“Begitu ya?” Sahut Kiran. “Memang, waktu tak bisa dihentikan. Semuanya akan berubah, kita tidak akan bisa mempertahankan kenangan lalu untuk bisa menjadi kenyataan hari ini. Sejarah memang bisa saja berulang. Tapi waktu tidak pernah berputar. Senja hari ini akan selalu saja berbeda dengan senja kemarin, dan akan berlainan di esok hari.”
Sekilas aku memandang Kiran, lalu kembali mengalihkan pandanganku kearah langit yang kini sedang dipandangnya, “Ya, segalanya akan berubah Kiran. Termasuk aku dan kamu. Semua yang lahir dari inti bintang akan menua dan redup. Seperti inti Uranium yang kelak berakhir menjadi timbal, unsur nomer atom 82 dalam tabel periodik. Setiap dari manusia memiliki waktu paruhnya. Waktu yang mengambil separuh hidup kita, lalu ia datang kembali, mengambil separuh dari sisanya. Dari anak – anak kita tumbuh dewasa, dan perlahan seiring waktu, kita juga akan meluruh dalam kenangan.”
“Yang bisa isotop itu lakukan dalam peluruhannya hanya sekedar menetapi kodratnya untuk merelakan segala yang ada padanya terlepas, dari partikel alfa, beta hingga foton gamma yang selama ini dirangkulnya erat. Pada waktunya manusia juga harus merelakan tanggalnya semua yang telah diraihnya mati – matian, baik itu kekayaan, nama baik, gelar, atau jabatan. Semuanya mau tak mau, suka ataupun tak suka, mestilah dilepaskan, untuk kembali telanjang sebagaimana saat dilahirkan”
“Karena itulah dalam hidup, kerelaan adalah bekal terbaik manusia. Terlebih manusia sepertiku, yang hanya memiliki dua kaki yang begitu mudah untuk terpeleset. Kehidupan yang kualami ini bukan tentang memiliki sesuatu, namun mengenai bagaimana kita belajar untuk melepaskan sesuatu itu jika suatu saat waktu memintanya kembali”
“Melepaskan ya? Mungkin terdengar sederhana ya, tapi melepaskan selalu menyisakan kehilangan, atau memang mungkin aku yang masih lemah, tak memiliki bekal kerelaan seperti yang kamu bilang?” Kiran melanjutkan ucapannya, dengan dengan pandangan yang belum mau lepas dari langit senja yang kini dihiasi burung – burung yang beterbangan kembali ke sarangnya.” Dulu aku juga pernah mencintai seseorang laki – laki. Ia bernama Jarvi, kakak angkatanku semasa di Helsingin yliopisto. Seorang kakak angkatan yang begitu menyebalkan. Setiap kali aku berpapasan denganya di kampus, ia selalu saja menggodaku sampai terkadang membuatku kesal. Namun seiring waktu, entah mengapa ia menjadi sosok yang begitu baik, aku melihat dari senyumnya, dan perhatiannya yang diberikan padaku. Sampai di suatu malam, di sebuah kafe, ia mengatakan bahwa ia mencintaiku.” Kenang Kiran dengan senyumnya yang mengembang.
“Aku sempat agak terkejut dengannya, awalnya aku mengindahkan perasaan Jarvi. Aku masih bersikap dingin dan agak acuh padanya, seperti biasanya aku bersikap padanya. Meski kemudian, setelah sekian lama, sekian waktu ia masih tetap teguh dengan perhatian dan perasaannya itu padaku. Bagai air yang terus menetesi batu karang. Ia terus menetes, dan kelak akan melubangi batu. Sebagaimana hatiku yang mungkin mulai berlubang dan menyadari bahwa ternyata aku juga menaruh rasa yang sama. Namun sebisa mungkin perasaan itu aku tahan-tahan dan tepis-tepis. Wanita memang aneh ya, ia masih berkata tidak pada hal – hal yang sejatinya iya. dengan tujuan dan latar belakang yang kadang – kadang tidak jelas, seperti menguji ketangguhan hati si lelaki apakah ia benar – benar memperjuangkannya atau tidak.”
“Wanita memang terlalu angkuh sampai ia dibuat tersadar oleh waktu. Sampai waktu meniup peluit panjangnya jika semuanya sudah terlambat. Seperti juga diriku, yang bermain – main dengan waktu sampai” Kiran tiba – tiba menghentikan kalimatnya, seperti ada sesuatu yang berat yang tak bisa dikatakannya.
“Sampai apa” Akupun bertanya penasaran, karena ceritanya yang terputus itu.
“Sampai di suatu malam, aku bermimpi Jarvi menemuiku. Mimpi yang serasa nyata, Ia berdiri di depanku, dan dengan senyumnya yang penuh ketulusan tak berujung. Namun kulihat di wajahnya ada semacam kesedihan dan kesakitan, sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ia menghampiriku lalu memelukku. Aku rasakan pelukan hangat itu di sekujur tubuhku. Dalam pelukan itu, dengan nada sedih ia berbisik padaku, mengucapkan sebuah salam perpisahan. Dengan suara yang tenang, ia meminta maaf, karena mulai sekarang tak bisa menjagaku lagi. Aku hanya diam tak berkata – kata dalam pelukan dan bisikannya. Hingga kemudian tubuh yang memelukku itu lenyap menghilang berpadu dengan kabut malam”
“Di pagi harinya aku terbangun dengan pikiran yang dipenuhi dengan perasaan heran akan datangnya mimpi itu. Semalam aku tidak memikirkan Jarvi, mengapa ia datang di mimpiku, pikirku. Akupun mengacuhkan mimpi itu dan menganggapnya seperti bunga tidur biasa, hingga beberapa jam kemudian aku mendapat telepon dari temanku. Ia memberiku kabar bahwa kemarin tengah malam, Jarvi terlibat sebuah kecelakaan di jalan raya, Ia dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak bisa ditolong setelah pendarahan hebat yang ia derita”
“Berita itu bak petir yang menyambarku di siang bolong. Seluruh kakiku serasa lemas, tak bisa lagi menyangga tubuhku, aku hanya bisa menyangga tubuhku dengan duduk di sebuah kursi yang berada di dekatku. Tubuhku lemas menyesali hidupku. Menyesali tingkah laku bodohku. Menyesali sifatku yang kekanak- kanakan. Harusnya kujawab saja bahwa aku juga mencintainya juga sebagaimana ia mencintaiku. Namun sayang takdir berkata lain, Tuhan telah menghendakiku untuk meminum tetes empedu kehidupan. Apa dayaku selain memenuhi KehendakNya. Seperti katamu, kita bukanlah apa – apa di hadapanNya. Hanyalah atom – atom yang lemah dalam surga yang tak terbatas, kita hanya bisa berbakti dan pasrah kepada kehendakNya. Penyesalan memang tak pernah bisa membayar semua yang terjadi” Kiran mulai menurunkan pandangannya. Kini ia menundukan kepalanya. Aku melihat seperti ada sebuah penyesalan di sana.
“Investigasi kepolisian selanjutnya menyebutkan bahwa mobil yang dikendarai Jarvi terbalik setelah tertabrak sebuah truk yang melaju dari arah berlawanan. Truk itu melaju melebihi ambang batas kecepatan yang diperbolehkan, lalu mengalami bocor ban tiba – tiba, sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan menabrak mobil Jarvi” Mata Kiran kini mulai basah berkaca – kaca.
“im sorry to hear that Kiran”. Sahutku, tanda bahwa aku turut berduka dengan apa yang terjadi padanya. “Innalillahi wainnailaihirajiun” Secara refleks aku merangkul pundak Kiran agar ia tak terlalu bersedih. Aku tak tega lagi ia melanjutkan ceritanya. Aku kebingungan apa yang harus dilakukan oleh orang sepertiku jika di sebelahku ada seorang sahabat kecil yang sedang mengalami hal seperti ini. Tentu aku bukan berada pada kapasitas orang yang berhak menasehati Kiran dengan ungkapan ‘yang tabah ya!‘ dan ungkapan sejenisnya. Pengalaman hidup Kiran berbeda dengan pengalaman hidupku. Aku tidak pernah mengalami apa yang dia rasakan saat ini, kesedihannya, penyesalannya dan belum tentu mampu menanggung apa yang dia alami. Lantas ada hak apa aku menasehati seseorang agar tabah, sementara aku sendiri belum tentu sanggup mengalami hal serupa?
Maka kupikir yang terbaik yang bisa kulakukan hanyalah menemaninya, menjadi pendegar dan teman bicaranya yang baik. Aku mulai berpikir, mungkin itu salah satu alasan Kiran datang di Indonesia – di samping alasannya yang lain, yaitu untuk berusaha melupakan kisah penyesalannya yang terjadi di finlandia.
“its okay, kejadian itu sudah lama, nggak apa-apa kok” jawab Kiran seperti hendak menghibur dirinya, dengan suara yang seolah sengaja dibuat – buat tenang.” Akupun segera menyodorkan tisu yang kusimpan di tas yang kubawa. Ia mengambil beberapa lembar seraya mengucap terimakasih.
“Kamu sendiri, bagaimana perasaanmu dengan Kimya? Apakah masih tidak menentu seperti kemarin malam?” Kiran pun mengalihkan pembicaraanya padaku. Aku mulai mengehela nafas panjang, sebelum bisa menjawab pertanyaannya itu.
“Kamu tahu sendiri kan! Sampai kini aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku pada Kimya, mungkin perasaan yang ada ini bukanlah miliku, entah ia muncul dari mana. Seperti hujan yang diteteskan dari langit, jatuh ke bumi menumbuhkan berbagai aneka bunga berwarna. Namun kelak bunga akan layu pada waktunya, jika sampai usia mekarnya tiada seorang gadispun memetiknya.”
“Mungkin banyak orang menilaiku lemah. Aku bukannya tidak berusaha sama sekali, tapi sebagaimana pasir dalam genggaman tangan, semakin keras aku mencoba menggengamnya, semakin ia lepas dari genggamanku. Memang mungkin kedengarannya aneh, aku masih merindukan Kimya hingga detik ini. Entah mengapa, apakah aku orang yang teramat naif dan dungu, sudah jelas – jelas ia selalu berusaha menghindariku. Namun memang Cinta tak pernah masuk akal bagi manusia sampai ia merasakan sendiri apa itu Rindu. Dan, tetap ia tak nalar sampai kita sendiri mengalaminya.”
“Sepanjang hari aku merenungin nasehatmu di kereta kemarin malam. Sekarang aku juga belajar dari mentari yang kini menuju senja itu.” Aku terdiam sesaat. Kemudian mengalihkan pandanganku pada mentari yang memerah dan akan terbenam itu.
“Ia setia bersinar hingga detik ini, dan tak sekalipun hingga terbenamnya, ia ucapkan kepada bumi bahwa bumi berhutang budi pada dirinya. Mungkin seperti itulah bagiku Cinta yang menyinari kegelapan. Mungkin itulah yang harus manusia jalani, menjadi matahari yang menerangi. Seperti namamu kan? Kiran yang dalam bahasa sanskrit berarti Cahaya. Jadi kurasa, tujuan hidup kita tidak lain adalah menjadikan apapun yang kita punya, dan cinta yang kita miliki ini sebagai penerang. Minimal menerangi diri kita sendiri, dan juga diri teman – teman, dan sahabat kita” Aku tersenyum pada Kiran, hendak ingin menghiburnya
“Kamu tahu Kiran, sudah sejak lama mataku ini menderita rabun jauh, namun kuusahakan untuk tidak mengenakan kacamata. Kamu tahu apa sebabnya? Aku sengaja memelihara kelemahan ini untuk membuatku selalu ingat, agar sepanjang hidupku untuk tidak usah memandang hal – hal yang terlalu jauh yang tak dapat kugapai. Agar aku selalu belajar bagaimana menghargai apa yang ada di dekat dan disekelilingku. Agar aku terlatih mensyukuri apa – apa yang telah kumiliki terlebih dahulu sebelum menginginkan yang lainnya.”
“Orang – orang sering menasehatiku dengan kalimat bahwa hidup akan indah pada waktunya. Tapi aku pikir tidak ada bagian dalam hidup ini yang tak indah. Keindahan bukan berada fungsi waktu. Apakah ada satu saja ciptaan Tuhan di semesta ini yang tak indah? Tidak ada yang salah dari pagi, tiada yang berdosa dari siang ataupun malam. Keindahan ada pada bagaimana cara kita memandang pagi, siang, senja ataupun malam.”
“Yang kita pandang sebagai keburukan sebenarnya hanya keindahan yang belum dikupas kulitnya. Mungkin yang kita alami ini adalah bentukan kulit terluar, aku harus mengupasnya, hingga menemukan daging buahnya yang segar.”
Bersambung


