Sampai suatu masa takdir mempertemukan aku dan Kimya di sebuah ruang dan waktu. Suatu takdir di sebuah gerbong kereta api yang melaju. Sebuah takdir yang telah Tuhan rencanakan sebelum Dia menciptakan alam semesta ini. Sebuah takdir pertemuan yang mengubah hidup seorang laki – laki untuk selamanya. Sebuah pertemuan yang menerobos tidak hanya batas satuan fisika, namun juga jarak hati antara manusia.
Mengapa aku menyebutnya Takdir? Karena peluang untuk aku bertemu dengan Kimya dalam perhitungan probabilitas adalah sangat kecil. Siapa yang bisa memastikan aku akan mengambil tempat duduk yang bersebelahan pada hari yang sama dengan Kimya? Karena lebih banyak kemungkinan aku dan Kimya akan mengambil kursi yang berbeda, gerbong berbeda, juga hari yang berbeda!
Namun akan lain ceritanya jika Teori Feyman tentang “historical sum over” atau “jumlahan sejarah” berlaku tidak hanya pada tingkatan kuantum tapi juga pada manusia seperti kita. Menurut teori itu, setiap zarah tidak hanya memiliki satu sejarah, namun juga bisa memiliki semua sejarah yang berbeda secara bersamaan, karena semua sejarah yang ada adalah “mungkin” alias probabilitasnya tidak nol. Sehingga bisa saja aku dan Kimya akan memiliki pengalaman yang bersamaan terhadap perjalanan ini. Pengalaman saat kami bertemu, dan juga pengalaman saat aku dan Kimya tidak bertemu dan bersebelahan dengan orang lain.
Seperti pada kereta yang aku dan Kimya tumpangi malam itu. Teori jumlahan sejarah seakan ingin mengatakan, bahwa tidak ada yang bisa memastikan lintasan yang mana yang akan dilalui si kereta. Apakah ia akan menempuh perjalanan melalui stasiun Yogyakarta, Semarang, ataukah ‘menyasar’ terlebih dahulu ke bulan sebelum tiba ke Stasiun Gambir? Tak ada yang tahu! Karena peluang untuk menempuh semua lintasan itu tidaklah nol. Tidak ada yang bisa menentukan secara pasti lintasan manakah yang dilalui sebuah kereta ketika ia bergerak dari titik A ke titik B. Semua lintasan berpeluang untuk dilalui. Yang bisa diketahui hanyalah informasi bahwa zarah tersebut bergerak dari titik A menuju titik B. Itu saja.
Pemahaman kita mengenai teori penjumlahan sejarah memang teramat membingungkan. Sama membingungkannya dengan peristiwa yang terjadi setelah aku dan Kimya bertemu. Semenjak pertemuan itu aku seolah – olah sering berhalusinasi, melihat bayang-bayangnya selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Ia selalu nampak hadir di saat aku bekerja, makan, bahkan tidur. Seorang gadis dengan rambut hitam ikal mayang, bibir berkilauan bak batu rubi, mata hitam bercahaya dan jernih seperti cahaya rembulan di malam hari, kini berlari – lari di setiap pandanganku.
Aku bertanya pada diriku sendiri, Kapan aku bisa berhenti dari kegilaan ini? Sepertinya aku harus bertemu dengannya. Entah itu untuk sekedar mengagumi pesonanya dari jauh atau sekedar bertegur sapa satu dua kata. Syukur -syukur jika waktu mengijinkanku mencuri masuk ke dalam mimpinya. Namun, aku bukanlah lelaki yang pandai dalam urusan mendekati wanita. Lebih mudah bagiku mengenali Nebula Crab pada rasi bintang taurus, yang berjarak 6000 tahun cahaya, dibanding harus memahami seorang perempuan. Sungguh benar-benar kemalangan untuk seorang laki – laki sepertiku.
Terlebih lagi, hati perempuan bukanlah satu set hukum -hukum fisika yang bisa dimengerti dan diseleseikan dengan perhitungan kalkulus ataupun deferensial. Setahuku belum ada satupun ilmuwan yang bisa mengemukakan hukum yang bisa merumuskan tentang perilaku dan perasaan mereka. Jika para ilmuwan sekarang sedang kebingungan berusaha menemukan teori terpadu agung yang menggabungkan antara Teori Relativitas Umum dengan Mekanika Kuantum. Aku tak yakin teori itu sanggup membongkar apa yang ada di dalam hati kaum hawa.
Mungkin itulah mau Tuhan, Ia sekedar menentang sikap pongah ilmuwan, bahwa segala keindahan tidak selalu berasal dari suatu tatanan hukum – hukum yang teratur dan bisa mereka pahami. Buktinya ada yang disebut “perasaan wanita” meskipun tidak teratur dan sulit dipahami, namun juga indah.
Seringkali aku mengirim pesan-pesan instan ke ponsel Kimya untuk sekedar menanyakan kabar, dan berbicara satu dua patah kata. Namun pesan – pesan itu hanya direspon dengan jawaban yang tidak lebih panjang dari 5 kata. “Mengapa sikapnya begitu berbeda dengan yang dulu kita bertemu pertama kali? Dulu ia begitu hangat, care. dan menyenangkan. Apakah ia hendak ingin menghindariku?” Heranku di dalam hati.
“Ah, mungkin dia sedang sibuk” Aku mencoba menghibur -hibur diriku sendiri.
***
“Silahkan diisi di bagian sini, kemudian ditandatangani di sini ya pak”
Seorang perempuan paruh baya menyodoriku di mejanya sebuah formulir pendaftaran sembari menaruh jari telunjuknya di kotak – kotak yang dianggapnya penting untuk saya isi.
Aku mengisi formulir yang disodorkanya dengan seksama, mencocokannya dengan data yang ada di KTP milikku. Begitu selesei kemudian aku serahkan padanya kembali. Wanita itu melihat beberapa saat formulir yang telah aku isi, sebelum ia kemudian mengumpulkannya dengan beberapa berkas yang ada di map. Selembar kwitansi yang tersimpan di laci kemudian dikeluarkannya dan diisi dengan nominal biaya yang harus saya bayarkan. Setelah melakukan pembayaran secara tunai, wanita itu kemudian memberiku beberapa jilid buku dan beberapa keping CD yang nanti katanya akan digunakan saat kursus. Ada juga beberapa lembar kertas yang berisi jadwal kelas.
“Jadwal kursusnya mulai sabtu depan ya pak” ujar wanita itu memberikan informasi kepadaku
Kini aku telah resmi terdaftar di sebuah lembaga kursus bahasa. Ini adalah lembaga kursus yang konon sama dengan tempat kursus dimana Kimya juga terdaftar. Aku separuh berjudi untuk hal ini. Karena aku tak punya informasi ia berada di kelas yang mana jam berapa, jadwalnya di hari apa saja. Ah, ada banyak hal yang tidak kutahu. Bagaimana mungkin aku bertemu jika terus begini. Tapi.. setidaknya aku sudah selangkah lebih dekat dengannya. Sehingga peluangku untuk bertemu dengannya agak sedikit lebih besar dari sebelumnya. Sedikit!
Di hari sabtu, keesokan harinya adalah hari pertamaku masuk kursus. Pukul 10.00 seperti yang dijadwalkan, kelas dimulai. Para peserta, termasuk aku sudah duduk dengan rapi di beberapa kursi yang disediakan. Hanya ada sekitar 9-10 peserta di kelas itu. Kabarnya memang jumlah siswa per kelas sengaja dibatasi, untuk menjaga fokus dalam belajar. Seorang instruktur masuk ke dalam kelas dan memperkenalkan dirinya. Ternyata lembaga ini menggunakan para native speaker sebagai pengajarnya. Pantas saja biayanya mahal. “Apa memang nggak ada orang indonesia yang jago bahasa inggris ? Pikirku dalam hati.
Ah meskipun para pengajarnya adalah seorang native speaker, toh aku tetap gak bisa fokus selama kelas berlangsung. Pikiranku dibawa berputar – putar oleh bayangan Kimya, seperti halnya elektron yang berputar – putar menggoda di valensi inti atom. Biasanya aku orang yang mudah untuk berkonsentrasi pada suatu pelajaran. Namun kenapa sekarang begitu susah? Satu – satunya yang membuatku bertahan duduk dan mengikuti uraian panjang lebar bule itu adalah karena aku sudah mendaftar mahal untuk mengikuti kursus ini.
Untungnya dua jam yang melelahkan itu pun usai. Aku bergegas keluar, mencari informasi sebanyak – banyaknya tentang Kimya, entah itu dengan bertanya atau melihat – lihat papan pengumuman yang penuh dengan daftar nama peserta kursus. Ah, namun semuanya sia – sia. Hingga beberapa jam lamanya aku tak mendapatkan informasi apapun tentang gadis cantik itu.
“Begitulah kalo belajar niatnya nggak tulus. Ilmu gak dapet, Kimya gak dapet. Dimana – mana kalo orang kursus itu untuk mencari ilmu, bukan mencari wanita” gumamku sendiri di dalam hati, mengkritik ketololanku.
***
Malam sudah mulai menebarkan selimut hitamnya. Jingga langit mulai diganti lampu – lampu penerang di tiap – tiap toko. Aku dalam perjalanan pulang berjalan menyusuri sebuah blok pertokoan yang dipenuhi dengan lalu lalang banyak orang yang sedang sibuk berbelanja untuk akhir pekan. Suasana begitu ramai, terlebih hari ini adalah sabtu. Pasti makin banyak orang keluar ke jalan untuk mencari hiburan.
Tiba – tiba ada sesuatu yang menghentikan langkahku. Tak sengaja aku melihat Kimya sedang duduk di sebuah kafe seberang jalan tak jauh dari tempatku berdiri. Parasnya yang anggun tampak terlihat jelas di balik kaca tembus pandang kafe itu. Namun aku sedikit ragu – ragu. Apakah itu hanya sekedar halusinasiku atau memang benar – benar Kimya? “Aku tidak sedang gila kan?” Aku bertanya – tanya sendiri, setengah tak percaya dengan yang kulihat.
Agak lama aku perhatikan sosok cantik dibalik kaca transparan kafe itu. Ya, sepertinya aku memang tidak sedang berhalusinasi. Itu memang benar Kimya! Tak bisa kututupi perasaan gembiraku waktu itu meskipun juga terbesit penasaran, sedang apa Kimya sendirian di sana? Sebenarnya aku ingin menghampiri gadis manis itu, sekedar untuk mengucapkan salam, tapi segera kuurungkan niat itu. Aku tidak ingin terlihat mengganggu ataupun tampil begitu mencolok sedang mendekatinya. Toh mungkin ia sedang menunggu seseorang.
Namun karena rasa penasaran yang begitu kuat. Akhirnya kuambil jalan tengah, kuputuskan untuk masuk ke dalam kafe itu agar bisa sedikit lebih dekat memandanginya tanpa harus diketahui olehnya. Aku sengaja masuk dari pintu yang berada agak jauh di belakang posisinya duduk. Aku usahakan agar kedatanganku tidak terlihat oleh Kimya. Begitu masuk aku pilih tempat yang strategis. Di sebuah sudut yang terpaut tiga hingga empat meja. Tidak terlalu jauh, tidakpula terlalu dekat.Tersembunyi namun masih bisa memandangi cantiknya dengan leluasa.
Kuperhatikan sekian lama, nampaknya Kimya sedang menunggu seseorang. Aku bisa lihat dari di garis – garis parasnya. Bibirnya yang mengerucut dan cemberut sembari berulang kali ia tengok layar ponselnya. “Mungkin sedang menunggu sebuah pesan dari seseorang, kekasihnya mungkin”, batinku
“Betapa tak tahu dirinya seseorang yang membuat bunga mawar secantik itu menunggu”. Gumamku dalam hati.
“Aku heran, mengapa kau tak tinggalkan saja laki – laki seperti itu. Toh masih banyak laki-laki baik yang lebih pantas untukmu. Yang bisa menemanimu minum kopi, memilih baju, ataupun menonton film drama”. Aku berbicara sendiri di dalam hati seolah – olah Kimya dapat mendengarku
“Andai saja akulah laki – laki itu, pastilah aku tak akan membuatmu seresah itu”. Akupun melamun sendiri memandang kopi hitam yang baru saja dihidangkan pelayan kafe di mejaku, sampai aku lihat sosok bayang – bayang yang tiba – tiba samar muncul di kopiku. “Halusinasi lagi”. pikirku.
“Eh, kamu disini?”. Tiba – tiba suara lembut itu terdengar.
Aduh, Ya Tuhan.. Mataku tiba – tiba terbelalak mendengar suara merdu itu. Leherku yang tadinya menunduk sontak tegak. Ternyata Kimya benar – benar sudah di depan mata. Padahal perasaan tadi aku sudah memilih tempat duduk yang paling tersembunyi. Aku memang tidak berbakat jadi detektif.
“Eh anu..” Aku kebingungan memilih kata -kata.
“Anu apa?“.
“Ngg… Nggak kok, aku sedang merenung sehabis membaca buku ini”. Langsung saja kutunjukan buku yang untungnya sedang kutaruh di atas meja.
“Eh iya silahkan duduk”
“Buku apa itu?”, tanyanya lagi penasaran
“Ini, Sejarah Singkat Waktu”
” Terus sekarang merenung apa? Serius begitu kelihatannya?” Kimya mengejarku dengan pertanyaan demi pertanyaan, bak seorang polisi yang menginterogasi seorang tersangka.
“Merenungi kopi ini” Jawabku asal saja.
“Lha kok merenungi kopi?”.
“Aku merenungi kopi ini, Mengapa ya, meskipun kopi itu pahit, namun banyak orang yang menggemarinya. Padahal masih banyak minuman manis lainnya?”
“Memang kenapa? Kamu tahu?”
“Entahlah, Mungkin karena kopi adalah kopi”
Aku berhenti sejenak di kalimatku itu, sedikit membuat jeda, untuk membuatnya penasaran, sembari sekilas memperhatikan indah matanya. Aku suka caranya melihatku saat aku bicara. Ada sesuatu di hitam matanya, dan itu aku.
“Mungkin karena kopi adalah kopi. Ia tidak hanya punya rasa pahit. Tapi coba kau cium aromanya. Harumnya tidak dapat kau temukan di minuman yang lain kan? Mungkin juga orang meminum kopi tidak karena mencari rasa pahitnya. Mungkin untuk kafeinnya. Mungkin karena semangat yang ia tawarkan.”
“Seperti kopi, kita tidak harus menjadi semanis gula, agar disukai banyak orang. Jika yang kita punya adalah rasa pahit, maka orang akan tetap menyukaimu asalkan itu disajikan dengan cara yang hangat dan dengan niat yang tulus”
“Ohh.. gitu, iya juga ya. Kok kamu bisa kepikiran sampe ke situ?”. Kimya sejurus tersenyum mendegar perkataanku.
“Oh iya, Kamu dari tadi di sini ya? Mengapa tak langsung menghampiriku ke mejaku di sebelah sana? “
Bersambung

