Tulisan ini saya buat, di kampung halaman saya, Kediri, pada pagi dini hari 1 syawal di tahun 1436 Hijriah, atau 2015 menurut perhitungan kalender Masehi. Suara takbir menggema memenuhi udara pagi ini, haru bercampur syahdu. Keharuan yang memuat kesedihan, sekaligus kegembiraan, yang entah bagaimana sulit untuk saya tuliskan.
Takbir yang kita pekikan tepat di hari kemenangan, kemenangan melawan siapa? Para ustadz – ustadz sering mengatakan kemenangan melawan nafsu kita sendiri. Ini kemenangan mereka yang berpuasa sebulan penuh.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Hanya Allah Yang Maha Akbar, maka selain Allah tidak Akbar. termasuk diriku, dirimu dan lain segalannya di dunia tidak akbar, maka bagaimana mungkin selain Allah bisa merisaukan kita, jika telah dikumandangkan dalam lubuh batin kita bahwasannya hanya Allah Yang Akbar.
Bahwasannya kemenangan kita melawan nafsu, sejatinya bukan kemenangan atas usaha kita sendiri, kita tidak akan bisa menang jika itu bukan karena Allah. Karena itulah kita kumandangkan takbir, entah itu dengan suara lirih di dalam hati kesadaran kita, atau kita gemakan di surau – surau dan masjid – masjid.
Laillahaillah Hu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamdu
Tidak ada Tuhan Selain Allah, Allah Maha Akbar. Segala puji hanyalah milikNya
Maka kita benar – benar meyakini bahwa sebuah kemenangan hanyalah ada atas izin Allah, dan tidak ada yang patut untuk dipuji untuk suatu kemenangan selain Allah itu sendiri. Mungkin itulah puncak dari Ibadah dari seorang abd (hamba). Seorang abd’ tidak memiliki kemungkinan lain selain melarutkan eksistensi dirinya dalam Kemahabesaran Allah. Maka tidak ada yang patut dipuji dari seorang hamba, selain Allah.
Seorang abd hanya diwajibkan oleh Allah untuk berusaha menjalani laku perjuangan “revolusioner”nya dalam puasa. Saya menyebutnya revolusioner, karena dalam puasa engkau dilarang “menyentuh” makanan dan minuman meskipun itu halal bagimu pada suatu rentang waktu tertentu, dari awal fajar hingga tiba waktu maghrib.
Hingga kemudian Allah mendeklarasikan padamu tiba saatnya kemenangan, yang kemudian kita sadari bahwa itu bukan kemenangan atas usaha kita sendiri, namun itulah kemenangan atas bantuan Ke-Mahabesar-an Allah, maka adakah yang patut dipuji selain Dia.
Saya teringat dengan yang dikatakan Musa a.s saat di laut merah kala ia dan kaum bani israil terjepit dan akan disusul oleh pasukan Firaun
“Inna maiya rabbi sayahdiin”
Sesunggunya Aku bersama Tuhan yang memberiku petunjuk
Maka kemudian turunlah perintah Allah, agar Musa memukulkan tongkatnya ke Laut Merah, hingga beberapa saat kemudian, terbelahlah laut Merah itu.
Kemudian pertanyaannya adalah, apakah pukulan tongkat itu yang membelah laut merah, ataukah Allah yang membelahnya?
Perjuangan seorang abd hanya ibarat tongkat musa yang dipukulkan ke laut merah, Musa hanya mematuhi perintah Allah untuk memukulkan tongkat itu. Namun tongkat itu tidak akan menghasilkan apapun alih – alih membelah laut. Yang membelah laut Merah bukanlah tongkat, bukan pula Musa, tapi adalah kebesaran Allah. Maka hanya Allah satu satunya dzat yang patut dan berhak kita puji.
Ramadhan telah mengajari manusia dungu seperti kita tentang apa itu kemenangan, bahwa kemenangan bukan sama sekali tentang kemenangan atas orang lain, bahkan bukan kemenangan umat islam atas umat yang lain, karena islam diturunkan bukan untuk kekuasaan satu pihak atas pihak lain, bukan untuk ngendas-ngendasi, melainkan untuk menjadi Rahmat bagi semesta Alam. Kemenangan sejati yang telah kita pelajari dari Ramadhan adalah kemenangan atas nafsu kita sendiri. Bahwa kita bisa mampu lebih besar dari kesenangan kita sendiri
Setelah kita tuntas melakoni untuk berpuasa dari makanan dan minuman, maka di bulan syawal dan bulan – bulan berikutnya, kita harus melangkah ke tangga peningkatan (sebagaimana bulan syawal sendiri yang artinya bulan peningkatan), dimana kita harus bisa mulai menyicil aktualisasi puasa dalam kehidupan yang lebih kontekstual sifatnya, berjuang untuk membatasi diri dari nafsu ingin membeli hal – hal yang kurang bermanfaat misalnya, berjuang untuk hanya melakukan hal yang paling “islami” saja di antara seribu kemungkinan di hadapan mata kita. Sebuah Kesanggupan untuk menjalani hidup ini tidak terutama berdasarkan senang atau tidak senang, tetapi berdasarkan suatu pertimbangan tentang baik atau tidak baik, wajib atau tidak wajib.
Ah, tidak terasa sudah waktu shubuh yang mengantarkan kalimat – kalimat saya ini berakhir di sini.
Selamat beridul Fitri dan menegakan kembali kualitas kemanusiaan kita.
Laisal ‘idu liman labisal jadid, walakinnal idu liman tha’atahu tazid.
Idul Fitri bukan milik orang yang berpakaian baru, melainkan milik hamba Allah yang kepatuhan ilahiahnya menyubur.