Perenungan

Meramadhankan Diri

A_Dark_Starry_Night_Wallpaper_by_s3vendays_thumb.jpgRamadhan penuh keharuan, kesunyian, kotemplasi, perenungan. Ramadhan membuat kita menepi sejenak, mengkhilafi setiap kesalahan, memperbarui setiap sel rohani kita, yang menua, melapuk oleh kotoran. Berlapar – lapar sebulan penuh, menghidupkan sepertiga malam, dalam hubungan intim denganNya, mengembalikan hakikat kehambaan pada Tuhan. Belajar kembali tentang ketulusan dari puasa. Menyadari kembali bahwa sisi terbaik dari seorang manusia adalah ketulusan hatinya, perbuatan baiknya kepada sesamanya yang tidak pernah dilihat orang lain.

Ramadhan kita jalani sebulan, bukan untuk sekedar ngisi buku absen, bukan hanya ibadah ritual simbolisme belaka untuk sekedar menggugurkan kewajiban. Namun ramadhan lebih dari itu. Ramadhan kita lalui untuk melatih dan membangun kepribadian ramadhan dalam diri kita. Sehingga prinsip – prinsip puasa, menjadi pedoman kita dalam berjalan, bersikap dan mengambil keputusan.

Di bulan Ramadhan Allah menurunkan Al Quran kepada rasulNya, Muhammad s.a.w, maka membangun kepribadian Ramadhan berarti membuat diri kita  menjadi manusia yang kompatibel dengan ayat – ayatNya. Sehingga ayat – ayat Allah itu sanggup tanazul  sesuai kadar kompatibilitas Sistem Operasi ruhani kita. Ramadhan adalah tungku perapian yang memisahkan logam dengan kotorannya, yang membuat pelakunya sampai  pada kondisi fitri, keadaan suci yang mebuat  nilai-nilai Al Quran dapat meresap ke dalam ubun – ubun kesadaran. Karena Allah sendiri telah berfirman

لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ المُطَهَّرُوْنَ

Tidak  menyentuhnya, kecuali orang – orang yang telah disucikan

Maka ketika Ramadhan akan berlalu, kita benar – benar sedih akan melewatkannya, namun kita juga sadar bukan ramadhan yang kita rindukan atau cintai, karena ramadhan hanyalah jembatan untuk yang sesungguhnya dan berhak untuk kita rindui, yakni Allah SWT. Karena itu, meski ramadhan akan beranjak pergi, jangan sampai kerinduan kepada Allah juga hilang. Oleh karena itu kita bangun jembatan – jembatan lain menujuNya, kita bangun “ramadhan – ramadhan” lain di sebelas  bulan sisanya. Memang Ramadhan adalah bulan yang suci, karena itu siapapun yang menggunakan prinsip puasa dalam hidupnya, me-ramadhan-kan dirinya, ia akan memasuki kesucian di bulan apapun, siang ataupun malam

Tagged

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.