Bingkai Kata, Novel

Proxima Centauri (Bagian Ke – 1)

Image enregistrée avec les ajustements inclus.Kita duduk sedekat ini, malam ini, di bangku taman, disaksikan pohon palem, dan lampu – lampu redup ibu kota. Kau dan aku terpisah hati di beberapa sentimeter ruang udara. Ruang udara yang membuatku bertanya. Mengapa tidak sedikit lagi kita singkirkan sisa ruang ini untuk sementara waktu mengisinya dengan cerita – cerita, dengan kisah apa yang terjadi hari ini, dengan apa yang kau temui di pagi itu. Ya! untuk sementara waktu saja, mungkin itu beberapa menit, beberapa bulan, beberapa tahun, atau bisa beberapa puluh hingga ratus tahun yang kita sanggup.

Bukankah segala yang ada di dunia ini memang sementara. Aku, kamu, dan juga konsep – konsep lain buatan manusia, bahkan teori – teori sains yang dikemukakan oleh para ilmuwan -ilmuwan nan cerdik pandai itu juga bersifat sementara. Teori hanyalah hipotesis yang tak pernah bisa dibuktikan benar. Tak perduli seberapa banyak hasil percobaan yang sesuai teori, kita tak bisa memastikan bahwa kelak suatu hasil tak akan bertentangan dengan teori. Suatu teori bisa dipatahkan dengan menemukan satu saja pengamatan yang tak cocok dengan prediksi teori itu. Tak ada yang harga mati untuk semua buatan manusia. Semua yang ada dalam kerangka waktu pastilah sementara.

“Lantas bagaimana dengan komitmen sebuah hubungan, apakah ia harus meranggas seiring waktu layaknya daun – daun kering di ujung jalan sana? Apakah sebuah ikatan bisa dengan mudah dilanggar hanya karena alasan waktu?”. Kau bertanya heran, setengah tidak setuju.

Ya, komitmen, ikatan, aku tahu tentang satu itu. Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Namun komitmen juga buatan manusia yang dibuat satu manusia kepada manusia lainnya, ia teramat rapuh untuk bisa dilanggar. Satu – satunya yang membuat itu terawat adalah kepercayaan. Tak ada komitmen tanpa adanya saling percaya.  Tak ada saling percaya tanpa adanya saling mengenal. Lantas seberapa jauh kita bisa mengenal manusia lainnya? Jangan tersinggung, manusia tak akan pernah bisa mengenal manusia lainnya, berapa tahunpun engkau menjalin hubungan,  yang hanya bisa kau lakukan tak lebih dari sekedar menumpuk – numpuk persangkaan kepada seseorang. Persangkaan itu ada yang benar, kadang sering banyak yang salah.

Lantas jika begitu bagaimana kita bisa membuat komitmen kepada seseorang yang tidak benar kita kenal? Itulah mengapa kadang komitmen seiring waktu juga akan rapuh dan lapuk. Karena banyak kejadian, kita sering membuat komitmen kepada orang yang salah. Kepada seseorang yang kita sangka bisa kita percaya. Komitmen itu begitu rapuhnya karena sekuat apapun kita memegangnya, seberapa banyak kita membuktikan teguh padanya. Itu semua bisa dipatahkan cukup dengan satu kali tindakan yang melanggarnya. Panas setahun, akan dihapus hujan sehari. Maka, yang bisa kita persiapkan ialah ruang pemaafan, dan kesabaran yang seluas-luasnya. Ruang pemaafaan itu paling terutama untuk  memaafkan diri kita sendiri. Pemaafan karena kesalahan kita terlalu mudah mempercayai. Pemaafaan karena kesalahan terlalu cepat mengambil persangkaan.

Mungkin karena itulah Tuhan menyediakan insurance berupa pernikahan untuk manusia.   Pernikahan tidak sekedar komitmen antara manusia dengan manusia. Ia adalah segitiga komitmen antara dua orang manusia dengan Tuhan. Jika komitmen dengan manusia bisa kau langgar, maka bagaimana kau bisa menghindar dari komitmen dengan Tuhan. Tuhan itu mengatasi ruang waktu, sehingga komitmen dengan Tuhan itu melintasi ruang waktu. Kelak ketika waktu mengrogoti sepasang manusia hingga rapuh dan terurai. Komitmen pernikahanlah  yang menjamin mereka akan bertemu kembali, meskipun itu bukan di ruang – waktu yang sekarang ini. Itu karena manusia melibatkan Tuhan dalam komitmennya, yang kemudian dikenal dengan nama pernikahan.

Begitulah, segalanya yang di kolong langit ini akan menuju entropi seiring dengan waktu. Ia bisa jadi menabrak waktu hanya kita melibatkan “Sang pencipta waktu”. Namun, bersyukurlah, karena waktu itu pengurai yang paling kuat. Aku yakin masalah – masalah kita juga akan mengurai sendirinya seiring dengan waktu. Juga pintumu yang terkunci itu pasti kelak akan rapuh bersama waktu. Aku berharap, jika tiba saatnya, itu bisa memberiku kesempatan untuk masuk ke dalam dan  menemui dirimu sebenarnya. Dirimu yang apa adanya seperti dulu.

Tahu, tidak? Tiap benda di alam semesta saling tarik menarik dengan benda lain melalui suatu gaya yang makin kuat apabila massa benda makin besar dan kuadrat jarak benda makin kecil. Seperti apel yang jatuh ke tanah, seperti bulan yang mengitari bumi, juga pada benda – benda angksa lainnya seperti bintang. Tarikan bintang pada jarak tertentu tepat seperempat kali tarikan gravitasi bintang berukuran serupa pada jarak setengah jarak semula. Lalu, aku dan kamu, saat duduk sedekat ini, apakah engkau tak merasa bahwa ternyata Hukum Newton itu juga bisa berlaku pada manusia fana seperti kita?

Mungkin karena kita, manusia – sama dengan bintang, juga mengalami kelahiran dan kematian. Bintang lahir akibat sebagian besar gas hidrogen yang berada di semesta runtuh karena tarikan gravitasi, lalu melakukan reaksi nuklir fusi menjadi Helium. Reaksi itu yang memunculkan cahaya bintang yang bisa kita nikmati malam ini.

Bintang dilahirkan dari Hidrogen, inti atom paling sederhana dalam unsur periodik, memiliki 1 jumlah proton. Begitupun kita juga dilahirkan dari sepasang manusia sederhana yang mengikatkan diri dalam sebuah pertalian gravitasinya sendiri yang diciptakan Tuhan. Kita manusia juga sama layaknya bintang, namun bintang berumur lebih panjang dibanding kita, matahari saja punya setidaknya sisa  lima miliar tahun lagi sebelum akhirnya  bahan bakarnya habis lalu mati. Bintang – bintang yang lebih masif ukurannya, bisa menghabiskan bahan  bakar dalam hanya dalam seratus juta tahun.

“Seratus juta tahun kau sebut hanya?”, sahutmu.

Ya, begitulah ilmu astronomi memiliki ukuran usianya sendiri. Jika seratus juta tahun disebut dengan kata “hanya”, lantas bagaimana dengan usia kita yang sekedar beberapa puluh tahun ini? Namun manusia memang suka mendramatisir ya? Mendapatkan kesulitan dan masalah sedikit saja seolah sudah paling menderita sedunia. Karena itu, aku sering  memandang ke angkasa luas sana saat bersedih, agar aku sadar bahwa banyak ruang terbentang di jagat raya sana.Tidak ada yang namanya kesempitan hidup, yang ada hanyalah pandangan kita yang sempit akan hidup.

Engkau, pasti suka melihat bintang juga, bukan? Pastilah, aku yakin perempuan secantik kamu suka melihat cahaya bintang nan gemerlapan di sana. Aku juga heran, entah ada apa di bintang – bintang itu. Mungkin kita sedang melihat impian kita sendiri, yang kita sangka ada di bintang – bintang di atas sana. Tapi, tahukah kamu, bisa jadi bintang- bintang itu sedang tersipu malu, karena melihat engkau menatapnya terus menerus seperti itu.

Coba perhatikan di sana, Itu adalah bintang terdekat dari bumi, namanya Proxima Centauri, berjarak empat tahun cahaya. Artinya, cahaya membutuhkan waktu empat tahun untuk sampai ke bumi, sedangkan sebagian besar bintang – bintang yang lain yang bisa kita lihat sekarang berada dalam jarak beberapa ratus tahun cahaya dari kita.

Jadi, kini kita sedang memandangi  cahaya masa lalu dari bintang – bintang, cahaya yang dikirim beberapa ratus tahun dari angkasa luas sana. Saat bintang di galaksi ujung itu mati, kita tak akan menyadarinya, hingga jutaan bahkan milyaran tahun setelahnya. Memang, masa lalu itu indah, tetapi itu sesuatu yang hanya bisa kita pandangi dari sini, malam gelap ini.

Kamu ingat pertemuan pertama kita? Waktu itu kita juga duduk sedekat ini juga di sebuah gerbong kereta api, Pukul 17.50 waktu stasiun kala itu. Apakah itu sekedar probabilitas layaknya mekanika kuantum atau memang takdir Tuhan? Tapi aku yakin, Tuhan tidak sekedar bermain dadu dengan dengan pertemuan kita kan? Kala itu, kau memintaku  bertukar tempat duduk, kau memilih duduk di dekat jendela,  tempat favoritku juga kala di perjalanan. Tapi apa daya seorang lelaki sepertiku untuk bisa mengatakan “tidak”.

Kamu tahu? Banyak sekali perkara di dunia ini yang bisa terjadi yang bermula dari tindakan seperti yang kerap kamu lakukan saat itu: Melempar senyum manismu, sembarangan. Ya, ruas senyum dan  lekuk pipi nan kemerahan itulah yang seakan membuatku merasa waktu sedang berhenti. Aku belum pernah merasakan waktu berhenti sampai saat itu. Saat dimana arloji cesium-133 tak lagi menujukkan 9.192.631.770 getaran untuk mendefinisikan 1 detik standarnya. Eureka! Ternyata Einstein keliru, memang waktu itu relatif, tapi tidak hanya relatif, waktupun juga bisa berhenti  oleh karena seruas senyum.

Bersambung

Tagged , , , ,

2 thoughts on “Proxima Centauri (Bagian Ke – 1)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.