Bingkai Kata

Tulisan Senja

Matahari bergerak terbenam di ujung barat. Langit – langit bermain dengan warna jingga. Siang kini telah menjadi senja, Sementara aku dan nafasku  menulis kata ini untukmu.

Kasih, dunia ini dipenuhi ketidaktahuan. Sebentar lagi malam tiba. Bayang – bayang gelap menyelimuti. Di depan, belakang, kiri, dan kanan. Semua akan gelap.  Kita sama tak tahu. Yang tersisa darinya hanyalah percaya. Hanya itu yang kita punya. Maka, bagaimana jika kita mulai untuk saling percaya? Tapi bagaimana kita bisa percaya saling percaya. Jika tidak saling mengenal. Bagaimana bisa mengenal jika engkau masih enggan bertemu.

Duhai anggun, percayalah, seribu mawar di taman kini merindui wangimu. Awan yang berarak dilangit juga mencari teduh parasmu. Apalagi hanya aku, yang berasal dari debu, tidak ada pilihan lain selain menanti bertemu. Yang mampu kulakukan hanya menitipkan salam melalui pemilik hati melalui sujud-sujud panjangku. Dengan doa – doa harapan, kiranya Maha Pengasih berkenan menggerakanmu untuk memalingkan muka, bertegur sapa, menanyakan kabar, atau bertukar cerita.

Duhai engkau yang namamu tertulis di neuron otakku, yang mengalir bersama trombosit darah dan yang memenuhi seluruh bilik jantung. Adakah aku terlalu berlebih mengharap. Ataukah engkau kini sedang mengincar pangeran lain di suatu istana megah di bagian dunia lain. Apapun itu. aku hanya mengharapmu bisa berbahagia.

Sedikit  yang engkau perlu tahu, cantik. Saat engkau merasa sendiri. Disini, ada seorang lelaki yang selalu mencintaimu lebih dari dirinya sendiri, lebih dari setiap hari.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.