Perenungan, Sosial Politik

Logika Kulit Pisang

kulit-pisangBeberapa yang membaca tulisan saya sebelumnya tentang Ojek Nasibmu Kini,  berkomentar bahwa tulisan saya tersebut seakan memberikan justifikasi  akan tindakan intimadasi ataupun kekerasan yang akhir – akhir ini marak dilakukan tukang ojek tradisional. Meskipun jika anda membacanya dengan penuh pemahaman saya yakin anda akan mengetahui bahwa maksud saya tidaklah demikian.

Saya hanya hendak menyampaikan perimbangan pandangan, dari  suatu pandangan mainstream yang selama ini ada. Karena ada terlalu banyak kemungkinan yang ada di luar sana yang kita tidak tahu. Karena itu langkah yang paling tepat adalah berhati – hati dalam bersikap dan menilai. Manusia kecil seperti kita hanya mampu melihat satu potret kejadian yang diberitakan di media massa, terlepas entah informasi itu telah mengalami distorsi, pengurangan, penambahan, atau bahkan menggiring suatu opini.

Berangkat dari peristiwa intimidasi tukang ojek tradisional. Saya kembali menggarisbawahi dengan agak panjang. Bahwa suatu peristiwa itu tidak berdiri sendiri dalam proses sejarah. Ia bagian dari keseluruhan. Ia muncul dari suatu proses yang panjang. Karena itu saya harap kita tidak melihat suatu cerita hanya sepenggal tapi melihat sebab – sebab suatu proses dan kejadian itu terjadi.

Saya permisalkan seseorang pemuda pengangguran yang tertangkap maling ayam di kampung sebelah lalu ramai – ramai digiring ke kantor polsek. Kebanyakan kita berhenti hanya pada peristiwa pencurian itu. Mencuri itu dosa. Tindakan kriminal. Itu benar. Namun bukankah kita harus mengarifi dengan menarik benang kebelakang, mengapa orang itu mencuri? Karena dia kelaparan? Apa tetangga dan lingkungannya selama ini cuek dan tidak perduli padanya? Lalu mengapa ia tidak punya uang untuk membeli makan? Mungkin karena susahnya mencari lapangan pekerjaan. Bisa juga karena ada suatu proses pemiskinan dan pembodohan yang selama ini berlangsung di lingkungannya bertahun – tahun.

Maka moralitas seorang pencuri. Tidak berdiri sendiri dan seratus persen menjadi tanggung jawab pribadinya. Seorang sarjana, dengan pekerjaan tetap dan gaji lumayan, meskipun dengan moral yang sama dengan seorang maling tadi. Ia tidak akan mungkin melakukan tindakan bodoh seperti  si maling ayam itu lakukan. Sebab tingkat intelektualitas dan pengetahuan hidupnya telah membawa dirinya ke dalam suatu bentuk teknik pencurian yang lebih halus dan tak kentara.

Namun sayangnya hukum di negeri ini dan juga pola pikir kita kebanyakan, hanya memandang kerangka peristiwa selama beberapa detik yaitu momen dimana pemuda itu melakukan tindakan kriminal. Kita mengasumsikan bahwa tidak ada apa – apa yang berlangsung di belakang dan sebelum tindakan kriminal itu. Kita mengansumikan negara dalam keadaan baik – baik saja. Lingkungan sosialnya baik – baik saja. Tidak ada masalah yang terjadi sebelumnya. Kita sungguh memiliki kemalasan berpikir untuk melihat lebih lebar lagi ada apa yang terjadi dibalik peristiwa pencurian ayam itu? Cobalah mundur di satu jam sebelumnya? Atau satu bulan sebelumnya? Satu tahun sebelumnya? bahkan sepuluh tahun sebelumnya? Mungkin penilaian kita bisa lain jadinya.

Hidup tidaklah selinier segaris lurus yang kita kira. Dia memiliki lipatan – lipatan yang sulit kita mengerti. Terlalu banyak variabel yang ada. Untuk itulah dari waktu ke waktu kita harus berendah hati untuk terus belajar  akan banyak hal dan realitas. Sehingga kita sampai pada kesadaran objektif yang lepas dari asumsi – asumsi relatif itu .

Maka sungguh tidak bijak jika kita tidak hanya menghakimi seorang pelacur sebagai sampah masyarakat, tanpa melihat kondisi dan sistem tatanan sosial di sekitarnya yang menyebabkan seseorang perempuan dipaksa untuk melacur. Kita harus memiliki kerendahan hati dan kewaspadaan ekstra, jangan – jangan, kita ternyata salah satu roda – roda pendukung yang ikut berkontribusi terbentuknya suatu tatanan yang menyebabkan seseorang perempuan untuk melacur? Sialnya lagi kebudayaan kita cenderung kurang adil, hanya meletakan seorang perempuan tertentu dengan predikat pelacur. Padahal ada banyak praktik pelacuran lain di bidang politik, budaya, hukum, dan keilmuan.

Begitupun dengan tayangan – tayangan di televisi umpamanya yang membuat generasi muda kita rusak mental dan ruhaninya, sehingga memiliki kebiasaan hidup yang hedonis dan menjauhkan diri dari Allah. Lantas  apakah kemudian anak-anak itu yang paling besar menanggung dosa, ataukah produsen tayangan televisi itu akan lebih dimintai pertanggungjawaban oleh Allah?

Saya mengakhiri tulisan saya ini dengan logika sederhana. Jika ada seorang pejalan kaki yang tak berhati – hati lantas terpeleset akibat kulit pisang di jalan, apakah orang yang membuang kulit pisang lantas bisa bebas dari tanggung jawab?

Tagged , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.