Dulu, ketika kamera yang tersedia di pasaran masih analog. Orang bakalan dianggap aneh ketika jeprat – jepret ria di dalam mall atau berfoto bersama teman -teman di depan tugu Jogjakarta , anda pasti dikiran sok turis atau memang orang mampir di Yogyakarta.
Kamera saku berfilm waktu dulu bisa dikatakan barang mewah, hanya sedikit orang menentengnya, itu juga bakal dikeluarin kalo sedang liburan atau memang sedang ada hajatan. Jika tidak, anda pasti bakal dikira wartawan dari koran anu yang sedang sibuk mencari berita, atau malah sialnya anda bisa saja dikira tukang foto keliling
Hasil fotonya pun ngga bisa langsung dilihat, mungkin harus menunggu berhari – hari (sampai habisnya rol film) untuk bisa mencetak hasil jepretannya. Na’asnya kalo penjepret ngga tahu cara ngejepret, bisa – bisa gagal semua hasil jepretannya. Belum lagi kalo yang difoto pada merem gara – gara ngga tahan kena sorot lampu blitz. Serasa sempurnalah kesengsaraan ini.
Foto yang sudah jadi harus dirawat baik – baik dalam album foto dan disimpan pada ruangan yang berudara kering agar tidak jamuran. Jika ingin memasukkannya dalam format digital, orang harus susah – susah men-scan dulu. Sehingga bisa dikatakan foto – foto yang berformat digital jumlahnya masih sangat sedikit.
Begitu boomingnya era kamera digital yang harganya makin lama makin murah, bahkan fasilitas ponsel pun dikatakan belum lengkap jika tidak ada fitur kamera di dalamnya (semakin tinggi resolusi tentu semakin bagus ponselnya). Maka tak ayal dunia perjepretan pun menjadi semakin murah meriah, Orang ngga perlu mikir jumlah roll film yang masih tersisa, yang penting jepret, hajar. Selama kartu memori masih kuat, ya jepret aja terus.
Jeleknya, orang jadi tidak selektif dalam memfoto, apa saj dan siapa saja difoto, bahkan ngefoto diri sendiri dengan pose – pose ngga pentingpun sudah ngga sungkan lagi. Entah itu berfoto di jalan tol, jembatan, atau di trotoar, orang -orang sekitarpun juga udah ngga peduli, kecuali jika ada sesi khusus pemotretan model cantik apalagi dengan busana super minim.
Orangpun jadi jarang mencetak foto, kecuali untuk momen – momen khusus seperti foto wisuda atau pernikahan (massal). Mereka lebih senang menyimpannya di dalam hardisk komputernya, atau menguploadnya ke facebook dengan berharap dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar ada komentar dari orang yang melihat fotonya tersebut.
Rekayasa atau editing foto pun juga marak – dan semakin banyak orang mempelajarinya, Orang bisa dibuat seakan – akan berfoto dan bersalaman bareng presiden, atau seakan – akan pernah pergi ke New York, USA atau Paris di Prancis meskipun sebenarnya ke bantul pun belum pernah.
Di jaman pra sejarah orang hanya berkomunikasi dengan gambar – gambar di dinding gua. Begitupula di jaman sejarah, arca – arca di dinding – dinding candi – candipun membuat sebuah komunikasi sendiri tentang keadaan di jaman itu. Sekarang, foto – foto digital yang tersimpan dalam hardisk atau dalam facebook mungkin kelak akan menceritakan tentang suatu hal kepada kita, itupun jika kita ingat. Bukan begitu? saya berharap jawabannya bukanlah kata “bukan” 🙂

pingin…
_______________________________________________________
http://WWW.KENALANYUK.COM <== facebook buatan INDONESIAA ASLIIII!!! AYOOO GABUNG!!!!