Saya bukanlah seorang ahli IT, ataupun pengamat teknologi informasi. Saya seorang pemuda “nggak jelas” yang jelas -jelas memiliki keterbatasan jarak pandang terhadap fenomena yang akhir – akhir ini banyak muncul di media sosial. Sekedar orang yang khawatir tentang “ketidakmengertian” (istilah halus saya untuk mengatakan “kedunguan”) manusia yang katanya moderen dalam memperlakukan teknologi informasi. Dengan begitu mudah ia membagikan informasi pribadinya yang bahkan seharusnya tidak dibagikan. Kita juga gemar sekali berbagi informasi yang bahkan belum pernah kita konfirmasi dulu kebenarannya. Bahkan, ada yang belum membaca, namun sudah dishare.
Padahal kita nggak paham benar, apakah informasi yang kita bagikan itu benar atau salah. Apakah kita telah membangun budaya tabbayun untuk menggali kebenaran informasi yang sesungguhnya? Sudahkan kita mencari tahu, siapa yang menyebarkan informasi itu? Apa tujuannya? dan apakah informasi yang disampaikan itu benar? Dan kalaupun benar apakah informasi itu bermanfaat untuk disebarkan?
Memang, kita sekarang menjadi saksi abad peralihan, dimana teknologi informasi semakin berkembang begitu deras. Gadget semakin murah dan mudah diperoleh. Akses internet semakin cepat dan juga murah. Konsekuensinya, arus informasi menjadi begitu deras mengalir hingga – hingga kita semua kebanjiran olehnya. Parahnya, tidak semua dari kita bisa berenang, ataupun memiliki pelapung, sekoci dan lain sebagainya untuk tidak hanyut dalam air bah informasi itu. Mereka menelan bulat – bulat apa yang diterimanya. Tidak perduli itu racun ataukah penyakit?
Kebanyakan kita memang begitu malas untuk belajar berenang, memilih dan memilah informasi. Meskipun sebenarnya tidak susah-susah amat, cukup membawa sedikit akal sehat saja. Bahwa kebenaran manusia itu sifatnya relatif, begitu juga opini yang beredar di sekitar kita memiliki kebenaran yang relatif. Juga berita – berita yang beredar dan berseliweran setiap harinya di media sosial, tv, koran dan lain sebagainya, sangat – sangat bersifat relatif. Bahkan bisa menipu atau juga menyesatkan. Karena itulah islam mengajarkan kita untuk melakukan verifikasi, konfirmasi akan kebenaran dari suatu informasi yang kita terima. Untuk itulah diperlukan kerendah hatian untuk belajar. Namun sayang sekali sebagai makhluk informasi, sebagian besar kita lebih rela menjadi korban (atau bahkan budak) informasi daripada berusaha menjadi sumber informasi.
Tulisan saya ini memang bersifat abstrak, dan memang saya biarkan begitu, tanpa menyertakan contoh konkrit. Saya rasa pembaca tulisan saya sudah cukup cerdas untuk melihat sangat banyak contoh yang ada di sekitarnya, yang selain menyebabkan disinformasi, juga penyesatan besar – besaran.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi informasi memang tidak terutama terletak pada gadget-gadget mewah, versi OS smartphone, atau kecepatan bandwith jaringan internet. Tapi sebenarnya terletak pada daya kritis manusianya, pada mutu kita sebagai makhluk informasi. Bahwa ada yang lebih penting daripada mempelajari teknologi informasi, yaitu kesanggupan kita untuk mengelola air bah informasi itu dalam diri kita
