Tiba – tiba alarm berbunyi, mata masih sepet, dan waktu masih menunjukan pukul tiga pagi. Mata ini, saya paksa – paksa untuk terbuka. Setelah benar – benar yakin, semua nyawa saya telah menyatu
. Maka saya buka kembali notebook untuk mulai belajar di pagi hari. memasak air untuk membikin satu cangkir kopi panas.
Hah! belajar? Memangnya masih kuliah bung? atau ada apa? Ujian?! hm… nggak lah, sudah dua tahun lebih saya lulus dari tempat saya kuliah Namun itu tidak serta merta menjadikan alasan untuk menghentikan kebiasaan saya ini kan? Bukankah jadi menyempitkan arti belajar itu sendiri dikala itu hanya kita lakukan jikalau ada ujian?
Jikalau dulu yang dibaca adalah materi – materi kuliah, maka sekarang bisa lebih luas dan lebih eksploratif sifatnya. Bisa jadi berupa hal – hal yang terkait dengan pekerjaan, atau bab – bab yang mungkin tidak ada kaitan dengan saya, namun ada suatu ketertarikan saya pada bidang itu. Yups, belajar nggak boleh pilih – pilih, apapun yang dihidangkan Tuhan sebagai ilmu, wajiblah kita ‘makan’, tak perlulah pertanyakan dulu manfaatnya untuk apa, karena saya yakin apapun yang Tuhan hidangkan pastilah bermanfaat, jika tidak sekarang, ya nanti.
Kebiasaan seperti ini, telah saya lakukan jauh, semenjak saya duduk di bangku 4 SD. Terutama waktu ada ulangan harian, saya sering dibangunkan orang tua saya untuk belajar di pukul 4 pagi. Ya jam segitu untuk anak seumur saya memang masih terlalu pagi, tapi entah kenapa saya bersemangat waktu itu, ya kalau dulu, karena didorong oleh motivasi ingin dapat nilai bagus waktu ujian.
Namun tak terasa kebiasaan itu kemudian terbawa, hingga kini, tapi bukan motivasi pengen dapat nilai bagus lagi. tapi karena perasaan saya saja yang merasa diri saya masih belum cukup untuk tahu apa – apa. Sehingga meskipun kuliah telah usai, saya tetaplah sebagai mahasiswa abadi, di universitas alam semesta ini, yang diharuskan untuk selalu belajar sampai nanti liang lahat.