Sosial Politik

Negeri “Tinggal Landas” Republik Indonesia

Pelaut yang handal tidak dilahirkan di laut dengan ombak yang tenang, namun di samudera yang penuh dengan gelombang.

bendera-indonesiaInilah pepatah yang benar – benar dipegang oleh pemerintahan negeri ini. Mereka, para penentu keputusan, benar – benar paham, bahwa keadaan yang adem ayem layaknya negeri uttara kuru dalam kitab Mahabarata, tidak akan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan tangguh. Karena itulah sejak awal, pemerintah konsisten untuk menaik – turunkan harga BBM sehingga  rakyat merasakan jatuh bangun hingga bisa menjadi bangsa yang otot kawat balung besi.

Mana ada pemerintahan yang begitu berpandangan selangkah kedepan selain pemerintahan negeri kami? Pemerintahan negeri lain berlomba – lomba memanjakan rakyatnya dengan banyak fasilitas yang membuat mental mereka rapuh dan lemah saat pemerintahan tidak berfungsi dan melindunginya lagi.  Negeri jiran kita Malaysia misalnya bahkan, sudah mulai kehilangan kearifan seperti pemerintahan kita, sebelum mereka melepas harga minyak kepada harga pasar, terlebih dahulu disiapkan infrastruktur berupa transportasi publik yang murah dan nyaman kepada rakyatnya.

Kita tidak demikian, negara kita adalah negeri dengan kawah candradimuka, dimana rakyatnya tidak memiliki mental cengeng dan manja seperti itu. Inilah revolusi mental yang bukan sekedar jargon dan retorika kampanye. Dengan segala sesuatu yang tidak stabil, rakyat  digembleng untuk berjuang menjadi pendekar. Entah naik kendaraan pribadi ataupun angkutan umum engkau harus benar – benar berjuang dengan kekuatan sendiri. Dibegal atau tidak, dirampok atau tidak, digendam atau tidak. Andalah yang mesti bertanggung jawab terhadap nasib anda sendiri. Sehingga tidak ada pilihan lain untuk hidup di sini selain harus tangguh dan sakti mandraguna.

Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum jika mereka tidak mengubahnya sendiri?

Maka manusia Indonesia adalah manusia – manusia yang benar – benar ditempa dengan gelombang besar sehingga mereka  meyakini bahwa nasibnya berada di tangan mereka sendiri, bukan pada pemerintah ataupun anggota legislatif. Maka, silahkan tanyakan, negeri mana lagi yang memiliki tingkat relijiusitas setinggi bangsa ini. Bahkan rawannya kecelakaan lalu lintas baik darat, laut dan udara di negeri ini, disikapi dengan satu kalimat tawakal pamungkas:

Hidup Mati adalah milik Tuhan, jika waktunya meninggal dunia, naik kendaraan apapun pasti akan meninggal dunia

Maka jangan lagi para pengamat Internasional berbicara bab  standar kemajuan kepada kita. Karena manusia- manusia Indonesia adalah bangsa yang telah tinggal landas. Meninggalkan apa – apa yang menurut ukuran bangsa lain adalah penting. Meninggalkan standar – standar yang hanya berlaku bagi bangsa – bangsa di seluruh dunia yang masih netek pada pemerintahnya.

Inilah yang ternyata presiden kami sebut dengan Revolusi Mental. Revolusi mental dari suatu bangsa yang tergantung pada pemerintah menjadi bangsa yang mandiri, berdiri di atas kakinya sendiri. Sebuah negeri dengan bangsa yang telah “tinggal landas”.

Tagged , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.