Bingkai Kata, Perenungan

Semua Jeruk itu Kecut

Suasana pasar lama kota Tangerang yang begitu sibuk dengan aktivitas jual beli pedagang dan pembelinya sedikit teralihkan ketika seorang ibu – ibu ngedumel  dari ujung ke ujung memutari blok pedagang buah – buahan. Namun malang sepertinya bagi si ibu, sesudah mondar – mandir kesana kemari, tak ditemuinya pedagang buah yang dicari.

“Bang ini pedagang buah yang kemarin jualan disini kemana ya”. Tanya si ibu kepada pedagang buah di sekitarnya, sambil telunjuknya mengarah ke  sebidang tempat yang kosong.

Wah saya ga tahu bu, kalo yang disana emang jualan baru dua hari yang lalu” Emang ada apa bu? Jawab salah satu pedagang buah.

“Ini, jeruknya kecut semua, satu kilo saya beli ngga ada yang manis, kayaknya memang disini jeruknya kecut semua ya”. Si Ibu kesal.

“Coba lihat,  yang dibeli seperti apa sih”. Tanya pedagang tadi penasaran.

Ibu tadi kemudian mengulurkan satu kantong kresek yang berisi jeruk. Si pedagang, melihat sebentar, mengambilnya satu buah, lalu sepintas tersenyum dan berkata

“Wah, kalo yang ini sih pasti masam bu, memang warnanya bagus sih,  ini jeruk impor dari Cina, matengnya ngga alami. Malah katanya  ini berbahaya”

“Wah gitu ya pak” sahut si Ibu keheranan.

“Iya bu, kalo milih jeruk jangan tertipu sama kulitnya, jangan mentang – mentang karena bentuknya bagus. Tidak ngejamin bu. kalo orang awam mungkin bisa dikelabui, tapi bagi saya yang jualan jeruk belasan tahun. Yang sudah lulus jadi Sarjana perjerukan pasti tahu bedanya mana yang mateng asli, mana yang nggak

Nih bu, saya ambilin ya, yang ini pasti manis, kalo ga percaya silahkan kupas sendiri” Lanjut bapak tadi sambil memilih satu buah di rak dagangannya yang berisi kumpulan jeruk berwarna hijau kekuningan. “Memang warnanya ngga begitu menarik dibanding yang itu, tapi ini dijamin manis, jeruk lokal”

ah masak sih, beginian manis”. Sergah si ibu ga percaya.

“coba dulu bu, jangan buru – buru ngga percaya” 

Si ibu menurut saja apa kata pedagang, mengupas jeruk yang dipilihkan sembari bercerita kronologi dan awal mula dia tertipu. Dan  benar, jeruk yang dipilihkan si abang penjual, memang manis.

Bener kan bu, manis kalo jeruk disini. Nggak manis boleh dituker.”

“Ibu kan beli jeruk itu yang dimakan daging buahnya bukan kulitnya. Jadi jangan mudah dikelabui sama warna luarnya. Penampilan memang bisa menipu. Jangan karena kita punya pengalaman makan jeruk yang masam lantas menyimpulkan semua jeruk di dunia ini kecut semua. Kasihan jeruk yang benar- benar manis kan kalo begitu?”

“Yang salah bukan pada jeruknya, tapi pada metode kita dalam mengenali dan membedakan jeruk mana yang kecut, mana yang manis.”

“Iya ya bang, bener. Kayaknya itu ngga berlaku cuma untuk jeruk aja deh ya”. Jawab si Ibu sambil tersenyum  malu karena sadar telah salah sangka.

Lha, saya memang sedang tidak membahas  jeruk, bu”. Sahut  bapak pedagang itu, misterius.

Tagged ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.