Bingkai Kata, Keseharian

Dua Puluh Delapan

Dua puluh delapan kali ku saksikan siklus matahari, namun belum kutemukan apa yang dibicarakan  cahaya pada pagi. Masih belum sanggup kudengar suara -suara sejati Dua puluh delapan kali kukelilingi matahari,  namun yang masih mampu kuhitung hanya waktu. Kuhitung hari, kuhitung minggu, kuhitung bulan, kuhitung tahun, kuhitung windu, kuhitung abad, kuhitung jaman. Namun, masih tak mampu ku belajar pada kesetiaan.

Aku berjalan mundur, pada lorong semesta peristiwa. Yang akan terjadi tiada bisa kuterka, yang mampu kulihat hanyalah yang telah lewat. Berjalan jauh hanya untuk menua mencapai senja. Berlari mengitari bumi hanya  untuk sampai pada kembali.

Dua puluh delapan tahun, tangan waktu menuliskan diriku pada lembar – lembar kehidupannya, menuliskan cerita -cerita yang dulu sempat disembunyikannya.  Menjadi karakter fiksi dalam kisah -kisah  tak bertuan.

Demikianlah dua puluh delapan tahun telah melintasi.  Mengiringi di tiap pagi, menemaniku mencari jejak – jejak kaki, berjalan melata di bumi sepanjang hari. Dua puluh delapan tahun, kubawa – bawa darah daging ini di bumi kehidupan, kubawa-bawa hati dan jiwa ini di padang tandus perasaan. 
Tagged

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.