“Kamu tahu nggak, mengapa akhir – akhir ini begitu banyak pasangan yang menikah namun kemudian rumah tangganya berantakan, bahkan banyak dari mereka yang berpisah, padahal-kan dulunya mereka berjanji sehidup semati?”
“Memang mengapa?” Aku bertanya balik pada Kiran.
“Mungkin kesalahan terbesarnya – yang mungkin juga bisa menjadi kesalahan kita – adalah karena mereka meniatkan pernikahan itu untuk mencari kebahagiaan. Disangkanya bahagia dapat diraih hanya dengan hidup bersama dengan seseorang yang dicintai itu. Hasilnya, sudah pasti kecewa, karena kebahagiaan yang ditunggu – tunggu tidak kunjung diperoleh.”
“Harusnya mereka yang sudah berkomitmen untuk saling mencintai adalah orang yang sudah bahagia hidupnya dan sudah selesei dengan masalah – masalah dirinya, sehingga ia siap untuk memberi dan berbagi kebahagiaan kepada orang yang dicintainya itu, bukan malah mencari.”
“Nah, jika kau terus – terusan bersedih seperti itu, kebahagiaan apa yang bisa kamu bagikan kepada Kimya?” Tanya Kiran sambil tersenyum padaku.
Aku tersentak dengan pertanyaan Kiran. Sebuah pertanyaan yang menyadarkanku akan banyak hal. Pertanyaan yang malah membuatku bertanya – tanya sendiri. Apakah cinta yang kualami ini tak lebih dari selfish love. Cinta yang berpengharapan. Mencintai karena berharap akan kebahagiaan yang kudapatkan jika hidup bersamanya. Lalu jika kebahagiaan yang kuharapkan tak kunjung datang, apakah cintaku akan masih sama atau berubah pula?
“Terimakasih ya sudah sudi mendengar ceritaku. Aku jadi menyadari banyak hal. Mereka yang mencintai haruslah orang yang paling pertama bahagia, sehingga dengan itu ia sudah siap lahir batinnya untuk berbagi kebahagiaannya dengan orang yang dicintainya” Jawabku sembari membalas senyum padanya.
“Nah begitu dong senyum. Iya, sama- sama mas ganteng. Lain kali cerita saja jika ada masalah, jangan dipendam mulu, nanti cepet tua lho” ledek Kiran padaku.
***
Fajar mulai menyingsing di langit menyambut kedatangan kereta api yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Tugu Yogyakarta. Aku dan Kiran bergegas turun dari kereta. Setelah ini kami harus melanjutkan perjalanan ke rumah nenek Kiran di Sleman, namun Kiran hanya punya alamat rumah neneknya sedangkan ia tak tahu transportasi umum apa yang digunakan ke sana. Untungnya aku ada bulik yang tinggal di sekitar sini. Jadi kami punya tempat transit untuk mencari informasi dan beristirahat sebentar sekaligus membersihkan diri.
Rumah bulik memang tak jauh dari stasiun Tugu, sekitar satu sampai dua kilometer, di sekitar daerah Wirobrajan. Aku dan Kiran menumpang becak untuk sampai ke rumah bulik. Pasti Kiran belum pernah merasakan transportasi tradisional yang satu ini, diantarkan oleh becak melintasi jalanan kota Yogyakarta yang masih lengang, dan menghirup sejuknya udara pagi Yogyakarta.
Sepanjang perjalanan aku bercerita kepada Kiran arti dan filosofi di balik masing – masing nama jalan yang kami lalui mulai dari jalan yang melewati Stasiun Tugu yaitu Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, Jalan Margo Mulyo hingga ke jalan Pangurakan yang menuju ke keraton Yogyakarta, meskipun jalan yang terakhir ini tidak kami lalui karena becak yang kami tumpangi harus berbelok ke kiri.
Menurut cerita orang-orang tua dulu, Margo Utomo berarti jalan keutamaan. Dalam hidup kita akan menempuh Margo Utomo, menentukan mana yang utama mana yang tidak, mana yang primer dan mana yang sekunder. Melaksanakan perintah Sang Pencipta dengan mematuhi segala syariatNya dan menjauhi segala laranganNya.
Setelah selesei dan lulus dari Margo Utomo barulah perjalanan bisa diteruskan ke Jalan Malioboro. Malioboro berarti “jadilah engkau wali yang mengembara”. Setiap manusia adalah wali atau wakil Allah di muka bumi, maka begitu usai menempuh Margo Utomo, bersegeralah untuk merantau dan mengembara di muka bumi.
Jalan berikutnya ialah Margo Mulyo, artinya jalan kemuliaan. Jalan ketika manusia mencari kemuliaan di sisi TuhanNya. Jika kemuliaan itu bisa didapat, selanjutnya ia akan sampai pada Jalan Pangurakan, jalan dimana manusia sudah bisa “urakan” kepada dunia. Urakan yang berarti lepas dari belenggu dan masalah-masalah duniawi. Hanya orang yang sudah mencapai “pangurakan”-lah, yang boleh dan pantas tinggal di Keraton dan bertahta sebagai raja, memegang tampuk kekuasaan serta mengabdi untuk kesejahteraan rakyat.
Tak terasa aku bercerita, arlojiku sudah menunjukan pukul setengah enam pagi. Becak yang aku dan Kiran tumpangi tiba di rumah bulik. Setelah membayar ongkos yang sudah aku dan tukang becak sepakati sebelumnya, kami langsung bergegas masuk ke halaman rumah bulik. Pintunya tertutup dan suasana terlihat sepi, mungkin masih pagi, pikirku. “Ting tong!!” Suara bel berbunyi saat kupencet tombol bertuliskan BEL di depan pintu rumah. Aku mengucapkan salam setengah berteriak sambil memanggil bulik, sampai beberapa menit kemudian, seorang wanita berumur 50-an tahun muncul dari dalam rumah membukakan pintu.
“Eh nak, kok datang gak kasih kabar – kabar dulu. Kayak mimpi aja bulik” Bulik setengah terkejut dan tersenyum bahagia, melihat aku datang ke rumahnya pagi- pagi.
“Mau mampir sebentar kok bulik, ini lagi nganterin temen ke rumah neneknya. Kita nggak tahu jalan, jadi mampir ke sini deh.”
“Aduh siapa ini den ayu..” Tiba – tiba dengan wajah sumringah padangan bu lik menatap Kiran yang berdiri satu langkah di belakangku. Akupun memperkenalkan Kiran pada bulik. Sesaat kemudian bulik memandangku sambil menepuk lenganku. “Pinter kowe le la milih calon, bocahe ayu koyo widodari, pokoke bulik setuju! “
“Ah bulik apaan sih, wong temen juga.” Aku protes setengah berbisik kepada bulik dengan sedikit muka memerah menahan malu. Sementara kulihat Kiran sekilas tersenyum lebar, ia tidak begitu paham bahasa jawa, mungkin hanya sepatah dua patah kata yang ia mengerti. Aku tak tahu apakah ia mengerti yang barusan diucapkan oleh bulikku.
“Ada wong ayu kok dateng ke rumah bulik, mimpi opo bulik semalem. Pantesan kemarin banyak burung prenjak” Bulik berbicara sendiri dengan nada gembira dan logat jawa yang kental sambil mempersilahkan aku dan Kiran masuk ke ruang tamu lalu bergegas ke dapur untuk menyuguhkan minuman dan mempersilahkan kami beristirahat serta menggunakan kamar mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan di kereta semalaman.
Kamar mandi di rumah bulik merupakan bangunan yang terpisah dari rumahnya, meskipun jaraknya tidak jauh, sekitar 2 sampai 3 meter dari belakang rumah. Mungkin karena ini adalah bangunan lama, dimana kamar mandi pasti akan dekat dengan sumur, maksudnya mungkin agar tidak telalu payah jika menimba air untuk mengisi bak mandi.
Yang jelas, air tanah di sini memang lain dengan yang di Jakarta. Di sini airnya dingin dan sejuk. Usai mandi kurasakan pikiranku yang tadinya ruwet saat di kereta, sekarang jadi lumayan segar. Begitupun badanku yang awalnya capek – capek dan mengantuk, kini sudah fit lagi.
Selepas mandi aku memandang ke langit yang begitu biru pagi ini, ada pemandangan gunung merapi terlihat jelas di arah utara. Angin pagi yang sejuk berhembus menerpa wajahku. Aku bisa merasakan ini adalah angin kehidupan, angin yang berbeda dari angin ibukota. Di Jakarta tidak ada angin seperti ini. yang ada hanyalah kipas – kipas angin raksasa yang dipasang di atas atap, juga air conditioner yang dipasang di dalam gedung – gedung beton pecakar langit. Angin yang dibuat oleh pabrik – pabrik dengan modal besar. Air Conditioner atau pengkondisi udara, mereka begitu pedenya mengatakan itulah angin, seolah – olah udara tidak lebih dari masalah suhu dan kelembaban.
Padahal angin itu kehidupan, ia yang mempertemukan serbuk sari kepada putik bunga sehingga tanaman berbuah. Tanaman yang berbuah bukan untuk dirinya. Tanaman yang berbuah untuk makhluk sekitarnya. Buah yang menjadi manfaat bagi serangga, burung, mamalia, juga manusia.
Angin itu kehidupan, ia berhembus dari gunung ke dataran rendah bukan untuk dirinya. Mengawinkan mangga, salak dan tanaman yang lain bukan untuk dirinya. Mengantarkan spora tanaman untuk tumbuh ke tempat lain, bukan untuk dirinya. Angin itu perlambang kehidupan yang tulus. Memberi begitu saja. Menjalankan kodrat penciptaan Tuhan padanya begitu saja tanpa mengharapkan balas jasa.
Angin itu kehidupan, ia tidak terlihat, namun memberikan kesejukan. Ia tak terlihat namun menghidupi. Ia tak terlihat namun kita rasakan maanfaatnya. Angin bukanlah sekedar udara yang bergerak. Ia menyadarkan pada manusia sepertiku bahwa apa yang terpenting di dunia ini adalah apa yang tidak bisa kita lihat. Sebagaimana jantung yang mengalirkan darah meskipun tak terlihat, seperti juga paru – paru yang terus memompa udara meskipun tak nampak.
Aku memang masih belum bisa setulus angin. Aku masih berharap akan balasan Kimya kepadaku. Aku tidak bisa menampikkan bahwa bayangan Kimya masih terus berputar -putar dalam ingatan. Sejenak kulihat akun media sosial Kimya dari ponsel pintarku untuk sekedar mengetahui bagaimana kabarnya, tampaknya ia baik – baik saja. tidak mencari diriku, setelah pertemuan terakhir kita. Ah, aku memang terlalu ge er jadi manusia. Merasa dirinya adalah pusat tata surya. Sehingga siapapun harus mengitari dan memperhatikanku. Dan kala seseorang tidak memperhatikanku sebagaimana yang kuharapkan maka yang disisakan hanyalah kecewa dan sakit hati. Memang, kecewa hanyalah milik orang – orang yang tidak tulus hidupnya.
Ya, aku memang belum bisa setulus angin. Aku perlu banyak belajar kepada angin, kepada daun – daun, kepada rumput – rumput liar. Manusia sepertiku memang belum bisa setulus angin Yang bisa kulakukan dalam hidup tidak lebih dari menabung ketulusan. Yang bisa kuusahakan hanyalah menyicil kerelaan, sedikit demi sedikit. Sehingga sampai waktunya nanti, bisa terbangun bukit tempatku berpijak untuk tidak ingin menagih siapa – siapa yang ada di bumi.
Lamunanku tiba – tiba terhenti oleh suara samar – samar bulik yang sedang berbincang dengan Kiran di ruang tamu. Mereka nampak begitu akrab padahal baru saja bertemu. Sepertinya Kiran pandai sekali mengambil hati bulik, pikirku. Banyak hal yang sepertinya mereka perbincangkan mulai dari sejak kapan Kiran mengenalku hingga menceritakan sifat dan perilakuku serta cerita – cerita dan kenakalanku di waktu kecil. Bahkan sepertinya bulik hendak menjodoh – jodohkan Kiran denganku. Bulik sempat bicara kepada Kiran bahwa jika dilihat dari segi katuranggan, kami cocok jadi suami istri, karena itu buru – buru saja kami berdua menikah, biar langgeng sampai di surga, katanya.
“Duh bulik ini ada – ada saja.” Pikirku dalam hati.
Bersambung


