Dalam nadiku, namamu tiada sekedar kata. Aksaranya meng-ejakan kenang. yang mengalir dalam kalimat ingatan.
Dalam nadiku, namamu hadir ibarat merah senja pipimu. Penuhi segala langit yang hadir, dengan beribu kenang-kenang. Dan menjadikan mentari diri harus terbenam larut dengan sukarela
Namamu hadir Berdetak-detak menghentikan detik-detik waktu. Aksara- aksara penyusunnya bergerak tiada tentu, menembus dinding-dinding sadarku.
Nama – nama itu adalah isotop astabil yang mencuri masuk alveolusku. Merusak susunan sel pikiran dengan cerita kisah luka yang sesaki ruang nafas.
Nama-nama itu adalah nukleus dari penyusun dirimu cantik. Yang dulu lahir. Di saat asa terakhir. Dirimu, yang lama tidak ku temui lagi hingga kini.

