“Oh iya, Kamu dari tadi di sini ya? Mengapa tak langsung menghampiriku ke mejaku di sebelah sana? “
“Oh, Maaf, aku kira kamu sedang menunggu seseorang. Jadi aku merasa tidak enak bila mengganggu”
“Ah, sudahlah. Menyebalkan memang. Lain kali saya tidak mau lagi bertemu dengan dia. Dua jam! Coba bayangkan, dua jam! Dan dia tak kunjung datang.” Kimya-pun menggerutu, sembari menahan kesal.
Melihat Kimya sedang kesal, aku tak tega hati meneruskan pembicaraan tentang seorang dungu yang tak tahu diuntung itu. Kucoba sebisa mungkin mengalihkan pembicaraan untuk menghiburnya.
“Kimya tahu gak? Coba kau perhatikan di luar sana sedang mendung. Terkadang bila aku sedang lelah menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Aku sering resah dan menatap ke luar. Berharap seseorang yang kutunggu datang. Meskipun aku tak pernah tahu kapan orang yang aku tunggu itu datang. Aku tak pernah tahu di detik keberapa, di menit keberapa, di jam keberapa. Itu semua adalah di luar kuasa kita. Kita tidak bisa menginginkan segala sesuatu pasti terjadi pada kita. Kita tak bisa mengatur apakah besok akan cerah atau berawan. Ada banyak hal di luar sana yang berada di luar kendali kita.”
“Tapi… respon kita sendiri terhadap sesuatu itu yang menjadi kuasa penuh kita. Kita bisa memilih salah satu dari dua kemungkinan: Kemungkinan pertama, kita bisa menjadi orang yang reaktif – yang dengan mudah bereaksi dari apa yang terjadi di sekitarnya. Seperti bensin yang mudah tersulut api. Seperti alkali, logam yang paling reaktif dalam tabel periodik, begitu mudah melepaskan elektronnya. Moody, mudah murung jika suasana mendung, dan baru gembira bila di luar sana cerah.”
“Sedangkan kemungkinan yang kedua, kita bisa menjadi orang yang “proaktif”, orang yang berdaulat dengan dirinya sendiri. Yang mampu menciptakan sendiri cuacanya. Jikalau di luar sana sedang mendung. Maka jangan biarkan mendung itu membuatmu gelisah. Ciptakanlah mataharimusendiri, sehingga cerah terbit menerangi”
“Kamu tahu bagaimana kita bisa menciptakan mentari di saat mendung gini?’
“Bagaimana?” tanyanya penasaran.
“Dengan tersenyum!” Akupun menatap mata Kimya, sembari tersenyum. Kimyapun merespon dengan senyum manisnya.
“Nah kan!” Barusan kamu sudah membuat matahari sendiri. Memang, Senyum biayanya jauh lebih murah dibanding dengan listrik, tapi dijamin akan lebih banyak cahayanya “
***
Semenjak pertemuanku malam itu dengan Kimya. Aku jadi sering banyak menghabiskan waktu di kafe ini. Aku tak tahu secara pasti mengapa. Mungkin di sini aku bisa berharap bertemu lagi dengannya, meskipun sudah beberapa hari ia tak terlihat. Pesan – pesan yang aku kirimkan ke ponselnya masih jarang dibalas, namun ia begitu nampak ramah saat kami berpapasan. Tatapan matanya dan senyumnya seperti mengatakan kepadaku bahwa tak ada masalah di antara kami. Aku sering bertemu dengannya hampir setiap minggu, di tempat kursus bahasa itu. Tidak sia – sia juga ternyata aku mendaftar. Kadang aku sering sengaja menunggunya hingga kelasnya selesei, agar kami bisa pulang dan bicara bersama.
Kadang pikiranku menebak – nebak apa yang ada di lubuk hatinya. Sebagaimana cahaya yang bisa dianggap sebagai gelombang, namun pada saat yang lain juga bisa dianggap sebagai partikel. Mengapa Kimya juga seperti dua sosok yang berbeda? Di satu sisi adalah sosok yang hangat, sedangkan di satu sisinya begitu dingin. Apakah ia juga menaruh perasaan yang sama padaku, atau aku yang terlalu menaruh harapan yang berlebih?
Karena itulah aku sering berkunjung ke kafe ini, karena ini adalah satu – satunya cara untuk mengobati penyakit rinduku pada Kimya tanpa harus terlihat menganggunya. Aku suka atmosfir dan suasananya. Albert Einstein pernah mengatakan bahwa waktu adalah relatif bergantung pada kerangka pengamat. Waktu adalah hal yang bersifat pribadi. Masing – masing pengamat bisa memiliki pengukuran waktu yang berbeda dengan yang lain. Mungkin itulah yang kurasakan di kafe ini. Aku merasakan waktu berulang di sini. Waktu dimana ia masih duduk di kursi sebelah sana. Waktu dimana ia tersenyum manis padaku. Waktu dimana bisa kutatap indah hitam matanya.
Aku memesan secangkir kopi hitam seperti biasa. Kopi yang sama yang kupesan saat Kimya ada di depanku. Kopi hitam yang pahitnya kuminum perlahan, yang hangatnya kurasakan menyentuh lembut kerongkongan. Kopi hitam yang kuajak berteman dengan buku – buku yang kubaca hingga membuatku tenggelam dalam jutaan kilo meter samudera kata.
“Bip bip!!” Dering notifikasi berbunyi di ponsel pintarku. Membangunkanku yang sedang larut di dalam buku – buku yang kubaca. Aku berharap itu notifikasi pesan instan dari Kimya. Tapi seperti biasa, aku salah. Itu bukan notifikasi pesan instan dari Kimya, melainkan sebuah friend request dari akun media sosial milikku. Sejenak aku perhatikan, itu friend request dari seorang wanita, namanya Kiran. “Sepertinya aku pernah mengenal nama ini.” Aku bergumam sendiri. “Tapi aku lupa dimana ya?” Butuh waktu beberapa menit sampai aku bisa ingat dan memastikan bahwa ternyata ia Kiran temanku sewaktu SD. Aku hampir lupa, jika tak melihat foto – foto masa kecilnya yang juga diunggahnya di akun media sosialnya.
Kiran adalah teman satu kelasku sewaktu Sekolah Dasar. Seorang gadis kecil dengan rambut hitam panjang yang selalu terkuncir. Aku tidak ingat kapan pertama kali mengenal Kiran. Aku masih berumur 6 tahun kala masuk Sekolah Dasar, sehingga tidak begitu mengenali seluruh teman kelasku yang berjumlah 40 an. Aku mulai menyadari keberadaan Kiran di saat kelas 3 SD. Saat guru kami waktu itu sengaja mengatur tempat duduk ,murid – muridnya untuk meredam keramaian yang sering terjadi di kelas. Murid pria sengaja disandingkan dengan murid perempuan. Aku kebetulan yang mendapat bagian bersebelahan dengan Kiran di dalam satu bangku.
Sekilas aku memperhatikan Kiran saat itu adalah anak perempuan yang rapi, aku bisa perhatikan dari aksesoris rambutnya, tas dan kotak pensil yang ia gunakan selalu saja tertata dan ia akan mengecek ulang semua barangnya sudah tersusun rapi sebelum bel pulang sekolah berbunyi.
Sejak saat itu kami mulai berteman akrab, kami memiliki banyak kesamaan, sehingga sering bermain dan belajar bersama. Rumah kami cukup berdekatan, meskipun berbeda kampung beberapa ratus meter. Rumah Kiran berada di rute yang aku sering lewati saat pulang sekolah, sehingga tak jarang kala orang tua Kiran memergokiku lewat di depan rumahnya, aku dan beberapa temanku hampir pasti dimintanya untuk mampir. Aku dengar ayah Kiran bekerja di perusahaan teknologi yang berada di Singapura. Tapi aku heran mengapa Kiran hanya disekolahkan di SD Negeri, bukan di sekolah – sekolah swasta dengan fasilitas yang “wah“? Mungkin karena SD kami yang paling dekat dengan rumahnya, atau orang tuanya ingin mendidik Kiran agar tumbuh menjadi gadis sederhana, yang tidak membeda – bedakan teman? Entahlah.
Saat kami menginjak kelas 4 SD. Orang tuanya pindah ke Jakarta, sehingga Kiran juga harus pindah bersekolah di sana. Selang satu tahun kemudian aku mendengar kabar ia pindah sekolah ke luar negeri, mengikuti kedua orang tuanya yang bekerja di sana.
Kini, setelah belasan tahun aku tak tahu menahu kabarnya, tak kusangka ia sekarang menjadi seorang gadis cantik. Ia memiliki pesonanya sendiri yang membuat hati laki – laki tertarik. Ia pandai sekali dalam hal memadupadankan pakaian yang ia kenakan. Pakaian, syal, sepatu hingga apa saja yang dikenakannya selalu nampak pantas ia kenakan. Aku bisa menilainya melalui foto- foto selfie –nya yang dia unggah di akun media sosial-nya.
Klik! Aku menyetujui friend request darinya. Tak lama kemudian, muncul lagi notifikasi di ponsel pintarku, kali ini chat dari Kiran. “Hii… are u still remember me?” Sapanya. Ia bertanya apakah aku masih mengingatnya. Akupun membalas pesan itu, hingga terjadilah pembicaraan yang panjang. Kami bertukar kabar, juga cerita. Cerita – cerita semasa kami di SD dulu. Aku tersenyum – senyum sendiri membacanya. Kenangan kami dibawa jauh melintasi waktu belasan tahun yang lalu di saat usia kami masih 9 tahun. Mulai dari si Amir yang terkenal suka nangis di kelas, hingga Bima yang paling nakal dan sering dihukum oleh Bu Erna, Guru kami di SD. Ah, memang mengasyikkan suasana semasa SD. Tidak ada beban apapun, gembira selalu, bermain dan bermain.
“i want to go to Indonesia, next week. Ketemu yuk, sekalian jemput aku ya di airport :p. c u”
Kiran memberitahuku jika ia akan berkunjung ke Indonesia, setelah sekian lama ia tinggal, bersekolah dan kuliah di Helsinki. Sebagai teman SD yang baik, tak ada pilihan lain bagiku selain meng-iya-kan ajakannya itu. Lagipula semua keluarganya sudah menetap di Helsinki. Tinggal Kakek dan neneknya yang masih bertahan tinggal di Sleman. Jadi siapa lagi teman yang ia punya selain teman kecilnya seperti aku? Oke, kamipun janjian bertemu di bandara.
***
Hari ini adalah Minggu. Jam digital di Bandara menujukan pukul 08.00. Suasana pagi yang lumayan cerah. Langit begitu biru dengan sedikit awan. Bandara Soekarno Hatta, seperti biasanya, selalu dipenuhi oleh kerumunan manusia, yang hendak berangkat ke berbagai penjuru ataupun baru datang di Jakarta. Diantara ribuan kerumunan manusia itu ada seorang laki – laki berkemeja putih dengan motif bergaris dan celana jeans warna biru. Laki – laki itu adalah aku, yang sampai saat ini sudah menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk menunggu di pintu kedatangan Internasional dan masih belum ada tanda – tanda kedatangan pesawat yang ditumpangi Kiran. Terakhir ia berkirim pesan padaku bahwa pesawatnya mengalami delay saat transit di Abu Dhabi, jadi mungkin ia akan terlambat saat tiba di Jakarta. Aku menunggu dengan resah, bolak – balik sembari melihat informasi kedatangan penerbangangan yang ditampilkan di sebuah layar monitor di bandara.
Karena terlalu lama menunggu aku tertidur entah berapa menit sampai tiba – tiba seseorang menepuk pundakku, sembari memanggil namaku dari belakang, seperti setengah hendak mengagetkanku. Sontak aku berdiri dan menengok ke belakang, ternyata seorang wanita cantik dengan rambut sepundak, dan tinggi semampai tersenyum ke arahku..
“Kiran?” aku bertanya, untuk memastikan bahwa aku tak salah orang.
“Siapa lagii..“. jawabnya dengan begitu ceria.
“Ohh, Hay Kiran, apa kaa….” aku hendak menjabat tangannya, tapi belum sempat aku mengulurkan tanganku, Kiran tiba – tiba saja merangkul badanku dan memeluknya. Aku sedikit terkejut, tak biasanya aku dipeluk oleh seorang gadis. Mungkin karena ia begitu lama terbiasa dengan kultur di eropa dimana berpelukan adalah suatu ungkapan persahabatan yang biasa. Cukup lama ia memelukku, sekitar lima detik. Aku hanya bisa diam, dan sedikit kik kuk untuk merespon sambutannya itu.
Tak kusangka ternyata Kiran jauh lebih cantik dibandingkan yang di foto. Pakaian yang ia kenakan, meskipun sederhana namun membuatnya terlihat berkelas dan elegan. Aku yakin ia pasti menjadi pusat perhatian banyak orang disekitarnya.
“Eh kamu diem aja, gak seneng ya ketemu temen lama?” tanya Kiran heran melihat responku yang agak canggung
“Nggak kok, seneng banget malahan, saking senengnya sampai bingung bingung aku mau ngomong apa. Oh iya sini aku bawain kopernya” Akupun mencoba membantu membawakan koper Kiran yang lumayan banyak, namun ia mencegahku.
“Nggak usahlah, aku masih bisa bawa sendiri kok. Kamu sudah mau jemput di airport saja aku sudah seneng” Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya, ia ternyata masih ramah seperti dulu. Seperti saat kami masih di Sekolah Dasar.
Aku mengantarkan Kiran pergi ke Hotel tempat dimana ia akan menginap. Dalam perjalanan Aku dan Kiran bicara panjang lebar. Cerita – cerita masa kecil kami. Kekonyol – kekonyolan kami yang pernah kami lakukan dulu.
“Eh dulu itu kamu tomboy banget, sekarang jadi kok jadi feminim gini ya?” Tanyaku setengah meledeknya.
“Kenapa? Jatuh cinta ya” Jawabnya dengan bercanda, membalas ledekanku.
“Ya Iyalah, namanya juga perempuan setelah dewasa pasti jadi feminim. Kamu tuh yang masih belum berubah”
“Belum berubah gimana ?”
“Ya, belum berubah. Masih sama seperti dulu. Ya, potongan rambut kamu, gaya kamu bicara, cara kamu berjalan. masih sama” Kiran-pun tertawa renyah. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyumku seperti biasa.
“Tapi ada satu hal dari kamu yang sekarang sudah berubah”
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
Bersambung

