Bingkai Kata, Novel

Proxima Centauri (Bagian ke – 3)

Image enregistrée avec les ajustements inclus.“Kau meminjami aku sebuah buku, yang masih kusimpan hingga kini. Buku yang berjudul ‘Sejarah Singkat Waktu’ tulisan Stephen Hawking. Sebuah buku tentang fisika, namun tidak memilliki rumus matematika apapun di dalamnya selain e=m.c2. Sebuah rumus tentang kesetaraan antara massa dan energi. Bahwa massa yang kecil dapat diubah menjadi energi yang luar biasa besar”.

“Aku menemukan engkau menyelipkan satu lembar kertas dengan tulisan tanganmu di dalam buku ini. Engkau menulis bahwa tidak ada yang kecil di dunia ini. Karena  di setiap materi dengan massa 1.6606 x 10 -27 kilogram tersimpan energi 931, 5 juta elektron volt. Elektron volt adalah satuan energi yang didefinisikan sebagai energi yang dibutuhkan 1 elektron untuk melintasi perbedaan potensial 1 volt. Energi yang begitu besar itu tersimpan pada semua materi yang ada di sekitar kita. Pada bintang, meteor, batu, pohon – pohon, bahkan pada unsur- unsur pembentuk tubuh kita. Energi sebesar ini sudah ada secara potesial di seluruh jagad raya. Inilah yang kemudian dikenal sebagai energi inti atom, atau dunia sains lebih suka menyebutnya energi nuklir. “

“Kemudian kau lanjutkan tulisanmu pada sebuah kesimpulan : jangan pernah meremehkan diri kita sendiri. Betapapun kita merasa diri ini rapuh dan lemah. Manusia diciptakan dengan energi yang luar biasa besar. Masalahnya hanya pada bagaimana membuat energi potensial itu muncul ke permukaan secara terkendali. Itulah mengapa manusia dianugerahi Tuhan dengan akal dan pikiran”

“Kamu memang laki – laki yang aneh ya, biasanya cowok akan memberikan seorang wanita yang disukainya bunga, atau coklat. Namun kau malah meminjamiku buku, tentang fisika lagi. Kamu meminjamiku buku ini, seolah – olah kamu yakin bahwa buku ini akan kubaca.”

“Tapi bagaimanapun aku berterimakasih kau telah meminjamiku buku ini. Tapi, waktu itu aku bingung ketika ingin  mengembalikan buku ini padamu. Semua kontakmu sudah tidak aktif. Ternyata kau sudah tidak ada di Indonesia ya.  Aku baru tahu kepergianmu itu setelah mendapat kabar dari teman akrabmu, kalau kau mendapatkan beasiswa dari Pemerintahan Turki untuk meneruskan studi Master-mu di sana. Mengapa kau tidak mengabariku? Mungkin aku bisa mengucapkan selamat tinggal atau setidaknya kita bisa minum kopi bersama sebelum kau pergi.”

“Namun aku tidak hendak menyalahkanmu, atas sikapmu itu. Apa yang kau lakukan itu tentu adalah akibat perbuatanku sendiri juga. Tidak ada segala sesuatu yang ada  di dunia ini terjadi dikarenakan hanya satu sebab saja. Seperti halnya bola tenis yang mengalami gerak jatuh bebas. tidak semata – mata disebabkan karena gaya gravitasi, namun juga karena ada orang yang melepas bola itu di suatu ketinggian. Aku mungkin yang telah menyebabkan bola itu lepas, sehingga mana bisa aku menyalahkan gaya gravitasi yang menarik bola itu ke bumi. Tidak ada reaksi, tanpa terlebih dahulu diawali dengan aksi-kan?”

“Sekarang aku baru mengerti apa maksud ucapanmu bahwa kita tidak akan pernah tahu nilai dari air, sampai sumur itu kering. Selama ini kau ada dengan perhatian dan sikap unikmu. Aku jarang memperhatikannya. Aku sukar untuk menilainya secara obyektif. Namun saat dua tahun kepergianmu.  Aku baru  merasakan ada sesuatu yang hilang dalam kehidupanku selama ini. Sesuatu yang teramat berarti namun sering kuabaikan. Sesuatu yang sangat berharga namun selalu tak kusyukuri.”

“Rasa kehilangan seperti itulah yang mungkin juga dirasakan oleh inti- inti  atom yang kehilangan proton-proton penyusun intinya. Kehilangan proton dalam suatu unsur akan mengakibatkan nomer atom unsur itu berubah dan itu artinya ia telah  menjadi unsur yang lain. Seperti halnya Polonium-210 yang berubah menjadi Timbal, karena kehilangan 2 proton dalam intinya. Saat cerita- ceritamu yang biasanya ada, tiba – tiba tak lagi kudengar,  entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang hilang yang menjadikanku lain sekarang. Mungkin karena itu!. Mungkin kau adalah proton itu.  Mulanya aku tak menyadarinya. Namun lama kelamaan, aku semakin yakin akan  kenyataan itu. “

Suasana begitu hening setelah Kimya mengungkapkan kalimat itu. Sebuah kalimat yang menghujam dalam sampai jantungku. Kimya mengungkapkan kalimat itu sembari meneteskan air matanya, meskipun sebisa mungkin ia tahan-tahan jatuhnya. Perempuan secantik ini  begitu terluka di depan mataku. Semua orang – orang yang melihatnya pasti akan menyalahkanku. Mereka pikir aku adalah laki-laki tak berguna yang  hanya bisa membuat seorang perempuan bersedih. Segera tanganku meraih pipi merahnya lalu kuseka air mata yang berlinang itu sambil berkata.

“Kimya,  aku minta maaf”.

“Aku minta maaf jika pergiku membuatmu seperti ini.  Sebelum kepergianku ke Turki, aku sudah berencana untuk menemuimu. Tidak hanya untuk berpamitan, namun aku ingin menyampaikan sepotong surat yang mengungkapkan kandungan perasaanku. Aku menginginkan kau menemaniku di sisa umurku dalam suatu ikatan suci yang dibuat Tuhan. Aku sudah menyiapkan segala hal yang mungkin diperlukan pada pertemuan itu. Sampai tiba kabar di telingaku mengenai pertunanganmu dengan Ryandi.”

Aku berhenti sejenak di kalimat itu,  kulepaskan tanganku dari lekuk pipinya, namun Kimya memegangi tanganku  seperti hendak berusaha menahannya.

“Seluruh jantungku laksana remuk redam saat itu. Aku baru tahu, ternyata kau sudah begitu lama memiliki  kekasih. Bodohnya aku selama ini. Ternyata aku adalah lelaki yang teramat naif, tak menyadari semua itu.”

“Kabar itu adalah pukulan terkeras dalam hidupku yang membuatku hampir jatuh. Aku mengurung diriku di kamar berhari – hari, dan hanya keluar kala malam tiba, saat semua orang sudah larut dengan mimpi indahnya. Aku keluar  melihat bintang – bintang yang berkilau keperakan di langit sana. Hal yang sama seperti yang kita lakukan sekarang. Aku melihat langit itu, sembari berbicara sendiri seolah – olah bintang – bintang itu memahami keluh kesahku. Aku begitu kagum akan bintang – bintang yang bertebaran di langit itu, ia dengan tulus bersinar di kegelapan malam. Tak perduli apakah manusia pernah berterimakasih atau tidak dengan sinarnya. Tak perduli apakah manusia sedang mencintai atau menyerapahinya.”

“Sepertinya bintang – bintang lebih tabah daripada kita, meski aku tak tahu apakah ia memiliki rasa sakit hati layaknya manusia. Meski aku tak mengerti apakah ia mengalami patah hati layaknya kita. Namun sejauh yang kutahu ia begitu tabah menjalani takdirnya sebagai bintang. Bersinar  bermilyar – milyar tahun hingga tiba waktu  Hidrogennya habis untuk kemudian tiba saatnya runtuh di dalam gravitasinya sendiri”

“Coba perhatikan Proxima Ceanturi itu. Menurut diagram Hertzsprung-Russell, ia tergolong bintang katai merah yang berada di rasi bintang centaurus. Para astronom memperkirakan bahwa ia memiliki ‘jatah hidup’ empat triliun tahun lagi — sekitar 300 kali usia alam semesta kita sekarang– sebelum seluruh Hidrogen yang dimilikinya habis lalu berubah menjadi bintang katai putih. Mungkin itulah sebabnya mengapa bintang – bintang seperti Proxima Ceanturi begitu tabah. Wajar saja, ia telah menjalani miliaran tahun kehidupan di jagad raya, menjadi saksi banyak peristiwa. Masalah – masalah patah hati yang dialami manusia fana  seperti kita hanyalah masalah remeh temeh baginya. Kita ini tidak lebih dari sekedar hamparan debu tata surya yang berada di dalam rasi bintang Cassiopeia”

“Mungkin sudah tiba waktunya, aku harus menjalani hidup layaknya Proxima Ceanturi itu. Mungkin aku harus mulai menjauh darimu dan mencukupkan diri memandangi kecantikanmu dari rasi centaurus hidupku. Dengan tabah menjalani waktu hingga seluruh hidrogen usiaku habis. Kupikir akan lebih baik bagimu untuk seperti itu, dan memberimu kesempatan padamu berbahagia dengan Ryandi. Toh aku yakin dia adalah laki – laki yang pantas untuk perempuan secantik kamu.”

“Maka, jika aku mencintaimu, tidak perlu kau repot – repot untuk balas balik mencintaiku. Aku tak akan menagih kebaikan yang sama seperti yang kulakukan padamu. Maka kupikir lebih baik untuk bersegera pergi tanpa berpamitan denganmu. Melupakan segala yang ada tentang dirimu. Memang berat, namun waktu teruslah bergerak, dan mau tidak mau – suka tidak suka hidup haruslah dilanjutkan”.

“Kimya, aku juga merasakan rasa kehilangan, sama seperti yang kau rasakan. Meskipun, dalam hidupku aku tidak mempunyai pengalaman lain selain kehilangan. Namun tetap saja keadaan ini begitu memukul. Terkadang aku  tak tahan dan berteriak sekuat tenaga meluapkan kekesalan yang lama kutanggung ini. Begitukah balasan dari dunia yang harus kuterima setelah yang kulakukan selama ini? Jika memang kami tak ditakdirkan bersama, mengapa perasaan ini tumbuh subur dalam sukmaku? Kemarin aku masih merasa senang karena bayang-bayangmu masih hadir dalam mimpiku, kini bayangan itupun direnggutnya juga”

“Mungkin aku tidak bisa memiliki apapun di dunia ini selain rasa kehilangan. Maka bekalku yang terbaik menjalani hidup adalah kerelaan dan kesiapan diri untuk menghadapi kehilangan. Semakin aku mencintai dan ingin memiliki sesuatu, maka harus semakin luas ruang dalam diriku yang kusiapkan untuk mengalami kehilangan akan sesuatu itu. Hal ini mungkin berguna kelak, sehingga aku tidak terlalu terpukul kala hal yang sama menimpaku lagi.”

“Seiring waktu, di sela- sela kuliahku di Istanbul aku sering menghabiskan waktu untu merenung sendiri. Duduk di senja hari di sebuah kafe bernama Boozcada Café di seberang sebuah dermaga kecil yang berada Selat Bosphorus. Selat yang menjadi pemisah  Benua Eropa dan Asia. Disitu kemudian aku menyadari akan sesuatu. Aku sadar bahwa sebenarnya kamu tidak mungkin hilang dari kehidupaku. Meskipun mungkin kau telah berbahagia dengan Ryandi.  Namun bagiku,  mustahil kau untuk bisa hilang. Kini aku mengerti mengapa namamu Kimya. Kimya  di dalam bahasa arab berarti Kimia. Kau memang benar adalah kimia yang sudah mengalir di aliran darahku, menemani trombosit dan mengalir ke seluruh tubuh. Kamu adalah kimia yang ada bersama oksigen yang dihirup setiap waktu oleh alveolusku. Engkau sudah menyatu denganku layaknya denyut jantung, sesuatu yang tak bisa dibedakan, bahkan dengan ruhku sendiri.”

“Aku telah belajar dari kehidupan bahwa  terkadang ketidakhadiran adalah suatu bentuk kehadiran yang jauh lebih terasa. Mungkin tidak secara fisik, kehadiranmu dalam kimia kehidupanku itulah, menjadi pelecut semangatku di Istanbul, membuatku melarutkan diri dengan kerja keras dan belajar yang dipenuhi dengan dendam rindu.”

***

Ledakan Besar

Pada suatu masa yang lampau, sekitar sepuluh hingga dua belas miliar tahun yang lalu. Dimana belum ada yang disebut ruang dan waktu. Belum ada yang disebut berpisah ataupun menunggu. Aku dan Kimya masih tak berjarak. Masih menyatu bersama galaksi – galaksi, bersama Hidrogen, Helium, Kalium dan unsur – unsur lain yang sekarang ada di alam semesta.

Kerapatan alam semesta dan ketika kelengkungan ruang-waktu saat itu tak terhingga. Tak ada perhitungan matematika yang berlaku. Tak ada bahasa yang ada selain sunyi. Sampai satu “Kun” memulai suatu peristiwa. Peristiwa yang dikenal oleh para ilmuwan sebagai ledakan besar.

Sebuah ledakan yang memulai awal terciptanya ruang dan waktu. Ledakan yang memulai terciptanya jagad raya. Memulai lahirnya foton, elektron, neutrino  beserta anti zarahnya, juga beberapa proton dan neutron. Di detik – detik awal saat alam semesta mengembang, terjadilah produksi pasangan antara  elektron dan antielektron.  Produksi pasangan adalah perjodohan antara suatu zarah dengan anti-zarahnya, yang menyebabkan keduanya larut dan hilang berganti oleh foton cahaya. Perjodohan itu terjadi dengan laju yang terus menurun hingga sebagian besar elektron dan antielektron yang ada menjadi foton.

Lantas di zarah sebelah manakah yang kelak akan melahirkan Aku dan Kimya?

Kita sama tidak tahu sampai kemudian waktu menjawabnya di belasan miliar tahun kemudian. Aku dan Kimya dilahirkan di planet biru bernama bumi. Salah satu planet di tatasurya dalam gugusan Galaksi bima sakti. Aku dan Kimya tumbuh dan besar di kota  yang berbeda. Layaknya  Adam dan Hawa yang ditakdirkan turun ke Bumi dalam keadaan berpisah.

Kimya dilahirkan sebagai anak tunggal di kalangan yang berkecukupan. Tumbuh dan besar dalam kasih sayang kedua orang tuanya. Ia beranjak dewasa menjadi seorang gadis yang anggun dan mempesona. Lembut sikap dan berpenampilan sangat bersahaja. Gadis yang yang bersinar cerah seperti mentari pagi, dengan  bola mata yang hitam layaknya mata rusa. Rambutnya hitam layaknya malam, juga tebal dan bergelombang.

Siapapun lelaki yang menatap parasnya, sudah barang tentu jiwa si lelaki itu akan gelisah dan wajah lembut itu akan terkenang hingga ajal menjelang. Apalagi bila sang pemuda menatap pipinya nan kemerahan, sudah pasti degup jantungnya akan berhenti berdetak. Bahkan, jikalau matahari enggan bersinar maka kiranya cukup wajah Kimya yang menggantikan sinarnya. Terlebih gadis yang memiliki pesona itu memperoleh anugerah kecerdasan, ia siswi dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Lengkaplah sudah kesempurnaan dan kemuliaan yang ia miliki.

Bersambung.

Tagged , , ,

2 thoughts on “Proxima Centauri (Bagian ke – 3)

  1. “Aku telah belajar dari kehidupan bahwa terkadang ketidakhadiran adalah suatu bentuk kehadiran yang jauh lebih terasa.”
    Quote of the day. Omg, mas Ted, sweet banget 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.