Pasti senyum itu sudah memikat banyak hati laki-laki sekaligus mematahkannya di saat yang sama. Terlebih lagi, nampaknya kau sudah memiliki kekasih. Bagaimana mungkin gadis secantik kau tidak ada yang lelaki yang mengejar -ngejar. Pasti banyak lelaki yang berlomba – lomba ingin menawan hatimu. Pasti laki – laki itu istimewa-kan? Tentu saja. Tidak seperti aku yang sering tak memiliki cukup nyali mendekatimu. Harusnya kusampaikan padamu saat itu, mengenai senyum yang telah mematahkan teori relativitas einstein. Jujur, aku mulai menyukai saat dimana kau tersenyum. Kuncup bibirmu saja indah, apalagi sekarang sudah mekar sedemikian menawan.
Ah, mungkin aku seperti proxima ceaunturi itu, bintang yang paling dekat dengan bumi, namun berukuran hanya 1/7 dari ukuran matahari. Ukurannya yang sedemikian kecil, membuat kita kesulitan melihatnya, terlebih lagi 85% cahaya yang dipancarkan adalah infra merah. Inframerah adalah spektrum frekuensi cahaya yang berada di luar rentang yang bisa dilihat manusia. Sehingga wajar saja, jika kita sering kesulitan melihatnya. Layaknya aku, yang sudah sedekat ini, namun selalu gagal terlihat di matamu.
Untungnya waktu cukup berbesar hati di saat pertemuan pertama kita. Perjalanan di kereta api yang sedemikian panjang membuatku menjadi satu – satunya laki – laki yang bisa berbicara denganmu. Kitapun mulai banyak pembicaraan, dari masalah membahas tentang pekerjaan, genre buku favorit bahkan hingga rahasia sifat di balik golongan darah. Pembicaraan itu amat panjang hingga tak terasa jarum jam menunjukan pukul 21.30. Aku sudah tak tahu, kereta ini sudah melaju sampai stasiun mana. Yang kutahu hanya wajahmu cantikmu itu yang mulai sayu. sepertinya sedang mengantuk. Akupun segera menyudahi pembicaraan ini, memberikan kesempatan padamu mengucap selamat tidur yang ringkas, lalu beranjak memejamkan mata. Percakapan yang teramat mengasyikan bukan waktu itu? Setidaknya kita sudah lebih dari sekedar bertegur sapa
***
Jam tangan di arlojiku menunjukan waktu 20.42. Taman terlihat sudah mulai sepi, meskipun masih banyak lalu lalang motor dan mobil di jalan raya depan sana. Jakarta masih belum berubah. Masih macet seperti dulu, masih bising dan pengap. Aku heran bagaimana bisa ada bunga mawar bernama Kimya yang begitu indah bisa hidup di belantara beton ibukota yang penuh dengan amarah, dendam dan dengki ini. Ya, Kimya, adalah gadis yang kukenal di kereta api itu. Wanita yang begitu hatiku mencintainya. Pemilik ruas senyum yang seandainya Einstein masih hidup, ia akan memeriksa kembali formulanya tentang waktu yang diakibatkan oleh senyum itu.
Kini dia meminta bertemu denganku, ada sesuatu yang penting yang hendak ia bicarakan. Dia tak menjelaskan lebih jauh lagi. Yang jelas, Kimya memang ahli dan membuat laki – laki sepertiku penasaran. Ini adalah pertemuan pertama aku dan Kimya, setelah 2 tahun aku harus meninggalkan tanah kelahiranku untuk melanjutkan studi Master-ku di Istanbul, Turki.
Pada jam yang telah ditentukan, kitapun bertemu di taman ini. aku mengucapkan salam, menanyakan kabar, lalu menyalami tangannya. Tangan yang kurasakan masih terasa lembut semenjak pertama kali aku berjumpa dengannya. Aku memandangnya sekilas, dan menatap rona wajahnya. Kimya masih cantik seperti dulu, dengan keanggunan yang mungkin akan membuat Yusuf-pun tak sengaja mengiris jarinya sendiri kala mengupas apel karena terpesona akan jelita parasnya.
Kita kemudian memutuskan duduk berdua di sebuah kursi taman ini. Saat itu, aku dan Kimya hanya saling melihat sekitar aja. Suasana yang teramat canggung. Yang bisa ku dengar sekarang hanyalah suara jantungku sendiri yang berdetak – detak. Aku bisa merasakan pula aroma, hela nafas Kimya yang begitu harum berpadu dengan udara malam itu. Sekat – sekat udara yang terjadi di antara kami, memaksaku memulai pembicaraan terlebih dahulu. Aku kemudian bercerita bagaimana pertemuan pertama kami dulu dan membahas banyak hal tentang studi masterku di Istanbul. Aku memberinya sedikit waktu hingga hingga kuyakin sudah siap untuk bercerita apa yang ingin dia katakan.
“Kimya, Tadi kau bilang, kau ingin mengatakan sesuatu? Katakanlah apa yang ingin kau katakan, jangan ragu. Kau sendiri pernah bilang. bahwa Terlalu banyak keraguan membuat kita semakin dekat dengan kegagalan. Jangan khawatir, aku akan siap mendengarkan apapun yang ingin kau ucapkan malam ini”. Ujarku meyakinkannya.
Suasa agak hening sejenak, Kimya menghela nafas dalam sebelum dia mengatakan sesuatu, sementara aku sekilas menikmati hitam bola matanya.
“Iya, aku tadi ingin berkata sesuatu”, Kimya memulai pembicaraan. “namun aku sudah mulai agak lupa apa yang tadi hendak kubicarakan. Iya, aku ingat pertemuan itu. Sudah lama memang. Tapi aku tidak mungkin lupa kejadian tepat empat tahun itu. Kau adalah lelaki berkaos hitam dengan pakaian hampir basah kuyup bersandal jepit. Ternyata, kau habis kehujanan di luar sana ya, aku baru tahu setelah kau cerita. Memang hujan seringkali tidak bersabahat dengan manusia seperti kita. Tapi kita mungkin lebih beruntung, karena di bumi hanya menerima hujan air. Paling ekstrim ya hujan salju, atau es. Aku ingat, kamu dulu pernah bercerita, kalo planet tetangga kita, Venus mengalami hujan belerang dan air keras. Bahkan ada hujan berlian cair, di Uranus dan Neptunus. Aku hampir tidak bisa membayangkan, jika kita sedang di hidup di Neptunus, lalu kamu datang ke gerbong dengan basah kuyup akan berlian”
“Aku pasti ingat pertemuan itu”. Kau melanjutkan ceritamu lagi. “Kamu adalah lelaki aneh yang satu – satunya dan pertama kalinya memanggilku dengan sebutan sebutan ‘nona’. Sudah lama tidak mendengar orang memanggil wanita dengan sebutan itu. Lucu sekali kedengarannya, rasanya seperti kembali ke era tahun 70an. Dari mana kau dapat ide panggilan itu? Aku kira kau manusia dari masa lalu yang melakukan perjalanan lintas waktu ke masa depan”.
“Aku pasti ingat pertemuan itu. Lelaki yang paling banyak bicara di gerbong nomer 1. Kamu bercerita banyak hal mulai dari masalah – masalah kecil hingga masalah – masalah besar. Semuanya bisa kamu bicarakan dengan cara yang menarik dan bisa kau ambil benang merah antara satu cerita dengan cerita lain. Kamu pandai mengaitkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang menurutku waktu itu tak ada hubungannya”
“Seperti halnya kisahmu tentang kelahiran alam semesta, planet – planet, dan bintang – bintang itu. Kamu bilang, bahwa semuanya dulu, apa yang ada di alam semesta ini, berasal dari tempat yang sama. Dari satu titik bervolume nol, lalu kemudian terpisah dengan tiba – tiba oleh sebuah ledakan besar. Kaupun mengatakan, bahwa Edwin Hubble, seorang Astronom Amerika, menemukan perilaku bahwa galaksi bergerak menjauhi satu sama lain. Kau menggambarkan Alam semestea layaknya balon yang sedang ditiup ditiup membesar. Begitulah Alam semesta yang kita tinggali saat ini mengembang dan tumbuh membesar.
“Kelak, saat kecepatan gerak galaksi – galaksi yang saling menjauh itu sudah sampai pada nilai kritisnya, saat gaya – gaya geraknya tidak mampu lagi melawan gaya tarik menarik yang terjadi. Maka waktu itulah, semua benda di dalam semesta ini akan kembali. Galaksi – galaksi itu akan bergerak saling mendekati dan bertubrukan. Suatu peristiwa yang disebut dengan ‘rengkuhan besar'”
“Innanilahi wa innailahi rajiun, katamu. Semua dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan. Bahwa ternyata hakikat hidup itu siklikal. Layaknya ledakan besar yang berakhir pada rengkuhan besar. Seperti elektron yang berputar pada valensinya. Bagaikan planet – planet yang berputar pada orbitnya. Maka hidup adalah tawaf. Semakin kita menjauh dari posisi awal keberangkatan kita, toh pada akhirnya mau nggak mau kita akan menjumpai asal muasal kita. Kau pernah-kan menasehatiku, bahwa jika kita lupa kemana tujuan kita, maka selalu ingatlah dari mana asal kita. Karena tidak akan kemana – mana kita pergi, selain hanya untuk menuju kembali”
“Sadar, atau tidak. Ceritamu inilah yang terus menerus menghantui pikiranku hingga saat ini. Bahwa ternyata semakin lama aku menghindarimu, justru itu akan semakin mendekatkanku padamu. Semakin aku berusaha menjauhimu, nyata – nyata itu adalah cara termudah untuk semakin mendekatkanku padamu. Lalu buat apa aku menghindar, pikirku. Mungkin lebih baik kukatakan saja terus terang apa adanya padamu”
“Karena itulah aku ingin meminta maaf padamu, karena terlalu bersikap tertutup dan cenderung menghindarimu selama ini. Terlebih, setelah pertemuan itu. Kala itu aku memang agak berlebihan ya, bersikap dingin, dan acuh. Menjawab singkat-singkat dan seperlunya pesan-pesan yang kau kirim ke ponselku. Aku tidak ingin memberi banyak harapan padamu. Aku tahu, harapan itu layaknya neutron termal di dalam sebuah reaktor nuklir fisi. Hanya diperlukan 1 neutron termal untuk kemudian bereaksi dengan 1 inti atom dan menghasilkann 2-3 neutron yang masing – masing neutron itu juga akan bereaksi lagi dengan inti atom yang lain, sehingga lama kelamaan akan dihasilkan banyak neutron dengan laju eksponensial.
“Aku tidak ingin satu harapan yang tidak sengaja kuberikan, dapat memicu harapan – harapan lain, dan aku khawatir itu bisa menjadi harapan yang tak terkedali. Meskipun sebagaimana reaksi nuklir fisi di dalam reaktor, neutron – neutron termal itu bisa dikendalikan perkembangannya melalui suatu mekanisme di dalam reaktor. Aku yakin di dalam internal manusia seperti kita juga memiliki pengendalian alami akan harapan, aku yakin kau juga punya. Jadi harusnya perilaku ku waktu itu tidak beralasan, tapi entahlah. Aku sendiri tidak mengerti. Itu sesuatu yang memang rumit”
“Aku ingat, pernah membuatmu menunggu berjam – jam di sebuah kedai kopi untuk sebuah janji bertemu denganku. Aku lupa bahwa saat itu aku ada janji denganmu, sialnya, ponselku waktu itu mengalami kesulitan sinyal, sehingga begitu susah kau hubungi. Tiga jam aku membuatmu menunggu, sampai kita bertemu. Namun tak kulihat seraut-pun wajah kesal di wajahmu. Meskipun pertemuan itu hanya untuk meminjamiku sebuah buku, dan itu berlangsung cepat, 15 menit. Lalu aku bergegas begitu saja tanpa perasaaan. Meninggalkan seorang laki – laki yang telah menungguku selama 3 jam.
Bersambung

