Di mata media massa, juga media sosial. Setiap bulan akan memiliki tema yang siap untuk selalu diulang – ulang. Setelah ramai pembicaran komunis di bulan september. Kini beranjak ke bulan oktober dengan topik yang berbeda. Meskipun pembicaraan yang diulang – ulang itu tidak pernah tuntas untuk dibahas. Kebanyakan karena memang niatnya bukan untuk mempelajari, tapi hanya menjual berita.
Komunisme misalnya, sampai sekarang pembicaraan mengenainya hanya melulu berkaitan dengan stigma G30S, pengkhianatan, anti pancasila, atheisme. Tanpa memiliki kerendahatian untuk belajar mengenai istilah – istilah yang tadi dibicarakan. Sebuah logika sederhana kadang begitu susah dicerna. Adakah perbedaan antara Komunisme dengan PKI. Partai Murba, juga berideologi kiri (baca:komunis), namun pada akhirnya dibubarkan Soekarno karena tuduhan menerima dana dari CIA.
Jika sulit, mari coba diambil analogi yang mirip, adakah perbedaan antara Islam dan PKS? Atau Islam dengan HTI? Tentu berbeda, bukan? Lantas mengapa, jika semisal benar PKI yang menjadi otak dari G30S. Haruskah komunisme yang ikut menjadi kambing hitam? Sebagaimana jika DI/TII yang diberantas, apakah lalu islam yang diberantas. Sederhana.
Komunisme hanyalah ideologi yang digunakan oleh PKI, itu berarti PKI tidak sama dan sebangun dengan komunisme. PKI adalah tafsir implementatif dari Komunisme. Sebagaimana Islam yang merupakan ideologi yang juga digunakan oleh PKS, PKB, HTI, dan partai islam lainnya. Maka akan menjadi tidak adil, jika semisal HTI dibubarkan karena dugaan ingin mendirikan “negara khilafah” lantas Islam yang juga turut dipersalahkan. Padahal khilafah versi HTI tentu berbeda dengan versi NU, Muhamadiyah atau organisasi islam yang lain.
Apakah perbedaan antara marxisme, komunisme, leninisme, stalinisme, Maoisme, Juche, hingga komunisme pink – sosialisme? Jika belum bisa menjawab semua istilah ini, sebaiknya mari hentikan tuduh menuduh itu. yuk duduk sama – sama penuh kerendah hatian untuk belajar.
Atau jika mau sedikit melihat spektrum yang lebih luas lagi. Mari kita pertanyakan, adakah ini terkait dengan kondisi perang dingin yang terjadi waktu itu. Tarik menarik antara komunisme internasional yang berpusat di Uni Soviet dengan liberalisme-nya Amerika Serikat? Dimana indonesia pada akhirnya tertarik pada poros perebutan ideologi itu.
Tapi susahnya di negeri ini, hanya berusaha ingin berposisi netral, dan niatan baik untuk belajar serta menjaga akal sehat, sudah rentan dengan stempel antek komunis. Ketika pusat komunisme di Uni Soviet sudah runtuh, di sini, masih sibuk dengan isu kebangkitannya. Padahal mereka sendiri tidak paham benar apa itu yang dimaksud komunis. Jika disebutnya komunisme itu atheis, maka mengapa tidak diteruskan thesis itu kepada kapitalisme dimana manusia tidak lebih dianggap sebagai sumber daya, human resources, bukan sebagai human being, atau lebih jauh lagi sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Bukankah itu juga bentuk atheisme?
Maka ketika sampai di bulan Oktober, Bulan sumpah pemuda. Beberapa jurnalis televisi, akan datang kepada para mahasiswa hingga pejabat negeri ini lalu menanyakan, apakah mereka hafal atau tidak dengan teks sumpah pemuda. Jika tidak, maka stempel tidak nasionalis akan otomatis berada di jidat mereka. Dan bersiaplah menjadi incaran bullying media sosial.
Di tengah wacana kecaman terhadap dunia pendidikan yang berbasis hafalan. Maka sungguh aneh, justru televisi mengkampanyekan sesuatu yang usang, yang masyarakat menyikapinya tanpa rasa prihatin sama sekali – menjadikan hafal atau tidaknya sebuah teks sebagai indikasi satu – satunya nasionalisme seseorang. Hal Itu ibarat dengan memberikan kelulusan mata pelajaran agama bab sholat dengan indikasi hafal tidaknya si murid dengan gerak dan bacaan sholat. Masalah apakah si murid itu sholat atau tidak, dan apakah sholatnya berakibat pada akhlak dia atau tidak, itu lain soal.
Padahal Setiap sholat, selalu diucapkan
inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin
Hanya kepada Allah kita persembakan sholat, ibadah, hidup, dan mati. Lantas apakah selama ini kita benar-benar mengaplikasikan ikrar ini. Bukankah selama ini, kita sering mempersembahkan hidup kita kepada segala sesuatu selain Tuhan. Harta, jabatan, karir pribadi, mercy, untung -rugi?
Saya hanya ingin membatin melalui tulisan ini, duh pemuda, berhentilah bersumpah, jika itu tidak dipahami dengan benar. Daripada itu membebani di akhirat kelak. Sudah berapa banyak sumpah diucapkan, dan berapa yang benar – benar dipahami. Lalu, dari sekian yang telah dipahami, seberapa besar yang benar – benar sungguh dijalani. Itu juga kalau kita percaya Tuhan.