“Tapi ada satu hal dari kamu yang sekarang sudah berubah”
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
“Dulu kamu tuh anak kecil yang jahil, dekil but now… you are pretty hunky..” Jawab Kiran singkat, sembari ia memandangi jalan ibu kota melalui kaca jendela mobil, kemudian sesaat ia menatapku sembari tersenyum. Aku kebingungan harus merespon jawaban tak terduga itu. Tak biasanya aku dipuji seperti itu oleh seorang wanita. Ia benar – benar membuatku salah tingkah.
“Eh by the way, dalam rangka apa nih ke datang ke Indonesia?” aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“Berlibur saja, sekalian mau ketemu kakek dan nenek, kangen nih?”
“Oh, rencananya berapa hari?”
“Nggak tahu juga, mungkin bakalan lama. Coz sekalian nyari peluang bisnis di sini.” Kiran menjawab dengan begitu semangat. Aku baru tahu ternyata ia berencana membuka usaha di Indonesia. Mungkin dia akan membuka kafe, butik atau usaha yang lain. Dua bulan yang lalu ia baru menyeleseikan tudi Masternya di Helsingin yliopisto. Universitas terbesar di Finlandia. Ya, Kiran memang perempuan yang cerdas, ia selalu ranking 3 besar semasa kita di SD dulu.
Rupanya baru kali ini Kiran datang ke Indonesia, setelah belasan tahun tinggal di negeri orang. Wajar saja ia begitu bersemangat. Semua tempat yang agak unik yang kami lewati ia tanyakan. Aku melayani satu persatu pertanyaannya, seperti seorang pemandu wisata. Sampai tiba – tiba pembicaraan kami terhenti karena taxi yang kami tumpangi sudah tiba di hotel di tempat Kiran akan menginap. Aku segera bergegas membantu mengeluarkan kopernya dari dalam bagasi, lalu kemudian mengantarkannya masuk menuju lobi Hotel.
***
“Kimya tunggu!” Panggilku sambil menahan tangannya.
“Ada apa?“
Aku mencoba berbicara pada Kimya, setelah seharian aku berusaha untuk menghubunginya, berhari – hari ini ia selalu seperti ingin menghindar saat berpapasan denganku. Awalnya aku tak merasa ada yang aneh terhadap hubungan kami. Namun kini makin lama, aku merasa ia semakin jauh saja. Sekarang, aku menunggu di depan ruang kelasnya, menunggu hingga kursusnya selesei. Aku ingin bertanya, mengapa akhir – akhir ini ia selalu menghindar. Apakah ada dari perilakuku yang salah? Atau aku pernah menyinggung perasaannya?
Namun, belum sempat aku berbicara sepatah kata, tiba – tiba sebuah mobil avanza putih berhenti tak jauh di dekat aku dan Kimya berdiri. Aku tak bisa mengenali dengan jelas siapa yang berada di belakang kemudi. Pandanganku terhalang oleh kaca jendela gelap yang sengaja ia biarkan tertutup. Mungkin itu temannya Kimya atau bisa jadi sanak familinya. Atau mungkin juga kekasihnya? Aku tak tahu pasti. Yang pasti begitu mobil itu tiba, ia langsung berpamitan denganku dan terburu – buru berlari masuk ke dalam mobil itu.
“Nanti dulu ya bicaranya, sekarang aku lagi buru – buru nih!“
Aku hanya terpaku terdiam, melihat mobil yang membawa Kimya itu melaju meninggalkanku seorang diri. Pandanganku tak bisa lepas hingga mobil itu berlalu hilang berbelok ke kiri di perempatan ujung jalan sana. Aku tak tahu akan kemana Kimya, sehingga begitu terburu – burunya tanpa sempat mendengar satu kata dariku. Semenjak itu pikiranku mulai tak menentu kemana. Aku hanya bisa menebak-nebak mengapa ia begitu menghindariku. Mungkin ia memang tak menyukaiku, atau memang sengaja membuatku penasaran. Mungkin memang ada perilakuku yang tak disukainya, tapi apa?
Ah, perempuan memang terlalu rumit untuk bisa dimengerti. Mengapa kita tidak seperti Hidrogen saja dengan segala kesederhanaan sifatnya. Hidrogen yang hanya memiliki satu proton dalam intinya. Hidrogen yang hanya memiliki satu hal sederhana dalam batinnya. Mungkin akan lebih mudah jika aku dan Kimya adalah sepasang hidrogen itu, yang dipersatukan Tuhan dalam sebuah reaksi fusi menjadi satu Helium dengan energinya yang sanggup menghias bintang – bintang di langit sana.
Mengapa kita tidak seperti Hidrogen saja dengan satu bilangan kuantum utama yang begitu bersahaja. Hidrogen yang mencukukupkan diri dengan satu saja elektron yang berputar di orbitnya. Elektron yang begitu setia menemani. Elektron yang berputar tanpa henti. Memenuhi takdir penciptaannya dalam jagad kuantum.
Atau mungkin memang kita Hidrogen itu yang kini sedang merelakan dirinya terikat secara kovalen dengan Oksigen kehidupan menjadi setetes air? Air yang dilahirkan dari rahim mata air bukit – bukit. Setetes Air yang beranjak dewasa dari anak – anak sungai yang kemudian seiring waktu menjadi aliran sungai besar yang membelah pulau. Sungai yang kemudian menerima begitu saja — tanpa bisa mengeluh segala sampah manusia dan limbah pabrik perkotaan. Sampah yang berupa amarah, dendam, dan dengki. Limbah yang berupa penindasan dan nafsu untuk menjatuhkan.
Namun tak ada air yang kotor, yang ada hanya air yang mengalir bersama kotoran. Air telah dikodratkan Tuhan selalu jernih. Karena itulah betapapun keruhnya air, ia selalu bisa dimurnikan, disuling, dipisahkan dari kotorannya sehingga kembali menjadi tetesan – tetesan air yang jernih dan menyejukan.
Mungkin kitalah setetes air di sungai yang larut dalam arus waktu. Melalui banyak peristiwa, banyak kenangan dan banyak hal yang bisa menjadikan kita lebih arif dan bijaksana. Mungkin kitalah setetes air yang menderita kerinduan dan keterpisahan dari hulu kelahiran melakukan perjalanan dan bergerak mengalir menuju hilirnya.
Dan pada akhirnya kelak, di samuderalah segala sungai akan bermuara. Dari mata air bukit, menempuh rindu pada sekian jauh aliran. Mungkin Aku dan Kimya adalah tetes air di sungai yang berbeda. Dan aku percaya, pertemuan di ujung samudera itu akan tiba.
***
Malam sudah lepas dari pukul sembilan. Kereta yang aku tumpangi baru saja meninggalkan Stasiun Bekasi. Aku memandang langit dari jendela gerbong yang kutumpangi, namun tak kulihat satupun bintang di langit malam ini. Langit begitu gelap. “Maaf, bintang tak berkelip malam ini tuan. Ia begitu lelah memberi arah para pelaut dan nelayan. Mungkin lain kali, jika kita punya kesempatan.” Sahut bintang – bintang itu dalam batinku sendiri.
Aku dalam perjalanan menuju Yogyakarta, menemani Kiran, yang hendak berkunjung ke rumah kakek dan neneknya di Sleman. Ia sudah agak lupa dengan jalan menuju rumah kakek dan neneknya, terlebih ia terbilang baru di Indonesia, maka akupun tak tega membiarkannya berangkat sendiri dan menawarkan diriku untuk menemaninya. Toh, besok jumat adalah tanggal merah, sehingga besok merupakan akhir pekan yang panjang. Aku ingin sejenak mengistirahatkan pikiranku dari Kimya. Mungkin setelah melakukan perjalanan ini, aku bisa berpikir jenih.
Namun harapan dan kenyataan memang selalu berlawanan. Alih – alih melupakan Kimya. Justru di dalam kereta ini, malah membuatku teringat pada pertemuan pertamaku dengannya. “Kereta ini ibarat mesin waktu saja” pikirku. Bisa membawa orang pergi menembus masa lalu. Pelan namun pasti tiba-tiba bayang-bayang tentang Kimya terputar sempurna dalam ingatanku. Ia seperti tersenyum manis di depanku, hingga kemudian sebuah suara mengagetkanku.
“Heh, dari tadi kamu ngelamun aja, ada masalah ya?” Ternyata itu Kiran yang duduk di sebelahku. Agak kaget aku mendengarnya, namun kuusahakan kututupi. Sepertinya Kiran sedari tadi sudah memperhatikan tingkahku yang lain dari biasanya. Ia kemudian mendesakku untuk bercerita.
“Ih, mas ganteng lagi patah hati ya, ciee.. Siapa memang perempuan yang begitu tega membuat sahabatku ini patah hati?” Goda Kiran sembari setengah menghiburku.
Karena sedari tadi didesak, akhirnya aku ceritakan padanya tentang masalah yang menjadi racun dalam otakku selama ini. Aku bercerita panjang mengenai bagaimana awal pertemuanku dengan Kimya, perasaanku padanya, hingga apa yang sering membuatku gelisah dan bersedih. Aku sering menebak – nebak sendiri apa yang ada di dalam hati Kimya. Seperti orang yang berjudi di sebuah kasino, yang setiap kali bertaruh hampir pasti selalu kalah.
Kiran mendengarkan ceritaku yang begitu panjang itu dengan sabar. Mimik wajahnya, nampak sekali begitu memperhatikan. Ia tak banyak berkomentar ataupun mengkritik. Sepertinya Kiran paham benar, bahwa ketika laki – laki semacam diriku sedang bercerita tentang masalah pribadinya, itu bukan berarti ia menginginkan sebuah solusi. Namun, itu semata – mata ia ingin didengarkan. Ya, didengarkan saja memang sudah lebih dari cukup bagiku.
“Kiran, aku tak tahu apakah memang benar waktu itu berputar ataukah ia melaju lurus. Aku hanya berharap jika waktu ini berputar maka yang aku harapkan adalah perjumpaan ulang dengan Kimya. Jika ia melaju lurus. Maka yang bisa kuharap hanyalah pertemuan yang tak putus. Namun seberapa tahu aku akan waktu, jika aku dijalankan diantaranya. Berputar ataukah melaju lurus, manusia hanya bisa terseret dalam gelombangnya.”
Akupun terdiam lama, dan bertanya apa tanggapannya tentang masalahku. Kiranpun kemudian tersenyum padaku sesaat, kemudian berkata.
“Jangan terlalu terburu – buru dan juga jangan terlalu lamban ketika kesempatan memberikan isyarat. Sehingga kamu bisa menghindari kesalahan – kesalahan penting. Perempuan terkadang tidak menyukai laki – laki yang terlalu agresif, tapi ia juga tidak menyukai pria yang terlalu lamban dalam bersikap. Memang teramat rumit untuk menjadi seorang laki – laki. Di sisi lain ia dituntut untuk tidak boleh terlalu agresif, sedangkan di saat yang sama ia tidak boleh juga terlalu lamban. Jadilah saja dirimu sendiri yang apa adanya seperti ini, maka aku yakin perempuan yang akan datang padamu akan hadir juga dengan apa adanya dirinya.”
“Kamu tahu apa bagian terbaik dari hidup seorang manusia? Ia adalah perbuatan-perbuatan baik, cinta dan kasihnya yang tidak diketahui orang lain. Ia adalah kebaikan yang tersembunyi dalam bilik hati. Yang sangat berhati – hati menjaga perasaan orang yang dicintai. Yang selalu memahami bagaimana mungkinnya terbuka sebuah luka, meski itu oleh satu patah kata.”
“Kamu memiliki itu, sebagai salah satu bagian terbaik dalam hidupmu. Kamu begitu menyukai seorang gadis. Lalu berusaha sebisa mungkin menjaga perasaan dan memperhatikan dengan seksama gadis itu, meski ia sedikit atau tidak menghargainya, atau mungkin malah merasa terganggu dengannya. Begitulah, cinta memang bukan sebuah transaksi yang selalu berharap akan timbal balik dan untung rugi.”
“Dulu, saat remaja ketika kita mulai beranjak menyukai lawan jenis, seolah-olah kita yakin sedang mencintai orang lain, padahal masih berharap akan balasan. Pada tahap berikutnya kita sadar, kita tidak sedang mencintai orang lain. Kita hanya belajar seolah-olah mencintai orang lain, sebenarnya yang kita cintai adalah diri kita sendiri dengan jalan melalui orang lain.”
“Aku sering meminta nasihat kepada orangtuaku, jika aku merasa gelisah sepertimu. Karena aku percaya, mata mereka telah menatap wajah tahun demi tahun dan telinga mereka telah mendengar banyak suara kehidupan. Bahkan jika nasihat mereka tidak menyenangkanku, aku akan masih tetap memperhatikan orangtuaku.
“Dulu aku juga pernah mengalami perasaan patah hati sepertimu. Tapi aku berpikir, lebih baik aku tidak usah terlalu larut dalam kesedihan tak berujung. Kau lihat anak kecil itu!” Kiran pun berbisik padaku menunjuk anak balita di kursi belakang yang sedang meminum susu di dalam botol. “Begitu gembiranya ia saat meminum susu itu. Namun saat si bayi beranjak besar, ia akan mulai bosan dengan susu lalu mulai menyukai teh, sirup, jus ataupun kopi. Mengapa bayi senang saat diberi susu oleh ibunya? Karena pada usia seperti anak itu, hanya itulah minuman yang diketahui olehnya.”
“Ya, kebahagiaan memang suatu bentuk yang misterius dan tersembunyi, kita tak tahu dalam bentuk apakah ia hadir menyapa kita. Ia bisa datang dalam aneka rupa, bergerak dari satu sudut ke sudut lain. Ia bisa mendadak mempertontonkan keindahannya pada butir air hujan, lalu meresap ke biji mawar, dan kecantikan pokok mawar saat ia muncul dari dalam bumi”
“Kebahagiaan memang bisa datang dari makanan dan minuman, ataupun kecantikan. Bisa juga dari barang – barang dan harta benda. Sampai suatu hari kita sadar bahwa kebahagiaan bukanlah itu semua. Maka sejak itu aku tak ingin menyesali jika suatu saat yang kusangka kebahagiaan itu hilang dariku, karena aku yakin ia akan kembali lagi dalam bentuknya yang lain.”
Bersambung

