Perenungan, Uncategorized

Alhamdulillah…

Teman saya ini orang yang teramat alim. Sering dijadikan imam sholat di masjid – masjid. Sholatnya sangat rajin, hampir pasti tidak pernah tertinggal jamaah, setelah sholat, dzikir yang dia bacapun panjang, begitupun doa-doanya, semua doa yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para ulama- ulama sholeh dia terapkan. Toh mencotoh rasulullah dan para ulama itu baik kan?

Namun suatu ketika, seperti biasa setelah mengimami sholat dzuhur, teman saya ini mendengar lirih anak muda berada dibelakangnya, lirih berdoa mengucapkan “alhamdulillah” berkali – kali. Teman sayapun terheran – heran mendengarnya. Dia tidak mendengar satupun permintaan ataupun doa – doa yang ia panjatkan kepada Allah, seperti sebagaimana yang ia lakukan.

Namun ia tahan keinginannya untuk bertanya, dikarenakan si anak muda tadi sangat khusuk dalam doanya. Setelah sekitar 15 menit. waktu yang ditunggupun akhirnya tiba, ketika si anak muda itu menyeleseikan doanya, dan hendak meninggalkan masjid. Teman saya itu menghampiri dan mengajaknya berbicara.

“Maaf dek, atas kelancangan saya ini sebelumnya, mungkin ini ranah privasi adek,  tapi tadi saya tidak sengaja mendengar adek berdoa namun yang diucapkan hanyalah “alhamdulillah” tidak sedikitpun adek; mengatakan permintaan yang adek inginkan, bukankah Rasulullah telah mengajarkan kita begitu banyak doa – doa, kenapa tidak adek amalkan salah satunya?”

“Si anak muda ini tersenyum lalu menjawab, “Benar Mas, tapi bukankah Rasululah sendiri yang menasehati kita, bahwa sebaik – baiknya doa adalah Alhamdulillah? Jadi saya menggunakan rumus sederhana ini, karena begitulah anjuran beliau.”

“Maksudnya dek? Apakah adek tidak punya keinginan sama sekali?”. Tanya teman saya ini heran

“Bukankah Allah lebih tahu tentang keinginanku dibandingkan diriku sendiri, Allah Maha Mendengar Apa yang diucapkan ataupun yang disembunyikan makhlukNya. Lantas ada hak apa aku mendikte – dikte Allah mengenai apa yang kubutuhkan? Aku sangat menjaga dan pekewuh padaNya. Karena meskipun lisanku sudah mengucapkan Alhamdulillah sekian banyak kali. Namun aku belum sanggup bersungguh – sungguh beralhamdulillah padaNya?”

“Lho? beralhamdulillah seperti apa yang adek maksudkan?”. Semakin bertambahlah kebingungan teman saya ini.

“Mas, Beralhamdulillah itu berbeda dengan mengucapkan “Alhamdulillah”. Mengucapkan alhamdulillah mungkin anak 5 tahun sudah fasih melakukannya. Tapi Beralhamdulillah ini adalah sebuah kesadaran yang mendalam bahwa semua yang kita nikmati detik ini mulai dari nafas, aliran darah, hingga potensi ekonomi, sosial, budaya tidak lain adalah atas karunia Allah.”

“Beralhamdulillah berarti kita  memanfaatkan segala potensi yang diberikan Allah pada kita dengan sebaik – baiknya, semaksimal mungkin berdasarkan tujuan mengapa Allah memberikanmu potensi- potensi tersebut. Dan saya sendiri pribadi, masih merasa belum cukup memaksimalkan kemampuan itu, sehingga tidak ada hak rasanya untuk meminta – minta. Bagaimana saya harus meminta sedangkan yang Dia berikan padaKu berlimpah – limpah, dan belum benar – benar aku gunakan.”

“Bagaimana perasaan mas, jika seandainya mentraktir makan bakso, lalu ada salah seorang yang ditraktir bakso, minta nambah padahal bakso di mangkoknya belum habis? Lalu minta nambah lagi. Nambah lagi, begitu seterusnya hingga bakso – bakso itu numpuk di mangkoknya tanpa dia makan.”

“Tentu Allah terlalu Agung untuk punya perasaan “sakit hati” semacam itu, namun sebagai orang jawa, saya pekewuh mas kepada Allah untuk minta nambah, sedangkan mangkok nikmat yang dia berikan padaku belum habis aku suap syukurnya.”

“Benar dek, tapi kenapa adek tidak minta kepada Allah untuk memudahkan atau memberikan pertolongan kepada adek. Allah kan Maha Pemurah?”

“Mas, Kita senantiasa hidup dan diliputi dalam pertolongan Allah. Bahkan tidak ada satu kemungkinanpun manusia untuk hidup tanpa pertolonganNya. Satu -satunya yang diperlukan adalah menyadari pertolongan itu, jika tidak demikian, maka pertolongan tersebut tidak akan banyak berguna

“Karena itulah mas aku sudah merasa cukup atas semua yang telah dikaruniakan Tuhan padaku ini. Malahan mungkin berlebih-lebih. Sehingga di setiap doaku, aku selalu sibuk untuk terus bersyukur – dan bersyukur sehingga aku tidak ada waktu bagiku lagi untuk meminta”

Tagged ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.