Gerakan Mahasiswa Hukum Jakarta (GMHJ) berencana “menyegel” Kedutaan Besar Malaysia di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (1/9), sebaga unjuk protes terhadap prilaku negara tetanga itu kepada Indonesia belakangan ini.

Begitulah kutipan dari Republika Online tentang rencana GMHJ ( Gerakan Mahasiswa Hukum Jakarta ) yang akan berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jalan HR Rasuna Said yang direncanakan berlangsung hari ini 1 September 2009.
Memang akhir – akhir ini hubungan bilateral malaysia dan Indonesia sudah mulai memanas dan beberapa kali tidak harmonis – setidaknya itu terjadi di tingkat rakyat bawah. Setelah 6 tahun lalu pulau sipadan dan ligitan lepas dari Indonesia malaysia mengklaim blok ambalat menjadi miliknya – tidak berhenti disitu malaysia – dalam rangka mencitrakan negerinya sebagai Malaysia – The Trully Asia kini mulai satu persatu mengklaim budaya yang ada di Indonesia. mulai dari lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo bahkan hingga Wayang Kulit dan keris yang telah diakui sebagai warisan dunia.
Malaysia sebagaimana diketahui menjadi tempat berkumpulnya tiga ras besar Asia: Melayu, India (Tamil), dan China. Dari beberapa hal tersebut, Malaysia merasa bahwa negaranya merupakan sebuah miniatur dari asia karena itu berhak menyandang “gelar” Truly Asia. Dalam usahanya mewujudkan Truly Asia mereka mengumpulkan produk kebudayaan dari berbagai bangsa bangsa di Asia ini sebagai mosaik.
The Trully Asia?
Meskipun begitu, ketiga ras utama di malaysia tidaklah menjadi sebuah komposisi peradaban yang solid. Apalagi Beberapa etnis lainnya juga dapat ditemukan, Jawa, Dayak, Minang, Arab, Benggali, dan Urdu yang hanya mirip sebagai pelengkap. Suku Jawa adalah komunitas terbesar keempat , yang menjadi penyumbang penegakan pilar ekonomi riil Malaysia. Ada lebih kurang tiga juta etnis Jawa dan satu juta etnis-etnis Indonesia lainnya dari 27 juta penduduk Malaysia.
Berbagai budaya kanon Asia di Malaysia ternyata hanya melakukan interaksi fisik-ekonomis dan artifisial belaka. Tamil dan China tidak pernah dianggap sebanding dengan Melayu, bahkan pemerintah Malaysia memberlakukan kebijakan protektif terhadap Melayu, sebuah sikap diskriminasi ras dalam konteks politik modern atau bisa dikatakan ini merupakan sebuah kebijakan Apartheid-nya asia tenggara.
Dari sisi demokrasi, malaysia memiliki perkembangan demokrasi yang teramat lambat. Parlemen selalu dikuasai oleh Barisan Nasional meskipun sekarang lama kelamaan partai UMNO sudah menjadi aus. Berbagai media dibatasi disana dan hanya diisi berbagai sanjungan kepada pemerintah mereka tidak boleh menyiarkan sebuah pernyataan atau informasi yang mengkritik atau mengevaluasi kebijakan pemerintah. Tidak aneh memang mengingat Mahathir Muhammad Perdana Menteri ke empat malaysia yang sukses menjadikan negaranya dari negara berkembang menjadi negara maju. merupakan murid dari Pak Harto – Presiden di masa rezim Orde Baru.
Patut juga disimak analisa Teuku Kemal Fasha seorang Antroplog Aceh yang dimuat pada Harian Aceh
Dari segi pengetahuan dan kebudayaan, Malaysia kalah jauh dibandingkan Indonesia. Perkembangan ilmu sosial-humaniora tidak sepesat pembangunan ekonomi dan teknologinya. Sebagai dampak dari belum terbukanya iklim demokrasi, berefek pula pada terpinggirkannya peran ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan (Sozialwissenschaft) yang bertugas mengupas aspek kemasyarakatan (Gesellschaft) dan problem-problem subtil di dalamnya. Bahkan kini bahasa Malaysia mulai terpinggirkan sebagai bahasa nasional dan pengetahuan (lingua franca). Bahasa Melayu remuk oleh bahasa-bahasa asing lainnya. Is it the truly Asia? Bahasa Malaysia adalah yang terburuk di semenanjung nusantara.
Sikap
Bagaimana sikap kita menghadapi klaim yang dilakukan negeri jiran tersebut ? Jika anda marah dan geram itu adalah hal yang wajar sebagai seorang anak bangsa yang memiliki sebuah nasionalisme. Namun apakah marah itu sudah cukup? ataukah kita juga perlu mencaci – maki negara tetangga tersebut sebagaimana yang sering ditemui di dunia maya ? Tidak salah memang, namun apakah itu semua berujung pada solusi?
Mungkin lebih baik jika marah yang ada – kita salurkan kepada hal – hal yang produktif untuk membangun dan berkarya bagi bangsa ini. Mulai sekarang cintailah budaya bangsa. Bagaimanapun budaya tanah air adalah lebih pantas untuk kita pelajari daripada budaya barat.
Lalu jika begitu, maka saya mengusulkan agar kegiatan ekstra kurikuler breakdance yang kini marak di sekolah- sekolah kita gantikan saja dengan tari daerah yang ada di indonesia. Karena tidak lain tari – tari tradisional ini adalah warisan budaya nenek moyang kita yang bernilai budaya tinggi dan harus kita lestarikan. Jangan sampai budaya asal negeri kita malah digunakan dan dipelajari negara lain sedangkan anak bangsa sendiri – tempat budaya tersebut lahir malah melupakannya.
Saya berharap itu tidak terjadi…
sumber :
kenapa org indonesia acapkali bertindak secara tidak matang…?
tidak ada asap bila tak ada api 🙂
semut yang kecil pun akan menggigit jika diusik