Novel

Proxima Centauri (Bagian ke – 8)

wpid-img_20150419_221828.jpgPandanganku terpaku pada jalanan melalui sebuah jendela bus yang kami tumpangi, menyaksikan pemandangan lalulintas Yogya yang makin siang, semakin dipenuhi oleh  kendaraan bermotor. Beberapa diantaranya mungkin adalah mahasiswa yang hendak berangkat kuliah, beberapa lagi bisa jadi memang warga asli sini, tapi tak kalah banyak juga kendaraan dengan platnomer luar kota  yang membanjiri .

Aku dan Kiran sedang berada di sebuah bus yang melaju menuju Magelang. Bus ini akan melewati desa dimana nenek Kiran tinggal. Sebenarnya kami sudah berniat hendak  mencharter mobil saja melalui jasa biro perjalanan, selain cepat sampai juga tidak perlu terlalu payah, meskipun dari sisi ongkos akan relatif mahal. Tapi sayang, semua mobil yang disewakan hari ini sudah sudah full booking.

Daripada mesti mencari dari satu biro perjalanan ke biro perjalanan yang lain. Akhirnya aku dan Kiran memutuskan menggunakan alternatif yang kedua, seperti yang bulik beritahukan pada kami sebelumnya, yaitu dengan menggunakan sebuah bus kecil jurusan Magelang yang berangkat dari terminal Giwangan. Meskipun tentu waktu yang diperlukan akan jauh lebih lama untuk tiba di tujuan, bus akan lebih sering ngetem, untuk mencari penumpang, pikirku. Namun meskipun begitu kuperhatikan Kiran hari ini tampak begitu ceria, meskipun matahari begitu terik siang ini. Mungkin ia gembira karena sebentar lagi bertemu dengan kakek neneknya, tebakku.

“Bulikmu baik banget ya orangnya, ramah, sampai aku dibawain macam – macam nih” Kiran berbicara tentang bulikku dengan nada yang begitu gembira.

” Yaah.. bulik tuh orangnya gitu.”

“Gitu gimana?” tanya Kiran penasaran

“Ya gitu gitu”

“Gitu gitu gimana?” tanyanya lagi.

“Ya begitu, tadikan kamu ngasih oleh – oleh ke bulik, nah bulik tuh… jika ada seorang tamu yang memberinya sesuatu maka ia akan berterimakasih dan merasa berhutangbudi, saking berterimakasihnya, sehingga tidak ada yang lain dipikiran bulik selain bagaimana ia juga bisa membalas kebaikan orang yang memberinya. Akhirnya ya apa adanya yang ada di rumah diberikan,  entah hasil kebun belakang rumah,  hasil sawah, ya apa saja asalkan jangan sampai tamunya pulang dengan tangan kosong”

“Banyak orang di pelosok desa yang sedang kita lalui sekarang ini, juga berprinsip sama seperti bulik. Ia tidak mau hanya sekedar menerima pemberian orang lain, seakan – akan di hati dan pikirannya ada sebuah perlombaan siapa yang memberi paling banyak dia paling menang”

“Tentu itu akan sangat njomplang kan jika dibenturkan dengan teori ekonomi perkotaan. Anak – anak sekolah sejak lama dicekoki dengan teori ekonomi Adam Smith. Bagaimana caranya dengan modal yang sedikit – dikitnya bisa didapatkan laba yang sebesar-besarnya. Teori “curang” semacam itulah yang membuat manusia menjadi bermental miskin, hanya mau menerima, hanya mencari barang gratisan, namun begitu berat hatinya untuk memberi  orang lain. Sedangkan sebaliknya orang – orang macam bulik, meskipun hidup sederhana, bahkan bisa dibilang kurang jika dilihat dari ukuran orang kota. Namun coba kau tanya apa yang diinginkan bulik, pasti beliau menjawab bahwa ia tidak butuh apa – apa lagi. Asalkan besok masih bisa makan. Kaya itu bahasa arabnya adalah ghoni artinya “tidak membutuhkan”. Semakin orang merasa butuh hakikatnya ia semakin miskin bukan  kaya.”

“Jika kamu perhatikan sepanjang jalan ini, begitu banyak orang – orang yang sepuh umurnya  masih terlihat sehat dan masih sanggup membawa kayu bakar di punggungnya. Aku heran, mengapa banyak orang yang ada di pelosok desa ini berumur panjang – panjang   Padahal dari segi teori kesehatan moderen manapun, hidupnya tidak memenuhi satupun standar hidup sehat.”

“Terlepas bahwa hidup mati adalah takdir Tuhan. Mungkin  kuncinya ada pada prinsip hidup mereka. Sudah sejak lama, orang – orang  ini memiliki prinsip nerimo ing pandum, merasa cukup dengan apa saja yang diberikan Tuhan. Mereka memandang rejeki itu adalah pemberian, bukan sesuatu yang dikejar mati-matian seperti halnya yang dilakukan orang kota. Namun itu tidak berarti orang – orang desa ini malas-malas, malah mereka lebih rajin dibandingkan orang perkotaan. Karena menurut pandangan mereka kerja itu bukan untuk mencari laba, namun untuk menetapi kodrat kehidupannya dari sang Pencipta.”

Mendengarku bercerita panjang lebar, tiba – tiba Kiran tersenyum, namun kali ini seperti hendak menahan tawanya, meski akhirnya tak bisa ditahannya juga “Kamu tuh ya.. aku tuh sedang ngomongin bulik eh kamu malah cerita macem – macem sampai teori ekonomi Adam Smith.”

“Ya kita kan kalo melihat sesuatu jangan berhenti di sesuatu itu” Aku berusaha membela diri dan menjelaskan pada Kiran.

“Berhenti bagaimana maksudmu?”

“Ya misalkan kita berbicara tentang warna merah, maka kita harus juga berbicara mengapa warna merah itu ada. Mulai dari frekuensi spektrum gelombang warna merah, bagaimana ia bisa sampai ke mata kita dan bagaimana kemudian  otak kita menafsirkan itu sebagai merah.”

Kiranpun tertawa lagi mendengarnya, malah kali ini lebih lepas dari sebelumnya, meskipun sebisa mungkin ia tahan karena ia sadar sedang berada di tempat umum. “Lha malah ketawa lagi”, sahutku heran.

Nggak kok, lucu aja kalo dengar kamu ngomong seperti itu”. Jawab Kiran sambil tak henti – hentinya tertawa,  merasa ditertawakan aku bingung harus bicara apa lagi. Entah mengapa  aku merasa ikut terhibur mendengar suara tawanya itu.”

“Lho kok gak dilanjutin lagi” tanya Kiran, setelah  sadar aku tiba – tiba berhenti berbicara.

“Nggak tau mau bicara apa lagi, diketawain terus sih.” Jawabku dengan nada bercanda sembari pura – pura memasang wajah dingin.

“Yah kok udahan, ayo cerita lagi dong!” Rajuk Kiran masih dengan tawanya, sembari menyenggol pundakku dengan pundaknya.

***

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, bus yang kami tumpangi tiba di sebuah terminal kecil, tertulis di sana sebuah nama terminal seperti yang sebelumnya telah ditunjukan bulik kepadaku. Menurut bulik, dari sana kami tinggal berjalan kaki beberapa ratus meter ke arah timur. Setelah yakin kami tiba di terminal yang dimaksud, aku dan Kiran turun dari bus, lalu berjalan kaki ke arah yang telah diisyaratakan bulik sebelumnya.

Kami berjalan kaki menyusuri sebuah jalan kecil beraspal dengan lebar sekitar 2 meter. Di kanan kiri jalan terdapat sebuah parit yang digunakan masyarakat sebagai saluran irigasi untuk mengairi sawah miliknya. Suara gemericik air jernih dari sungai terdengar samar – samar bagaikan alunan orkestra musik yang mendinginkan hati. Hanya ada beberapa kendaraan motor yang lalu lalang melintasi jalan yang kami lewati. Begitu damai dan tenang. Sepanjang mata memandang  terhampar tanaman padi yang daunnya sudah mulai menguning, dengan latar belakang  pemandangan gunung Merapi nan berdiri gagah di sebelah utara. Orang – orang yang sedang berpapasan dengan kami, dengan ramahnya tersenyum sembari sedikit membungkukkan kepala, sebuah tanda keramahan dan kesopanan bagi masyarakat jawa. Kami pun membalasnya dengan senyuman dan bungkuk kepala yang serupa. Pemandangan yang sulit dijumpai – jika tidak ingin dikatakan mustahil bisa terjadi di jakarta.

Nampaknya Kiran perlahan sudah mulai ingat dengan daerah yang kami lalui ini. Tidak ada banyak yang berubah, katanya, meski sudah belasan tahun yang lalu. Sepertinya pembangunan hanya menyentuh sedikit desa ini. Yang berbeda hanyalah jalan ini sekarang sudah beraspal, dan beberapa rumah penduduk yang sudah lebih bagus dari sebelumnya. Sepanjang jalan Kiran mengingat – mengingat saat  dulu ia bermain ke rumah kakek neneknya.

“Disitu tempatku mencari belut bersama kakek” Kenang Kiran sembari jari telunjuknya mengarah pada sepetak sawah tak jauh dari tempat kami berdiri.

Setelah beberapa menit kami berjalan kaki, aku tiba di sebuah rumah di kanan jalan. Nampak di depan seorang wanita yang sudah cukup sepuh sibuk menganyam daun pandan yang sudah dikeringkan. Kiranpun menghampiri nenek itu kemudian memanggilnya “Eyang” lalu sungkem kepadanya. Ternyata itu adalah Nenek Kiran, namanya Eyang Sumi. Sepertinya Eyang Sumi berusia berkisar 70an tahun, mungkin bisa lebih. Aku memang tidak terlalu pandai menebak usia seseorang. Namun meski di usianya yang sudah  relatif senja, eyang Sumi masih nampak bugar dan sehat. Berbeda sekali dengan orang perkotaan yang seusia itu pasti sudah menghabiskan berbungkus – bungkus obat dari rumah sakit.

Beberapa saat kemudian, seorang laki – laki sepuh dengan rambut putih keluar dari dalam rumah. Ia adalah Kakek Kiran namanya Eyang Pardjo, seorang veteran pada masa Perang kemerdekaan, aku bisa mengetahuinya karena Kiran sempat bercerita padaku tentang mereka saat di perjalanan.

Sambutan kakek dan nenek Kiran begitu hangat padaku. Setelah dikenalkan oleh Kiran, aku dipersilahkan masuk di ruang tamunya. Seperti halnya kebanyakan orang di desa umumnya, mereka selalu sudi merepot – repotkan diri ketika ada seorang tamu jauh datang. Menyuguhkan anekan makan, minum yang nampaknya sengaja baru disediakan ketika aku datang.

Setelah menikmati suguhan tuan rumah dan berbincang beberapa lama. Aku rasa sudah saatnya aku berpamitan kepada mereka, karena kupikir tugasku mengantarkan Kiran telah selesei. Kini saatnya mempersiapkan diri untuk kembali balik ke Jakarta. Namun sepertinya  eyang Sumi dan eyang Pardjo agak menahanku, bahkan ia sudah menyiapkan kamar untukku menginap semalam, ia menyarankan agar aku pulang besok pagi saja. Namun aku merasa  pekewuh untuk menerima tawaran mereka.  Akupun terpaksa berbohong merekayasa cerita, kalau aku bakal menginap di rumah bulik. Sepertinya sudah menjadi watakku, gampang ngerasa pekewuh untuk terlalu merepotkan siapapun.

Tak terkecuali Kiran,  ia ingin mengajakku untuk keluar sebentar ke suatu tempat, dimana ia pernah diajak ayahnya semasa kecil. Sebenarnya kali ini aku agak ngerasa tidak enak untuk menerima ajakannya itu, tapi Kiran kali ini setengah memaksa, dan berjanji hanya sebentar. Ya sudahlah tak apa pikirku, aku juga penasaran, dimana sih tempat itu

***

“Indah banget kan di sini!!”

Kiran berteriak gembira  sambil melepas pandangannya ke arah langit. Ini adalah tempat yang tadi Kiran bicarakan padaku. Sebuah  daerah dataran tinggi di lereng gunung Merapi. Tempat ia dulu pernah diajak oleh kedua orangtuanya semasa kecil. Tempat ini tidak jauh memang dari rumah nenek Kiran, cukup beberapa menit perjalanan menggunakan sepeda motor.

Aku melihatnya raut muka Kiran begitu ceria ketika tiba di sini, keceriaan yang sama yang kutemui semasa kita dulu masih duduk di sekolah dasar. Keceriaan yang bahkan sulit kudapatkan lagi ada pada diriku. Raut muka yang begitu ceria seolah – olah tidak ada masalah yang menghampirinya. Raut muka yang begitu ceria yang seolah mengatakan padaku bahwa ia memiliki hati yang lebih besar dari seluruh masalah-masalahnya

Akupun menikmati keindahan pemandangan yang sedang kusaksikan. Hamparan pohon pinus hijau yang terbentanng, dengan beberapa warung di pinggir jalan yang menjual beberapa minuman dan jagung bakar. Karena sedari tadi haus, akupun berinisiatif untuk membeli minuman dari warung itu

“Aku pengen beli minum sebentar, di warung sana, kamu mau nitip nggak?” Tanyaku pada Kiran

“Boleh, Es kelapa ada nggak!”.

“Ya mudah – mudahan ada ya, kalo nggak, nanti aku panjat pohonnya” Jawabku dengan nada bercanda, sembari berlari menuju warung tersebut. Selang beberapa menit, aku kembali menemui Kiran, namun ia tidak berada di tempatnya. Rupanya ia sedang duduk berteduh di sebuah gardu tak jauh dari tempatnya tadi. Entah ia sedang memikirkan apa, namun nampaknya begitu serius. Aku mendatanginya dan setengah berteriak kepadanya.

“Kiran, kamu sedang mikirin apa di situ? Ntar kesambet lho!!”

“Nggak mikirin apa  -apa kok.  Hanya duduk – duduk aja di sini.” Jawab Kiran, dengan nada datar.

“Ya sudah duduk-duduk saja di sana, aku juga ingin duduk – duduk disini” jawabku sembari menghampiri dan duduk di sebelahnya lalu memberikan es kelapa yang tadi dipesannya.

“Aku rindu dengan masa – masa kecil dulu, tidak ada beban, selalu ceria, tak ada patah hati, melakukan apapun yang disukai” Tiba – tiba Kiran bercerita, dengan tatapan matanya yang tertuju pada langit yang kini mulai menampakan kuning senjanya. Aku rasa Kiran sedang mengingat kejadian yang tidak mengenakkan dalam hidupnya, mungkin masalah patah hati, kecewa seperti yang sedang aku alami. Mungkin juga yang lain. Aku tak tahu pasti.”

“Ya, masa kecil memang menyenangkan.” Sahutku “Kita bisa bebas melakukan apa saja yang disukai bermain sepanjang siang dan malam. Namun seiring waktu  semakin banyak tanggung jawab yang harus kita pikul. Saat SD mulai disuruh belajar dan membatasi diri bermain, hingga sekarang ini, kita diwajibkan untuk bekerja dengan tanggung jawab yang makin banyak di tiap harinya. Seiring dengan waktu itu, kita tumbuh dan mulai mengenali batasan – batasan bahwa ada hal – hal yang semestinya tidak kita lakukan, meskipun itu disukai, dan hal – hal yang mesti kita kerjakan, meskipun itu tidak kita sukai”

“Namun, bukankah sesuatu yang kita sukai itu boleh jadi membahayakan? Begitu juga pada sesuatu yang kita benci, bisa jadi ia justru yang menyelamatkan. Kita tidak pernah tahu. Jikapun tahu, yang kita ketahui tak ada seujung kuku dari keseluruhan ilmu yang ada. Manusia hanya memiliki dua mata yang hanya mampu melihat frekuensi gelombang cahaya dari 790 hingga 400 terahertz. Sebuah nilai yang sangat kecil jika dibandingkan keseluruhan frekuensi gelombang elektromagnetik yang ada dan luput dari pandangan kita. Mulai dari spektrum sinar ultraviolet, sinar X, sinar gamma dan lain sebagainya.” Aku tersenyum pada Kiran yang duduk di sebelahku, kemudian melanjutkan perkataanku. “Karena itulah, tanda seseorang bisa disebut dewasa adalah ketika ia sanggup untuk melakukan sesuatu bukan terutama karena ia suka. Namun karena itu baik dan bermanfaat. Meskipun itu berarti ia harus menanggung banyak hal yang bahkan dibencinya sekalipun.”

Bersambung

Tagged ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.