Aku kebingungan dengan jari – jariku yang berada di depan papan ketik. Hendak menuliskan apa ? Terlalu banyak, yang berkumpul di otak, namun bukan sebagai kata, aksara, ataupun kalimat. Bukan, bukan itu semua. Lalu apa? Sebuah ingatan yang tidak bisa dimengerti oleh sekedar 26 abjad ciptaan manusia.
Sejenak, kuamati, itu memang bukan kata, aksara, ataupun sesuatu yang bisa kutulis di atas kertas. Ya, itu adalah sebuah ruas senyum, lekuk pipi, alis tebal dengan kelopak mata yang sepertinya sanggup membuat para bidadari surga-pun cemburu.

Andai saja saat itu, waktu sedikit memberi peluang untukku menemukan alasan menyapamu, berkenalan dan berbicara sepatah dua patah kata. Mungkin takkan sebodoh ini jadinya. Harusnya sedari tadi kusampaikan padamu.
Sedari tadi itu kupikirkan, pilihan kata yang tepat untuk menyapa. Halo, hai, apa kabar, semua serasa tidak cocok, karena kata – kata itu hanya mungkin diucapkan oleh seseorang yang baru mengenal. Sedangkan kita? Aku seperti sudah mengenalmu, entah dimana, namun seperti tidak asing bagiku.
“Maaf mas kita pernah kenal?”
Duh, kaget setengah matiku, belum sempat ku berpikir, tiba – tiba ia sudah di depanku, menyodorkan senyum manis itu. Seketika jantung berhenti berdetak, seluruh oksigen serasa habis. Harus ku jawab apa pertanyaannya?

