
Malam ini, tidak seperti biasanya saya berencana begadang hingga pagi.
Lho kenapa? ada kerjaan? lembur?
Nggak juga sih, nggak ada apa- apa. Cuman besok pagi saya berencana mudik, dan untuk itu saya harus mengejar-ngejar flight pertama ke surabaya di jam 4.00 (ciee.. mengejar, tukang bakso kalik dikejar
) . Itung-itungan saya jika flight di jam segitu, berarti check-in di jam 3. Jika check-in di jam 3, ya berarti berangkat jam 2. Ya daripada tertinggal pesawat mendingan begadang deh. Karena nggak ada kegiatan dan untuk ngilangin ngantuk, okelah saya iseng -iseng ngisi kembali blog ini 
Sekarang mau ngomongin apa?
Hm.. saya sekedar ingin sharing, saya (dan tentunya juga sampeyan-sampeyan) sering mendapati slogan – slogan, entah itu di footer email atau koran, majalah, yang berisi ajakan untuk mengurangi pemakaian kertas, “save paper, save forest“. Yups, Gerakan paperless, alias hemat kertas, untuk menyelamatkan hutan.
Saya sedang tidak pro ataupun kontra tentang gerakan ini. Saya hanya ingin kita berpikir jernih dengan dasar keilmuan yang jujur dalam menilai segala sesuatu. Tidak asal taklid, main dukang-dukung sesuatu yang tidak jelas bagaimana asal – usulnya.
Mencintai alam dan lingkungan itu tidak hanya bagus, tapi wajib, dan sesuatu yang “hemat” juga baik. Semakin hemat-kan semakin bagus, apalagi jika tidak pakai kertas sama sekali. Malah lebih bagus.. eh tunggu dulu. Nggak pakai kertas? trus gimana? Disimpan dalam format digital semua?
Kertas, yang dibuat dari pohon akasia, dan jika kita menghemat penggunaan kertas maka menghemat pohon akasia yang digunakan untuk membuat kertas, jadi ini sama dengan menyelamatkan hutan, yang berarti juga menyelamatkan lingkungan. Begitulah logikanya. Eh, tapi yakin nih ada keterkaitan antara hemat kertas dengan lingkungan? Bukankah pohon yang digunakan untuk bahan baku kertas itu adalah pohon akasia ? dan pohon ini ditanam di hutan industri? Lalu dimana unsur penyelamatan hutannya?
Logika saya, semisal saya adalah juragan pulp kertas, maka saya nggak akan mungkin maen tebang poho, tanpa menanaminya kembali, karena dari itung-itungan bisnis prospek jangka panjang, hal itu sama saja dengan bunuh diri. Kemudian, yang kedua, bukankah penebangan hutan lindung itu melanggar Undang – Undang? Pabrik – pabrik pupl kertas itu secara legal, mempunyai hutan khusus industri yang digunakan untuk produksi kertas.
Lalu dari mana asalnya gerakan ini? Gerakan ini ternyata bermula dari eropa, dimana di eropa saat ini sudah mencapai titik jenuh dalam produksi kertas. Industri – industri kertas di eropa sudah mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan baku yang kemungkinan akan habis.
Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Di Indonesia sebaliknya, ketersediaan bahan baku kertas itu melimpah ruah. Dikarenakan daerah tropis, maka pohon akasia yang merupakan bahan baku pulp kertas hanya membutuhkan waktu 5 hingga 7 tahun untuk bisa dipanen. Jauh berbeda dengan negara- negara di Eropa dan Amerika Latin dimana pohon akasia baru bisa dipanen setelah berumur 30 tahun.
Ah, mulai dapat benang merahnya-kan? Ternyata akarnya bukan di masalah lingkungan namun persaingan dagang. Negara- negara Eropa takut kita menguasai pasar kertas dunia, sehingga kemudian aturan mainnya diganti. Jangan gunakan kertas, tapi gunakan media digital. Karena jika digunakan kertas, maka industri kita yang akan tumbuh, namun jika digunakan storage digital maka industri – industri di eropa yang akan tumbuh, mengingat bisnis storage digital sebagian besar dipegang oleh mereka.
Saya nggak masalah dan menghargai saudara – saudara kita para aktivis lingkungan yang tidak ingin menggunakan kertas karena alasan lingkungan, tapi saya akan angkat topi jika mereka konsisten dalam gerakannya itu. Bukankah selama ini peralatan elektronik juga menjadi penyebab kerusakan lingkungan? Mulai dari kerusakan lingkungan hidup akibat penambangan bahan – bahan untuk komponen elektronika, pemanasan global, hingga sampah elektronik yang dihasilkan. Lantas kenapa ini tidak ada gerakan untuk menolaknya juga? Digital-less, save Our Enviroment .. hehehe
Lalu kemudian dari segi keamanan data, apakah anda yakin data yang anda simpan di media digital, bisa begitu aman, seaman anda menggunakan kertas? Bukankah selama ini NSA telah menyadap data – data yang ada di Facebook, Google, Microsoft? Nah Lho.. 👿


