di kamarku yang sebentar berputar ke kiri, sebentar ke kanan, “Hoaaempphh!!” Aku menguap menahan kantuk, sembari memaksa membuka mata menatapi langit – langit kamarku. Sekujur tubuh masih terasa begitu lelah karena belum genap 12 jam aku baru tiba di jakarta menggunakan pesawat terbang setelah sebelumnya mengantar Kiran berkunjung ke rumah neneknya.
Rasa kantuk masih menyergap erat menahanku untuk bangkit dari tempat tidur, sebisa mungkin aku lawan, aku paksa – paksa diriku agar tetap terjaga. Memang, yang paling berat kala bangun tidur sepagi ini adalah perjuangan untuk menjauhkan diri sebisa mungkin dari kasur. Segera aku beranjak berdiri lalu menghidupkan ketel elektrik, memanaskan air guna menyeduh secangkir kopi, seperti kebiasaanku setiap harinya setelah bangun tidur. Sambil menunggu air mendidih, dengan langkah yang gontai aku menengok keluar kamar, berjalan ke balkon lantai dua yang hanya berjarak beberapa langkah dari pintu kamarku. Biasanya dengan melihat – lihat suasana di luar ruangan cukup membantu untuk menghilangkan rasa kantuk.
Aku bisa perhatikan jalanan dini hari ini begitu lengang, hanya ada lampu jalan yang terkadang melakukan permainan gelap terang bersama aspal dan paving jalan. Tak seperti kala siang yang begitu padat dengan lalu lalang kendaraaan, juga suara -suara klakson yang memecah telinga. Seperti halnya dua semesta yang berbeda, kini kulihat hanya sesekali satu dua kendaraan yang melintas begitu terburu – buru membelah sunyi ke arah perempatan jalan nun di sana, sebelum kemudian ia hilang dalam pekat kabut. Suara bisik angin terdengar lirih sedang bercengkerama dengan daun – daun pohon di sekitar pinggiran jalan seraya embun pagi yang berkejaran lalu terbentur pada rumput dan jendela kaca, menjadi butiran air, seolah ia sedang menangis dan meratap, tapi entah karena apa.
“Apa kabar Kimya?” Pikiran yang tiba – tiba muncul lagi di ingatanku. Perlahan, aku melihat dengan jelas bayang – bayang parasnya berputar menghiasi langit gelap yang kupandang. Sudah berapa hari ku tak melihat dan mendengar kabarnya? Mungkin dua tiga hari. “Apa yang sedang ia mimpikan malam ini? Ataukah kau sedang terjaga sama sepertiku?” Gumamku sendiri. Ah, buru – buru saja bayangan itu aku tepis, seketika itu aku beringsut kembali masuk di dalam kamar, menyeduh secangkir kopi, membuka beberapa buku, menyalakan komputer jinjing di atas meja yang bersebelahan dengan tempat tidurku. Sebuah rutinitas harian, yang sudah kumulai di saat yang lain masih asyik terlelap di dalam mimpinya.
Mubazir rasanya, jika waktu yang ada hanya dihabiskan untuk mendengkur dan bermimpi, sedang masih banyak hal produktif yang masih bisa dikerjakan. Sudah sejak lama aku hanya menjatah diriku untuk hanya tidur sekitar enam jam. Selebihnya sebisa mungkin digunakan untuk hal – hal yang lebih produktif, seperti membaca buku, berolahraga, bekerja, atau juga aktivitas yang lain.
Uap kopi panas putih mengepul mengembun membasahi gelas kaca dengan sunyinya menemaniku dini hari ini. Ada banyak hal yang biasanya kupelajari di kala seperti ini, mulai dari materi – materi tentang fisika, sejarah, politik, bahasa, hingga perkembangan teknologi termutakhir. Sepertinya Tuhan sudah menuliskan sejak lahir di dalam kromosomku bahwa aku terlahir dengan rasa keingintahuan yang besar. Kadang aku tak mengerti bagaimana harus menyikapinya. Apakah aku harus menganggapnya sebagai anugerah ataukah kutukan?
Terkadang aku begitu bersyukur, menganggapnya sebuah anugerah karena ia mendorongku untuk terus banyak belajar dan mencari, namun terkadang ini juga bak kutukan tak kunjung usai. Bagaimana tidak? Kala aku berada pada level tertentu untuk mengetahui sesuatu yang sebelumnya tak kuketahui, maka terbuka pula di depanku ketidaktahuan – ketidaktahuan baru yang kuantitasnya naik secara eksponensial dari sebelumnya. Ketidaktahuan ini makin hari makin membuatku tak mengerti, mengapa manusia sepanjang hidup harus banyak menghabiskan waktu untuk sekedar mencari tahu jika toh pada puncak pencapaiannya, yang didapatinya adalah ketidaktahuan yang tak terhingga?
Bagi orang lain membaca mungkin adalah suatu tanda orang berilmu, tapi nyatanya tidak demikian, setidaknya menurutku. Aku gemar membaca, karena ia selalu mengalihkan perhatianku dari kegelisahan dan kesedihanku yang tersembunyi, kegelisahan yang setiap waktu muncul tiba – tiba dalam batinku, kegelisahan akan banyak hal seperti tentang Kimya misalnya.
Membaca bagiku seperti suatu tempat pelarian yang tersembunyi bagi seorang buronan yang dikejar – kejar akan masalah – masalah hidupnya. Ia sejenak memberikanku tempat perlindungan yang aman dari berbagai masalah yang ada. Mungkin benar, seseorang yang suka membaca mungkin akan mendapatkan beberapa manfaat akan sebuah informasi, namun bisa jadi seseorang suka membaca semata – mata bukan karena informasi yang bisa diperolehnya, namun karena ia adalah orang dengan sosok sama sepertiku — yang hanya sanggup melarikan dan mengasingkan dirinya dari masalah dan duduk di belakang kata – kata tanpa bisa melakukan apa-apa.
Tapi seberapa lama seorang buronan sanggup bersembunyi, kelak ia akan keluar dari tempat persembunyiannya. Entah cepat atau lambat tapi pasti. Untuk seorang buronan yang dikejar – kejar sepertiku, adzan shubuh yang menggema pagi itu menjadi penanda pelarian dan permainanku di dini hari itu telah usai dan saatnya menghadapi kembali kenyataan pahit.
Kenyataan pahit itu diawali dengan suara muadzin di masjid dekat rumah kosku yang menggema setiap fajar itu, ia melantunkan adzan dengan mentah dan hampir tanpa penggarapan yang memenuhi unsur estetika, sehingga seringkali adzan yang dikumandangkannya tergelincir sebagai “sebuah gangguan” bukannya seruan. “Harusnya ada semacam seleksi untuk para muadzin di tiap – tiap masjid, mereka yang memenuhi syarat estetika dan kemerduan pada tingkat tertentulah yang hanya diperbolehkan untuk mengumandangkan panggilan sholat di masjid.” Gerutuku dalam hati.
Usai menunaikan sholat shubuh, segera aku berganti pakaian, kali ini mengenakan kaos dan celana training. Setidaknya setiap pagi, seminggu tiga kali aku usahakan untuk jogging barang sebentar, entah itu satu atau dua kilometer, agar tubuhku jadi serasa bugar, dan bisa lebih bersemangat nanti di kala masuk kerja, pikirku.
Masih pukul 5.15 pagi kala itu, suasana memang masih gelap, aku berlari kecil melintasi jalan raya menuju ke sebuah pasar tradisional kemudian berbelok kiri melewati blok pertokoan, rumah makan, bengkel motor, dan minimarket yang berderet – deret, semuanya masih tutup, hanya menampakkan plang yang mencantumkan nama-nama toko yang tak terbaca jika tidak diterangi lampu neon di atasnya. Tak terkecuali juga warung – warung kecil, dan kios – kios penjaja rokok yang memakan hampir seluruh badan trotoar. Membuatku tak punya pilihan lain selain berlari di pinggiran jalan raya, dengan siap menanggung resiko disrempet kendaraan bermotor kapan saja. Untungnya saat itu masih pagi, sehingga tidak banyak kendaraan yang melintas.
Beberapa menit aku berlari kecil melintasi rute yang telah kurencanakan, tiba – tiba perhatianku tertuju pada kedai bunga yang dari kejauhan kuperhatikan sudah mulai buka, beberapa orang berkaos oblong sedang sibuk menyirami tanaman – tanaman dengan telaten dan memotong beberapa daunnya yang layu. Aku seperti melihat ada unsur sosok keindahan yang kukenal yang bersembunyi di setiap mekarnya bunga – bunga di kedai itu. Aku tak bisa memastikan keindahan itu bersembunyi di mana, apakah di kelopak bunganya yang memerah bagai pipi Kimya, ataukah di batang dan daun – daunnya yang hijau itu? Aku tak tahu. Yang jelas aku merasakannya, perasaan yang kembali mengingatkanku pada Kimya.
Perasaan aneh itu memunculkan niat hatiku untuk memesan bunga dan mengirimkan pada Kimya. Aku menghentikan lariku, dan berjalan mendatangi kedai yang berjarak hanya beberapa meter dari aku berdiri. Aku memandang di setiap sudutnya dipenuhi dengan beraneka tanaman hias dan bunga, entah yang bermekaran ataupun yang masih malu – malu dalam kuncupnya. Seorang laki – laki berusia sekitar 40an tahun sesaat kemudian muncul dari dalam kedai menghampiriku. Sepertinya ia adalah pemilik kedai ini, aku bisa melihat dari penampilannya juga bagaimana ia memberikan instruksi kepada orang – orang di sekitarnya – yang belakangan aku tahu adalah karyawannya.
“Pagi mas, ada yang bisa saya bantu? Sedang mencari bunga yang bagaimana?” Tanya orang itu kepadaku.
Aku sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu. Aku sendiri tak tahu bunga jenis apa yang sedang kucari. maka spontan saja aku utarakan bahwa aku ingin mengirim bunga kepada seorang gadis yang kusukai. Namun aku tak tahu bunga apa yang pantas untuknya.
“Oh kita punya banyak jenis bunga di sini mas, biasanya wanita paling suka dengan mawar, kita punya aneka macam mawar mulai dari cipanas, thalita, shananda.. ” Jawab bapak itu menjelaskan satu persatu koleksi yang dimilikinya sembari menunjukan bunga yang dimaksud. Jujur, aku tidak mengerti sama sekali tentang bunga, sama tak mengertinya aku tentang wanita. Aku hanya pura – pura menganggukan kepala, seolah – olah mengerti yang telah dibicarakan pemilik kedai bunga tadi.
Setelah berpikir dan kebingungan yang cukup lama, akhirnya tanganku menunjuk sebuah pohon kecil mawar rosmarun yang saat itu tergantung di dalam potnya. Aku tertarik pada rosmarun itu karena bapak pemilik kedai tadi sempat menyebutkan jika rosmarun memiliki wangi yang sangat harum di kala mekarnya. Tiba – tiba saja hatiku tergerak untuk memilih bunga itu untuk kuberikan pada Kimya.
“Pak tolong diantar ke alamat ini ya” Pintaku setelah menyeleseikan pembayaran, sembari menujukan sebuah alamat yang ada di ponselku.
“Mau ditulis dari siapa mas nama pengirimnya?” Tanya bapak penjual bunga seraya memegang sebuah buku yang berisi deretan panjang daftar pesanan. Aku berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan bapak tadi. Sebenarnya aku ingin sekali mencantumkan namaku saja, Aku ingin menujukan bahwa aku memiliki perhatian padanya. Namun ada perasaan khawatir di sisi lain, jika kemudian Kimya enggan menerima bunga itu hanya karena itu adalah pemberianku. Aku menjadi begitu tidak percaya diri. Maka kuputuskan saja menggunakan nama samaran, biarlah bunga ini diterimanya sebagai bunga adanya, tanpa embel – embel namaku di belakangnya.
“Tulis saja dari Proxima Centauri” Jawabku seraya menuliskan di sebuah kertas yang disediakan oleh si tukang bunga. Aku juga menuliskan secarik pesan yang nantinya disertakan pada bunga itu, semoga Kimya membacanya :
Kimya, mawar yang kini mekar
Menebar wanginya ke sekeliling
Menengadahkan dirinya pada langit
Keindahan sementara kelak layu
Semua yang dipetik kelak mengering dan mati
Keindahan ada pada kehidupan.
Dan kehidupan ada di balik penjagaan,
Bersambung

