Sosial Politik

Tamu Adalah Raja

SalesmanKonon, negeri ini adalah negeri yang merdeka, negara dengan kedaulatan hukum yang dijunjung – junjung tinggi, tidak boleh satu negara atau siapapun mengintervensi, bahkan iblis dan malaikat jangan main – main dan ikut   campur dalam keputusan hukum di negeri ini. Walaupun langit akan runtuh, hukum mestilah ditegakkan. Jangankan masalah eksekusi mati terpidana narkoba, masalah siapa yang jadi Presiden, itu juga urusan negeri kami, mau petugas partai atau siapapun, itu murni hak prerogratif bangsa kami.

Sudah sejak lama disepakati, bahwa kita memiliki bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia disamping ratusan, bahkan ribuan bahasa daerah yang ada dan tersebar di seluruh nusantara. Bahasa yang menjadi kebanggaan dan identitas bangsa. Bahasa yang bahkan dari SD hingga SMA, para pemuda harus mengerjakan ujian ini  sebelum dapat dinyatakan lulus dan memperoleh ijazah.

Namun dengan bekal kemerdekaan itu, bukan berarti kami menjadi berbesar hati dan berbangga diri, kami adalah bangsa yang tidak gemar memamer-mamerkan keunggulan. Selalu kami junjung-junjung kebudayaan yang bukan dari tanah air kami, bukan karena kami tidak bangga dengan budaya kami, tapi bukankah sebaik – baiknya manusia itu yang menyembunyikan dan melupakan kebaikannya sendiri?

Jika kita menengok negeri seberang, seperti jepang atau australia misalnya, mereka menetapkan semacam Uji Kemahiran bahasa nasional mereka sebagai syarat untuk orang asing agar bisa beroleh visa kerja di sana. Sebut saja, JLPT untuk Uji Kemahiran Bahasa Jepang, dan TOEFL untuk ujian kemahiran Bahasa Inggris di  Australia.

Di Indonesia, tidak demikian, di Indonesia ini,  jangankan pemerintahnya, rakyat kami terkenal  ramah dan murah senyum, orang asing yang bekerja di sini tidak wajib mahir berbahasa Indonesia. Lihat saja  kantor – kantor di jakarta yang banyak memperkerjakan orang asing, bahkan sekarang di Televisi sudah ada presenter yang berasal dari negeri seberang yang hanya bisa cas cis cus berbahasa Inggris, dan tidak mampu untuk berbahasa Indonesia sama sekali — begitu diterima ramah dan dengan tangan terbuka di sini. Kami rela berbahasa asing di tanah air kami sendiri dengan para pekerja asing bukan karena kami bermental inferior, tapi karena kami sangat rendah hati dan tidak ingin bersikap adigang adigung adiguna.

Tamu adalah Raja, begitulah filosofi negeri kami, karena itu kami mengayomi para ekspatriat yang mencari sesuap nasi di tanah air kami, sehingga tak perlu repot – repot mereka belajar bahasa kami,  tuan rumahlah yang harus memiliki kebesaran hati untuk menampung dan memberikan ruang pemaafan seluas- luasnya untuk tamu – tamu yang berasal dari saentero dunia. Jadi, biarkan kami yang berbicara dengan bahasa kalian. Jika ada orang – orang kami yang tidak bisa berbahasa dengan bahasa kalian, maka biarkan kami yang memaksanya untuk ikut kursus bahasa, jika tidak maka karirnya pasti akan mentok atau rejekinya akan seret, itu dikarenakan ia tidak punya niat baik untuk memuliakan seorang tamu.

Karena kami adalah tuan rumah yang baik hati, maka tak enak rasanya jika membiarkan para tamu pulang dengan tangan kosong, maka sebisa mungkin kami bawakan sesuatu agar tamu kami pulang dengan senang, entah itu berupa tambang emas, batubara, gas, minyak,  atau bahkan saham perusahaan nasional hingga bank – bank swasta.

Tagged ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.