Dua puluh delapan kali ku saksikan siklus matahari, namun belum kutemukan apa yang dibicarakan cahaya pada pagi. Masih belum sanggup kudengar suara -suara sejati Dua puluh delapan kali kukelilingi matahari, namun yang masih mampu kuhitung hanya waktu. Kuhitung hari, kuhitung minggu, kuhitung bulan, kuhitung tahun, kuhitung windu, kuhitung abad, kuhitung jaman. Namun, masih tak mampu ku belajar pada kesetiaan.
Aku berjalan mundur, pada lorong semesta peristiwa. Yang akan terjadi tiada bisa kuterka, yang mampu kulihat hanyalah yang telah lewat. Berjalan jauh hanya untuk menua mencapai senja. Berlari mengitari bumi hanya untuk sampai pada kembali.
Dua puluh delapan tahun, tangan waktu menuliskan diriku pada lembar – lembar kehidupannya, menuliskan cerita -cerita yang dulu sempat disembunyikannya. Menjadi karakter fiksi dalam kisah -kisah tak bertuan.