Sosial Politik

Membunuh Pelan – Pelan Indonesia

SuhartotundukIMFYang saya tuliskan ini bukanlah dongeng ataupun kisah film. Semua ini benar – benar sungguh terjadi. Tapi sebelum saya lanjutkan tulisan ini, saya  menyarankan anda untuk tidak melanjutkan membaca tulisan ini, jika anda merasa sudah tahu banyak, dan tidak sebegitu perduli bahwa selalu tentang kemungkinan bahwa yang  kita ketahui ternyata keliru.

Tapi bagaimanapun, anda tetap tidak berkewajiban mempercayai tulisan ini, yang perlu anda lakukan adalah menyelidikinya sendiri, mengambil data – datanya sendiri, lalu kemudian menganalisisnya.

Peristiwa pembunuhan  terencana terencana itu bermula di tahun 1997, ketika Goerge Soros melakukan spekulasi terhadap Bath Thailand, mengawali krisis moneter yang  di negeri gajah putih tersebut. Bagaikan penyakit menular, krisis tersebut ‘membakar’ ke  berbagai negara-negara di asia tenggara – hingga bahkan asia timur.

Namun, dibanding negara-negara lainnya, Indonesia mengalami akibat yang paling parah, rupiah  terderpresiasi hingga 329,5% lebih. Hal tersebut yang kemudian  memaksa Presiden Soeharto di tahun 1998 meminta bantuan IMF, dalam menghindari krisis yang lebih parah lagi. Bos IMF, Michaels Camdessus bersedekap di belakang Presiden Soeharto sambil tersenyum ketika Letter of Intent (LoI) ditandatangani.

Kepada The New York Times,  Camdessus  mengakui bahwa IMF berada di balik krisis ekonomi berkepanjangan yang melanda Indonesia

“Kami menciptakan kondisi krisis yang memaksa Presiden Soeharto turun,”

Lalu mengapa IMF susah – susah menjatuhkan Presiden Soeharto? Ini tidak lain karena,  masuknya IMF ke Indonesia adalah kunci pembuka bagi terbukanya gudang harta terpendam, yakni pasar Indonesia yang luar biasa dahsyat.

LOI itulah yang merupakan embrio dari amandemen UUD 1945 dan ratusan UU, yang bukannya memperbaiki kondisi negara, malah  mengantarkan Republik Indonesia semakin masuk ke dalam cengkraman erat kapitalis asing.

Maka, sekarang bisa disaksikan setelah IMF menjadi “dokter” perekonomian Indonesia, perusahaan asing begitu leluasa berbisnis di negeri ini. Di setiap sudut – sudut kota,  begitu banyak kantor cabang bank asing, restoran asing, perusahaan multinasional dan komoditas -komoditas asing.

Hal inipun tidak terlepas dari peran DPR yang  telah menerima gelontoran dana asing ‘tak terbatas’ memberikan regulasi – regulasi yang menghamba terhadap kepentingan asing di Indonesia.  Setidaknya  ada 170 undang-undang yang dilahirkan DPR sejak era reformasi merupakan pro asing.

Komoditas Asing

Kini Silahkan kita tengok komoditas yang ada kiri kanan kita. Ketika meminum Air mineral, maka ingatlah Aqua, yang telah diakuisisi Danone – sebuah perusahaan multinasional prancis – pada tahun 1998. Danone di tahun 2007 juga mengakuisisi Sari Husada dan Nutricia, produsen Susu.

Ketika pagi dan ingin meminum teh hangat, maka ingatlah teh Sariwangi yang telah diakuisisi oleh Unilever, begitupun ketika kita berada di dapur, maka lihat, dan daftarilah komoditas-komoditas yang ada di rak – rak dapur, mulai dari Kecap Bango,  Blue Band, Royco, Taro, Buavita, Gogo yang semuanya adalah produk Unilever.  

Kecap ABC ataupun sirup ABC  juga telah dibeli oleh HJ Heinz, sebuah perusahaan multinasional asal AS. Ah, Jangankan didapur, bahkan di kamar mandi, anda tidak bisa melepaskan diri produk-produk yang telah menjadi milik asing seperti Pepsodent, Lux, Sunsilk. 

Bank Nasional Asing

Ketika anda ingin menabung, maka lihatlah Bank International Indonesia (BII) yang 97,5 persen sahamnya dimiliki Maybank, bank terbesar dari Malaysia. Bank Niaga yang berubah nama jadi Bank CIMB Niaga, 97,9 persen sahamnya adalah milik CIMB Group, bank terbesar kedua Malaysia.

Bank Ekonomi, 98,94 persen sahamnya dimiliki HSBC Holdings Plc, bank terbesar ketiga dunia yang bermarkas di London. Bank NISP, yang berubah nama menjadi OCBC NISP, 85,06 persen sahamnya milik OCBC Bank, bank terbesar kedua Singapura

Tak mau ketinggalan, Standard Chartered Bank  juga telah membeli 44,5 persen saham Bank Permata. Begitupun dengan United Overseas Bank yang telah menguasai 98,99 persen saham Bank UOB Indonesia. Terakhir, bank terbesar di Timur Tengah, Qatar National Bank (QNB) Group telah menguasai 69,59 persen saham Bank QNB Kesawan.

Yang saya tuliskan hanya sekedar beberapa contoh, dari sekian banyak contoh yang bisa anda daftar yang terjadi. Hal ini belum termasuk perdagangan bebas ASEAN yang sebentar lagi diberlakukan.

 Indonesia yang memiliki jumlah penduduk yang besar memang merupakan pasar yang menggiurkan, maka sekarang, kendali perputaran uang triliunan rupiah milik anak bangsa sedang diambil alih dan dilarikan ke luar negeri.

Diam-diam, Indonesia sedang dibunuh diam – diam. Lantas apakah kita bisa diam?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.