Uncategorized

Takbir kita, Takbir Kemunafikan

Malam takbir selalu membawa kesan yang begitu mendalam di hati dan pikiran semua orang. Beberapa orang perantauan akan ingat terhadap kampung halamannya. Dan jika hidup ini memang sebuah perjalan, tentu bagi para pejalan, mereka akan merindukan kampung halamannya yang lebih jauh lagi, lebih sejati lagi. Sebagaimana orang mukmin sering ucapkan

“Innalillahi wa innailaihi rajiun”

Setiap yang dari Allah akan kembali ke Allah. Kita dari Allah, melakukan perjalanan dalam hidup ini, tidak memiliki tujuan apa – apa selain kembali lagi kepada Allah.

Ketika suara takbir bergema memenuhi langit, dan merasuk ke sunsum sadar kita, akan hadir perasaan rindu, kerinduan ini bisa jadi kepada kampung halaman, bisa jadi kerinduan terhadap yang lebih jauh lagi, kerinduan kita kepada asal kita yang lebih hakiki, kepada Allah.

Sudahkah kita bertakbir?

Manusia hidup tidak boleh sekedar mengucapkan kata,  kita hanya boleh mengucapkan apa yang kita jalani, apa yang benar – benar kita pikirkan dan  apa yang benar – benar kita perbuat. Tuhan memerintahkanmu untuk bertakbir, dan tidak sekedar mengucap kalimat takbir. Mengucapkan kalimat takbir tidak dibutuhkan kesadaran apapun, mereka yang baru beranjak umur 5 tahunpun dapat melakukannya dengan lancar, tapi untuk bertakbir, itu dibutuhkan kesadaran yang lain sama sekali.

Allahu akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar!

Allahu Akbar, hanya Allah-lah yang besar, sedangkan diriku dan dirimu, dan semua selain Allah tidaklah besar. Lalu mengapa dalam hidup ini, justru di setiap hari, segala sesuatu selain Allah -lah yang malah selalu memenuhi hatimu? Bahkan malah semua ini kemudian membesar dan membesar hingga menghalangi pandanganmu kepada Allah yang harusnya kita akbar-kan? Benarkah kita sudah sungguh – sungguh bertakbir?

Ketika kita mengucapkan takbir, mestinya kita sudah mengecilkan dalam hati ini segala urusan tetek bengek, jual beli, rumah tangga, dagang, serta segala urusan lain bahkan eksistensi dirimu sendiri. Sehingga tersisa satu – satunya Allah Yang benar – benar Akbar. Maka, harusnya kita perbanyak berighstifar, kala kita mengucapkan takbir  sementara hati dan pikiran kita tidak melaksanakannya. Karena kita hanya mengucapkan kata – kata kosong, karena kita telah ‘menipu’ Tuhan. Kita berbohong kepada-Nya, kita sungguh jauh dari takbir yang kita ucapkan. Takbir kita tidak lebih dari takbir kemunafikan.

Di pasar, di jalan – jalan, di toko – toko, di kantor – kantor, siaran televisi, sekolah, hingga universitas, kita akan banyak menemukan, apakah benar semuanya ada dalam rangka mentakbirkan Tuhan, ataukah mereka hanya membesarkan diri mereka sendiri, kepentingan mereka, eksistensi mereka, kekuasaan mereka, kerakusan mereka, dan dengan itu mereka rela menginjak-injak sebagian yang lainnya.

Pernahkah kita belajar tentang bagaimana takbir yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. ketika diperintahkan Allah untuk menyembelih Ismail anak kesayangannya. Kita harus memiliki kearifan, bahwa Allah ‘mengajari’ kepada Ibrahim (dan Juga ismail) bahwa yang harus disembelih sejatinya adalah “hawa nafsu” yang membuat hati mereka mencintai segala sesuatu selain Allah, sehingga kemudian mereka benar – benar sabar dan berserah diri.

Malam takbir, adalah malam dimana kita harusnya menangis sejadi-jadinya, karena yang kita ucapkan tidak lebih dari kemunafikan, karena sebenarnya yang kita ucapkan tidak lebih dari pura-pura dan omong kosong. Semua yang ada hanya berusaha menjauhkan kita kepada Muasal. Sehingga untuk kembali mendekat kita tidak punya pilihan lain selain berqurban sebagaimana yang dilakukan Ibrahim a.s. Sebagaimana qurban sendiri yang berarti “mendekat”.

Maka untuk dapat mendekat tidak ada jalan lain selain “menyembelih” segala apa yang “menghalangi” pandangan dari Kemahabesaran Allah.  Semoga Qurban yang kita lakukan sebagai upaya pendekatan diri kita kepada Tuhan mampu membuat kitamenjalani hidup dengan Allah satu – satunya yang Akbar dalam hati, pikiran dan perbuatannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.