Bingkai Kata

Siapa Yang Tahu?

Suatu ketika seorang lelaki berjalan dalam senja, memunggungi kota,  menyusur semak belukar, menuruti bayang-bayangnya sendiri di depan. Angin senja menghempas di kiri kanannya, bersama debu yang berputar – putar tak tentu. Kemana debu itu pergi, tiada yang tahu. Pun tiada yang perduli apa yang sedang dirundung olehnya.

Sejenak lelaki itu berhenti dari langkahnya. Pandangannya nanar, merasakan angin yang berhembus di sekitarnya. Sejenak ia mulai memahami bahwa debu itu juga menanggung beban rindu sepertinya. Ia sedang menunggu di jalan setapak yang ia lalui. Mungkin menunggu kekasih hati dari sudut kejauhan. Sekedar melihat senyum dan rona pipi merahnya.

Senja semakin gelap, melihatkan rona merahnya, hingga kemudian  langit menebar tirai hitamnya. Lelaki itu melanjutkan perjalanannya hingga tak terlihat lagi. Bersama detak detik waktu ia berjalan menyusuri jalan setapak yang tiada seorangpun tahu.

Malam demi malam, hari – demi hari, tahun demi tahun. Lelaki itu tak terlihat lagi. Siapa yang tahu? Namanya pun tiada yang mengenalnya, mungkin ia juga layaknya debu yang bertebaran di udara, meracuni setiap rongga pernafasan. Adakah kita adalah lelaki itu? Pun tiada yang tahu. Apakah dalam lelaki itu ada diri kita, yang sedang menyusuri sebuah jalan sendiri?

Siapa yang tahu?

Tiada yang tahu, tiada yang mengenalnya, Begitupun kita, siapakah yang sanggup benar – benar mengenal kita? Mereka tidak lebih hanya menumpuk – numpuk prasangkanya kepadamu. Maka kita menjadi sendiri. Kita adalah pemuda itu, yang “sendiri” , karena tidak ada orang yang tahu benar siapa kita dan apa yang sesungguhnya kita lakukan. Kita menjadi “sendiri ” , karena seringkali anggapan kita tentang diri kita dan apa yang kita lakukan bisa sangat berbeda jauh dengan apa yang dianggap oleh orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.