Bingkai Kata

Kereta Terakhir

Jarum jam dinding di stasiun berputar pelan menuju angka Sebelas. Sebentar lagi kereta komuterline terakhir untuk malam ini tiba. Namun stasiun masih belum juga sepi,  seakan masih enggan untuk beranjak tidur meski malam sudah larut. Menemani hilir mudik mereka  yang bergegas pulang malam itu. Setiap penumpang yang menunggu kereta terakhir, sudah pasti dalam kondisi kelelahan, setelah seharian berjuang menjalani hidupnya yang beraneka ragam.

Masing – masing mereka pasti memiliki kisah dan  cerita yang tidak pernah diketahui oleh orang lain. Kita memang tidak pernah mampu untuk mengetahuinya selain menumpuk prasangka – prasangka. Setiap mereka adalah tokoh utama dalam sebuah drama panjang yang sedang dijalani. Dengan masalah dan kesulitan yang silih berganti berupaya mendewasakan masing – masing dari mereka.

Diantaranya ada yang berprofesi sebagai karyawan kantoran yang malam ini harus lembur  karena mengejar target yang tidak masuk akal dari si bos. Ada juga petugas cleaning service yang baru bisa pulang setelah kantor di tempatnya berkerja tutup. Ia harus bergegas pulang dan beristirahat untuk kemudian harus datang keesokan pagi harinya. Ada juga penjaga toko di pusat perbelanjaan, dengan mata yang nampak mengantuk namun masih harus kuat berdiri dengan dengan sesekali memainkan gem di gawai dalam genggamannya

Diantara sekian banyak orang yang menunggu kereta yang menjemputnya pulang, saya mengenali seseorang yang sedang duduk di di peron stasiun. Tanaka namanya, namun raut mukanya terlihat gelisah. Biasanya ia tidak pulang selarut ini.  Ia harus rela lembur, dengan sedikit kompensasi, guna menyeleseikan tenggat pekerjaan yang harus selesei malam itu. Apakah itu yang membuatnya segelisah ini?  Namun sepertinya  bukan.

Apakah mungkin masalah cinta? Ya, mungkin saja. Apalagi yang membuat seorang pemuda menjadi gelisah selain masalah satu itu. Memang ia  bukan remaja lagi. Ya tapi galau tidak hanya milik remaja. Ia juga milik segala usia. Ia adalah pelengkap penderita jika kau mengalami masalah asmara tidak perduli berapa tahun kelahiranmu. Cinta selalu membuat seseorang menjadi kanak – kanak.

Siapapun yang memperhatikannya dengan seksama akan menyadari kegelisahan yang menggangu pikirannya, sesekali ia melihat gawai yang tersimpan di sakunya. Berkali – kali melihat  WhatsApp, sepertinya pemuda kita ini, menuggu balasan pesan dari seorang perempuan. Mungkin, ia gelisah karena pesan WhatsApp, yang sudah berstatus delivered itu  tak kunjung dibaca, bahkan dibalas, meskipun perempuan itu berkali – kali menunjukan catatan jika dia sedang online. “Mungkin dia sibuk? Ah tidak ada yang sebenarnya benar – benar sibuk, masalahnya hanya pada kita berada di prioritas berapa. Mungkin saja dia lagi chatting  dengan  cowok lain? Tunangannya barangkali? Atau gebetan baru yang lebih ganteng, baik, bertanggung jawab, sholeh, ciri khas idaman perempuan jaman sekarang”. Gumam hatinya.

Tanaka, anak dari keluarga biasa saja, dia baik memang, seorang pekerja keras. menjadi penjaga toko hingga sekarang, karyawan kantoran, pernah ia lakoni. Namun mengenai apakah dia laki – laki bertanggung jawab atau tidak, dia harus menikah terlebih dahulu untuk membuktikannya. Mengenai kadar kesholehan, hanya Tuhan yang bisa menilai, bukan? Apesnya, pemuda seperti ini pastilah luput di pandangan kaum hawa.

Memang sih Di dalam dunia teknologi informasi yang serba canggih sekarang.  tanda terkirim namun belum dibalas, bahkan dibaca meskipun si tujuan sedang online, menimbulkan perasaan terabaikan bagi si pengirim. Terlebih jika pengirim memiliki harapan lebih terhadap percakapan online yang sedang dibangun. Merasa diabaikan memang tidak enak. Elie Wiesel, seorang pemikir dan peraih Nobel Perdamaian, pernah mengatakan: “Lawannya cinta bukanlah benci, melainkan perasaan diabaikan.”

Siapa sih perempuan yang sedang membuatnya segelisah itu? Saya sendiri juga belum mengenalnya. Dia begitu merahasiakan masalah satu itu. Tapi tentu pastilah ia istimewa, hingga membuat pemuda kita, seperti itu. Memang sih, perempuan itu jenis cipataan Tuhan yang rumit.  Sebegitu rumitnya, sampai – sampai Ibnu Arabi, seorang sufi, pernah berkata bahwa “perempuan adalah bayang – bayang Tuhan di muka bumi”. Mungkin karena perasaan mereka tidak pernah terjangkau oleh laki – laki. Terlebih oleh pria seperti Tanaka.

Tapi jangan dipikir hanya laki – laki saja yang menderita karena masalah cinta. perempuan juga tak kalah bermasalahnya dengan ini. Entah hukum kodrat darimana, bahwa perempuan dilarang untuk bersikap agresif kepada laki – laki. Dia harus menunggu hingga si lelaki  menyadari perasaannya. Perempuan hanya bisa merindu, dan menyimpan rasa itu, sampai Tuhan menggerakan kaki – kaki sang lelaki idaman untuk mengetuk pintu rumahnya.

Tanaka bukan tidak ingin mendatangi rumah perempuan yang hatinya mencintainya itu. Ia pernah mengutarakan keinginan tersebut, namun sepertinya si gadis belum cukup siap, atau belum cukup mengenal dan mencintai Tanaka. Atau mungkin ia sedang meperbandingkannya dengan lelaki yang lain. Hanya Tuhan yang tahu misteri macam apa dibalik ini semua.

Tanaka begitu lugunya mengenai wanita, dan di usianya yang sekarang tetap saja tidak begitu pandai menghadapi masalah semacam ini. Ia belum menyadari bahwa terutama yang lebih penting  dari mencintai adalah kesiapan untuk merelakannya.

Terlalu mencintai segala sesuatu memang tidak pernah baik. seperti menggegam pasir. Terlalu erat kau mengenggamnya, maka semakin ia terlepas. Di dalam rasa cinta yang menggebu itu,  haruslah tetap disiapkan kemungkinan untuk sanggup merasa kehilangan. Karena toh pada akhirnya, yang bisa dimiliki manusia hanyalah kehilangan.

Memang sih kehilangan itu  menyakitkan, terlebih jika itu adalah orang yang begitu dicintai. Mungkin seperti itulah  yang  juga dirasakan oleh inti- inti  atom saat menemukan  proton-proton penyusun intinya terlepas. Kehilangan proton dalam suatu unsur akan mengakibatkan nomer atom unsur itu berubah dan itu sama dengan ia telah  menjadi unsur yang lain. Sebagaimana Polonium-210 yang berubah menjadi Timbal, karena kehilangan 2 proton dari dalam intinya.“

Rasa kehilangan akan membuat siapa yang mengalaminya, layaknya Polonium-210, akan bertransformasi menjadi sesuatu yang lain. Mungkin itu  bisa lebih stabil, layaknya timbal,  dalam menempuh perjalanan sisa umur paruhnya. Perlahan tapi pasti, layaknya unsur radioaktif,  kita juga akan kelak habis meluruh dalam ingatan setiap orang.

Tapi rasa kehilangan juga sanggup menguak tabir sebenarnya dari sesuatu yang sebelumnya tidak disadari.  Seiring dengan waktu, kehilangan,  akan menempatkan seseorang pada suatu jarak, sehingga membuatnya lebih obyektif dalam menilai . Manusia semacam kita memang seringkali baru merasakan pentingnya sesuatu saat sesuatu itu tak ada. Sehat baru dirasakan nikmatnya dikala sakit. Dan memang, terkadang kehilangan adalah bentuk kehadiran yang lebih terasa.

Kegelisahan yang dialami Tanaka tiba – tiba terhenti, kala kereta terakhir, yang ditunggunya datang. Ia langsung memasukan kembali gawainya ke dalam saku. Masih dengan status pesan delivered yang belum terbalas. Tanaka, kemudian menyatu kedalam kerumunan dan masuk ke kereta yang kemudian melaju seperti waktu,  tidak pernah perduli apa yang sedang terjadi pada manusia fana seperti Tanaka.

 

Tagged ,

1 thought on “Kereta Terakhir

  1. “Karena toh pada akhirnya, yang bisa dimiliki manusia hanyalah kehilangan.”
    Kutipan yang sangat mengena di hati saya, mas. Setelah dipikirkan ya memang akhirnya kita harus mau tidak mau, siap tidak siap akan melepaskan semuanya. Merasakan kehilangan berulang kali karena tidak ada yang abadi di dunia ini.

    “Manusia semacam kita memang seringkali baru merasakan pentingnya sesuatu saat sesuatu itu tak ada. Sehat baru dirasakan nikmatnya dikala sakit. Dan memang, terkadang kehilangan adalah bentuk kehadiran yang lebih terasa.”
    Miris memang, namun begitulah kenyataannya. Disaat kita memilikinya, valuenya jadi berkurang dibanding saat kita belum atau sudah tidak memilikinya lagi. Bodoh memang, tapi diulangi terus kebodohan itu sepanjang hidup.

    Ditunggu cerita2 inspiratif lainnya, mas Ted

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.