
Minggu pertama telah hampir dilalui. Minggu pertama di tahun 2018. Semua yang serba pertama selalu membuat orang berkesan. Atau itu hanya subjektif kecengengan manusia saja? Tapi subjektifitas juga perlu. Selain manusia makhluk logika, dia juga berperasaan, karena itu manusia mengalami patah hati, kala apa yang diinginkan tidak sesuai dengan ekspektasi. Menerima penolakan dari seseorang yang diharapkan memberi balasan, sebagaimana perasaannya.
Patah hati itu baik, itu tanda bahwa cintamu sungguh – sungguh.
Pisau Abunawas
Dahulu kala, di jaman Daulah Bani Abbasiyah, hiduplah seorang sufi bernama Abunawas, yang syairnya sering dilantunkan oleh kalangan umat muslim kini.
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi
Namun bukan syair dari abunawas tersebut yang ingin saya ceritakan saat ini. Saya ingin bercerita tentang suatu kisah dimana abunawas ditangkap di jalanan kota Baghdad karena kedapatan membawa sebilah pisau,
Konon, suatu ketika, dikarenakan kondisi Baghdad yang rawan tindak kejahatan, memaksa pemerintahan membuat sebuah peraturan baru, dimana masyarakat dilarang membawa senjata tajam ke tempat umum, bahkan pisau dapur. Mendengar aturan kerajaan yang dirasanya tidak masuk akal, keesokan harinya Abunawas pergi ke jalanan umum hingga pasar dengan membawa-bawa pisau dapur di tangan kanannya. Sontak ia pun ditangkap aparat keamanan dan langsung dijadikan terdakwa dihadapkan di depan hakim.
Tanpa mau mendengarkan pembelaan Abunawas. Dengan bukti sebilah pisau di tangan. Hakim pun merasa cukup bukti, lalu menjatuhkan vonis kurungan penjara 1 bulan kepada Abunawas dikarenakan membawa senjata tajam di tempat publik, sehingga dikuatirkan melukai dan membunuh orang lain. Abunawas pun mengajukan banding ke khalifah. Di depan khalifah Harun Ar Rasyid, Abunawas memberikan eksepsinya bahwa ia rela dipenjara asalkan hakim yang memvonisnya juga ikut dipenjara bersamanya.
Harun Ar Rasyid heran mendengar pembelaan “lancang” Abu Nawas. Sang khalifah pun bertanya, mengapa kau minta hal yang tidak masuk akal seperti itu. Abunawas pun tersenyum lalu berujar,
Jika saya dinyatakan bersalah membawa pisau karena dikuatirkan melukai orang lain, maka dengan logika yang sama hakim yang memvonis saya juga patut dipenjara Yang Mulia, karena sang hakim juga membawa alat kelaminnya kemana – kemana, sehingga dikuatirkan memperkosa seorang perempuan.
Mendengar penjelasan Abunawas, sang khalifah tertawa terpingkal – pingkal, lalu membebaskan Abunawas dari hukuman dan membatalkan aturan yang dibuat pemerintahannya.
Man Behind The Gun
Seseorang memang tidak bisa divonis bersalah atas sebuah asumsi atau dugaan. Hanya dikarenakan Abunawas membawa pisau dapur, itu tidak serta merta menjadi klaim pembenaran ia akan melukai atau membunuh seseorang.
Bagi saya ada banyak hal yang amat menusuk hati dan menghantam akal sehat, tapi hampir semua orang, bahkan juga para ahli dan pemerintah, menyatakan bahwa semua baik-baik saja. Sungguh saya amat kesepian.
Emha Ainun Nadjib
Man behind the gun, pisau hanyalah alat, ia tidak punya kesalahan apa – apa. Yang bersalah adalah orang yang menggunakan alat tersebut. Pisau dapat digunakan untuk membunuh, ataupun memasak, sebuah logika dasar yang sesungguhnya sederhana, namun banyak dari kita gagal memahaminya kala diterapkan ke hal – hal yang bersifat kontekstual misalnya.
Dahulu, orang – orang yang ingin melakukan transaksi jual – beli haruslah bertatap muka di sebuah tempat yang telah disepakati bersama, yang diberinama pasar. Namun semenjak hadirnya internet, dan perkembangan teknologi yang semakin pesat akhir – akhir ini. Terjadilah disrupsi pola belanja konsumen. Kini pasar tidak lagi di dalam bentuk fisik, namun bisa juga sebagai sebuah platform atau aplikasi. Di indonesia sendiri banyak situs ecommerce dan marketplace besar bermunculan. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak uang yang berputar di situs – situs jual beli itu.
Namun di dunia yang serba digital tersebut, tentu masih ada, yang lebih merasa nyaman belanja dengan cara konvensional, langsung datang ke toko. Alasannya pun bermacam – macam. Biasanya takut ditipu, hingga kekuatiran akan kualitas produk yang dijual. Memang ada beberapa kasus penipuan dalam transaksi jual beli di Internet. Meskipun sebenarnya jika dikejar lagi, penipuan di pasar tradisional bukannya tidak pernah terjadi. Jangankan penipuan. Pengutil, copet, jambret juga ada, namun itu bukan berarti menjadi alasan pembenaran kita ngga mau lagi berbelanja di pasar.sebagaimana kata sebuah pepatah lama
Jika lumbung beras dimasuki tikus, tikusnya yang harusnya ditangkap. Bukan lumbungnya yang dibakar
E-commerce dan pasar tradisional adalah pisau, sedangkan faktor penentu apakah pisau tersebut bisa berakibat maslahat atau mudharat ada pada orang yang menggunakannya. Menjadi tidak adil misalnya jika semua pedagang online di internet dicap sebagai tukang tipu hanya karena ada satu dua kejadian penipuan jual beli online.Kuncinya ada pada sikap kita untuk selalu berhati – hati dan waspada.
Semisal jika seseorang berkenalan dengan orang lain melalui internet. Tidak serta merta orang yang baru dikenal itu adalah “orang nggak bener” hanya karena kita mengenalnya lewat internet. Kita harus lebih berhati – hati kala menilai manusia, jangan sampai melakukan judging berdasarkan prasangka. meng-abunawas-kan seseorang hanya karena ia kebetulan memegang pisau. Manusia bukan benda yang hanya bisa dilihat dari fisiknya, ada jutaan parameter kompleks yang tidak bisa dikenali hanya dengan cerita atau katanya.
Karakter manusia itu layaknya gunung es. Seseorang tidak bisa benar – benar mengenali orang lain. Yang dia lakukan hanyalah menumpuk – numpuk prasangka terhadap seseorang itu. Itulah mengapa sering ditemui fenomena, bahkan pada pasangan suami istri yang sudah cukup lama menikah, si istri sering berujar kaget karena ternyata ia baru mengetahui karakter pasangannya, yang mungkin dahulu disangkanya tidak seperti itu.
Dibutuhkan sikap kerendahatian dari kita untuk mau memahami, mendengarkan, berbicara dan bertatap muka. Sehingga bisa didapatkan gambaran singkat dari seseorang yang ingin dikenal. IPun seorang ahli psikologi memerlukan tatap muka dan wawancara terhadap seseorang untuk dapat memberikan penilaian dasar mengenai karakter seseorang.
Namun sepertinya, Abunawas masih beruntung, karena diberi kesempatan mengajukan banding ke khalifah Harun Ar Rasyid. Bertatap muka dengannya. Lalu memberikan pembelaan. Namun seberapa banyak Abunawas lain yang ada di sekitar kita, mungkin harus menerima nasibnya dipenjara oleh prasangka orang – orang hanya karena sebilah pisau. Atau jangan – jangan kita sendiri adalah abunawas?
“Hidup ini sendiri. Amat sendiri. Kita ini “sendiri”, karena anggapan kita tentang diri sendiri dan apa yang kita lakukan sering berbeda jauh dengan apa yang dianggap orang lain. Hidup ini sendiri. Hanya berdua dengan Allah. Tapi kelak jika tauhid sudah tercapai, tak lagi berdua, sebab tauhid itu artinya penyatuan. Hasil dari penyatuan adalah satu.”
~ Emha Ainun Nadjib