Bingkai Kata

Perkenan Mengenalmu

Ijinkan aku menitipkan salam padamu cantik. Sembari meminta perkenan untuk mengenalmu. Sekedar bertanya kabar, atau bertukar cerita. Tapi hanya sepatah, dua patah saja kau jawab pesan – pesan ini. Itupun jikalau aku beruntung.  Mungkin waktu begitu memburumu. atau mungkin engkau sudah punya seseorang yang mengisi hatimu. Pasti  dia istimewa. Pasti. Tidak seperti aku yang bahkan mendekatimu saja sering tak bernyali

Bingkai Kata

Siapa Yang Tahu?

Suatu ketika seorang lelaki berjalan dalam senja, memunggungi kota,  menyusur semak belukar, menuruti bayang-bayangnya sendiri di depan. Angin senja menghempas di kiri kanannya, bersama debu yang berputar – putar tak tentu. Kemana debu itu pergi, tiada yang tahu. Pun tiada yang perduli apa yang sedang dirundung olehnya. Sejenak lelaki itu berhenti dari langkahnya. Pandangannya nanar, merasakan angin yang berhembus di sekitarnya.…

Continue Reading→

Bingkai Kata

Sembunyi – Sembunyi

Sembunyi – sembunyi, ku lewati jalan sunyi ini . Tanpa seorangpun tahu, tiada satupun perduli. Sendirian kulewati jalan-jalan setapak ini sepenuh hati.  Tanpa seorangpun mengerti, tiada satupun yang memahami. Menyusuri taman-taman hingga padang  gersang sepi Mereka yang melihat hanya sanggup tersenyum atau mencaci. Tak buatku sedikit bersenang atau membenci. Karena tujuan hanya satu, dan untuknya aku masih disini.

Bingkai Kata, Keseharian

Dua Puluh Delapan

Dua puluh delapan kali ku saksikan siklus matahari, namun belum kutemukan apa yang dibicarakan  cahaya pada pagi. Masih belum sanggup kudengar suara -suara sejati Dua puluh delapan kali kukelilingi matahari,  namun yang masih mampu kuhitung hanya waktu. Kuhitung hari, kuhitung minggu, kuhitung bulan, kuhitung tahun, kuhitung windu, kuhitung abad, kuhitung jaman. Namun, masih tak mampu ku belajar pada kesetiaan. Aku berjalan…

Continue Reading→

Bingkai Kata

Harus ku Jawab Apa?

Aku kebingungan dengan jari – jariku yang berada di depan papan ketik. Hendak menuliskan apa ? Terlalu banyak, yang berkumpul di otak, namun bukan sebagai kata, aksara, ataupun kalimat. Bukan, bukan itu semua. Lalu apa? Sebuah ingatan yang tidak bisa dimengerti oleh sekedar 26 abjad ciptaan manusia. Sejenak, kuamati, itu memang bukan kata, aksara, ataupun sesuatu yang bisa kutulis di…

Continue Reading→

Bingkai Kata

Menemukan Namamu

Dalam nadiku, namamu tiada sekedar kata. Aksaranya meng-ejakan kenang. yang mengalir dalam kalimat ingatan. Dalam nadiku, namamu hadir ibarat merah senja pipimu. Penuhi segala langit yang hadir, dengan beribu kenang-kenang. Dan menjadikan mentari diri harus terbenam larut dengan sukarela

Bingkai Kata, Perenungan

Jalan Kerinduan

Jika yang engkau maksud Cinta adalah tujuan, maka rindu adalah jalan. Lantas bagaimana mungkin engkau sampai jika tidak pernah melalui jalan. Karena itu jangan sedih akan pedih rindu itu. Berbahagialah dan bersyukur karena rindu membuatmu masih terus mencari sekarang. Orang yang tidak memahami kilat petir mengundang hujan. Akan mengeluh karena gelegar suaranya. Begitu juga mereka yang tidak memahami, akan mengeluh…

Continue Reading→

Bingkai Kata

Secangkir Rindu

Secangkir rindu, kusaji pagi-pagi. Pahitnya, getir menusuk hati. Kuseduh dengan panasnya gelisah tak tentu. Ku campur manisnya bayang parasmu. Semua teraduk dalam kerinduan tak terobati sepanjang pagi. Secangkir rindu, kunikmati pagi – pagi. Menyebut – nyebut namamu dalam hati. Oh, nyatakah semua ini. Ku telah kehilanganmu dari sisi. Secangkir rindu, kutuang pagi – pagi.  Mengingat masa-masa itu lagi. Ketika mentari…

Continue Reading→

Bingkai Kata

Aksara Tanpa Suara

Aku aksara tanpa suara. Hadirku lahirkan kata. Lahirkan alinea. Lahirkan makna. Dan denganku, ku bantu kau ungkapkan rasa. Aku aksara tanpa suara. Hadirku pelintas waktu, penebas masa. Menjadi saksi setiap peristiwa. Dari zaman ramayana hingga milenia Aku aksara tanpa suara. Kau susun aku dengan ribuan cara. Kau baca aku dengan berbagai macam bahasa. Aku aksara tanpa suara. Hadirku penjelas rahasia,…

Continue Reading→

Bingkai Kata, Keseharian

Remah – Remah Kata

Menurutmu mudah, namun sungguh sulit hidup ini, hampir – hampir saja membuat menyerah. Menurutmu menyenangkan, namun sungguh rumit hidup yang ku lakukan. Aku belum paham, dengan semua skenario pada semesta alam. Aku tak mengerti tentang yang terjadi pada diri. Begitu penuh dadaku dengan seluruh beban, membuatku sulit untuk sedikit menghela perasaan.