Perenungan, Uncategorized

Ada yang Salah dengan Puasa Kita

images (3)Menjelang bulan puasa, sejumlah  harga barang kebutuhan pokok mulai naik. Terlebih ketika bulan Ramadhan datang, nilai konsumsi tidak malah turun, namun ternyata malah naik. Sepertinya ada yang salah dari ibadah puasa kita,  karena yang harusnya puasa itu mengurangi konsumsi, malah menjadikan konsumsi naik dua kali lipat.

Kita sering salah kaprah, dan menjadikan waktu berbuka puasa sebagai sarana  “balas dendam”, padahal sebenarnya waktu berbuka puasa hanyalah pergantian dimensi puasa ke dimensi puasa yang lain. Dari puasa tidak makan-minum, menjadi puasa untuk tidak makan berlebihan. Rasulullah mengajarkan, untuk berhenti makan sebelum kenyang. Rasulullah selalu menjaga lapar, dan tidak membiarkan perutnya terisi penuh makanan. Sebenarnya itu juga satu dimensi puasa.

Jika dari shubuh hingga maghrib kita mampu menahan nafsu untuk tidak makan dan minum, lantas mengapa ketika tiba waktu berbuka, kita tidak bisa berhenti makan sebelum kenyang. Gagal sudahlah puasa kita, jika berbuka hanya dijadikan ajang balas dendam.

Padahal Allah memerintahkan manusia untuk berbuka di waktu maghrib sebenarnya itu ada pada pertimbangan medis, karena dikhawatirkan jika kita terus tidak makan dan minum melebihi waktu maghrib, maka itu dapat mengganggu kesehatan. Sehingga kemudian diperintahkanlah kita untuk berbuka.

Makan pada waktu berbuka hendaknya ditujukan sebagai makan yang sejati, yaitu makan yang benar – benar untuk kepentingan perut, bukannya nafsu.  Memberi makan perut, adalah “kebutuhan”, namun memberi makan kepada nafsu adalah “keinginan”, Keinginan adalah api, yang bilamana dituruti tidak akan pernah ada seleseinya.

Puasa dan Kosumenserisme

Ilmu puasa ini sangat penting dalam kehidupan sehari – hari, namun banyak yang tidak bersungguh – sungguh menggali lebih dalam, sehingga strateginya dan penyikapannya terhadap hidup ini tidaklah berubah. Terlebih di zaman sekarang di mana orang telah diseret oleh sebuah sistem yang sedemikian rupa membuatnya untuk membeli pelayanan atas nafsu, bukan pelayanan atas kebutuhan.  Orang – orang didorong sedemikian rupa, dipaksa secara kultur dengan dahsyat untuk memiliki apa- apa yang sesungguhnya tidak — atau setidaknya belum merupakan kebutuhan dasar yang berasal dari dirinya sendiri. Mereka dicetak dan dididik untuk merasa minder dan rendah jika tidak memakai pakaian model itu atau komestika model ini.

Mereka yang tidak terlatih untuk berpuasa, akan terjebak arus ini, sehingga habislah bermilyar – milyar untuk membeli sesuatu yang tidak dia butuhkan, terjebak oleh iklan – iklan klenik artifisial, memburu lelembut yang disebut merek-merek internasional dan gengsi kelas tinggi dan priyayi.

Puasa diberikan Allah dengan tujuan mendidik pelakunya untuk bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sehingga membuat pelakunya “makan” jika benar – benar dalam keadaan “lapar yang sebenarnya”. Puasa melatih kita untuk mampu melawan nafsu, sehingga kita enggan untuk menumpuk-numpuk harta, melakukan penindasan terhadap orang lain dan lain sebagainya, karena kita tahu, itu semua adalah makanan palsu.

Tagged

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.