Sosial Politik

Kantuk, Kopi dan Premium

spbuAlarm dari smartphone saya berbunyi, saya terbangun kaget, ternyata waktu masih menunjukan jam 3 pagi. Seperti biasanya, sambil menahan kantuk, saya matikan alarm, lalu memaksakan bangun. Secangkir kopi saya seduh, sembari membuka email,  media sosial, facebook, twitter dan kawan – kawannya. Dan, wah ternyata saya ketinggalan berita. “Semalam premium dan solar sudah naik saudara – saudara, yang mulanya seharga 6000 menjadi 8000 per liternya”

Ah, bukannya BBM naik itu bukan barang baru? Itu-kan kebijakan kuno yang sama dan di-repitisi dengan dalih efesiensi dan pengalihan subsidi, Trus apa solusinya? Jangan tanya saya, saya nggak tahu, saya bukan pakar ekonomi, ataupun ahli energi. Jangan harapkan saya memberi solusi.

Tapi sebuah kebijakan, keputusan ataupun tindakan dinilai benar atau tidak,  kan terletak pada argumen, yang melatar belakangi dari kebijakan itu. Selama bisa diterima akal sehat, maka kebijakan itu layak untuk dilaksanakan, begitu juga sebaliknya

Alasan pak Presiden sebenarnya masih sama, dengan pendahulunya.

Subsidi BBM tidak tepat sasaran, dimana sebagian besarnya malah dinikmati oleh orang-orang mampu.

Tapi bukankah sudah menjadi tugas dari pemerintah untuk  melarang orang – orang mampu agar ikut menikmati subsidi BBM? Jadi sebenarnya — bukan subsidinya yang salah sasaran, tapi pemerintah yang tidak mampu (atau katakanlah belum mampu) untuk melarang orang kaya untuk menikmati subsidi. Memang, cara paling gampang ya pukul rata. Semua orang diasumsikan kaya, sehingga subsidi BBM harus dikurangi. Dan cara seperti ini, tidak memerlukan sebuah kabinet kerja.

***

Oh, ada satu lagi alasan pak jokowi untuk menaikan harga BBM. Beliau menganggap bahwa

Subsidi BBM adalah sektor konsumtif sehingga harus dialihkan ke sektor produktif.

Wah, berarti kopi saya juga konsumtif dong. pantes aja gak ada subsidi bagi petani kopi. Beras yang saya makan kan juga sektor konsumtif, pantas saja petani tidak mendapat subsidi pupuk dan bibit. Ikan laut dan truk pembawa makanan pokok juga pasti sektor konsumtif, sehingga pantas saja solar termasuk salah satu yang dikurangi subsidinya. Tukang ojek, Bis umum, juga pasti masuk sektor konsumtif sehingga subsidi untuk premium mereka harus dikurangi.

Lalu Sektor produktif apakah yang dimaksud Pak jokowi? Ternyata, yang dimaksud sektor produkti itu diantaranya adalah pembangunan infrastruktur seperti jalan, dan pembangkit listrik.

EitsBentar. Bukankah listrik itu termasuk sektor konsumtif juga? Menonton TV kan konsumtif? Main game juga konsumtif. semua acara hiburan yang menggunakan listrik bukankah itu konsumtif? Begitupun juga jalan raya, jalan tol itu semua juga konsumtif.

Sayang seribu sayang,  Orang – orang di ring 1 istana tidak ada yang menasehati pak presiden bahwa produktif atau tidak, konsumtif atau bukan tidak terletak pada barangnya, tapi pada siapa yang menggunakan barang itu, pada saat apa barang itu digunakan, dan seberapa banyak ia menggunakan barang itu..

 Ah, abaikanlah, ini sekedar tulisan orang ngantuktahu apa tentang indonesia, blusukan saja belum pernah. Bagaimana bisa tahu masalah APBN, BBM, dan energi. Tapi biarpun begitu, meskipun BBM naik setinggi langit, saya masih berharap ngantuk saya ini masih ngantuk yang produktif, bukan  yang konsumtif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.