Sudah menjadi kebiasaan saya di setiap pagi untuk menyeduh beberapa ratus mililiter kopi lalu mengisinya ke dalam wadah travel pres – semacam termos, khusus kopi dan teh yang dilengkapi alat untuk menekan ampas agar tidak ikut terminum saat dinikmati. Dulu, sebelum saya pindah kantor, saya membuatnya di kantor, namun karena sekarang saya lebih sering bekerja di tempat klien which is, dispensernya tidak cukup panas untuk menyeduh minuman. Membawa teko listrik sendiri jelas tidak masuk akal. Lha emangnya kantornya mbahmu? Nanti jika ada preseden boleh bawa teko sendiri, lama – lama boleh bawa rice cooker, kompor listrik, pemanggang roti..

Ada banyak alasan orang untuk minum kopi, namun bagi saya dia berguna menemani segala sesuatu yang bersifat intelektual. Entah itu namanya coding, membaca buku, berdiskusi, masalah politik, ekonomi dan tetek bengeknya, hingga ketika belajar guna menempuh ujian. Ngga nyambung kan ya rasanya, ketika diskusi masalah negara, namun teman minumnya adalah jus buah. Ya tapi kan itu relatif, anda tetep bisa minum kopi untuk suasana apa saja.
Akhir – akhir ini memang kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. penjaja kopi mulai menjamur di sepanjang jalan. Mulai dari kafe ala starbucks, hingga penjual kopi keliling yang berkendara sepeda. Kopi adalah minuman sejuta umat. Tak perduli pria wanita, miskin atau kaya semua minum kopi. Meski, tetep saja, masih ada beberapa orang nggak suka minuman hitam ini karena memang lambungnya yang nggak kuat dengan kadar asamnya
Apapun itu. Bagi saya, menyesap kopi, adalah merasakan pahitnya. Kopi tak akan pernah bisa benar – benar manis. Karena yang manis bukanlah kopi, melainkan gula. Itulah yang mengherankan saya, ternyata kita begitu bisa berdamai dengan rasa pahit, bahkan menggemarinya. Bisa jadi ini anomali. Normalnya kan orang suka ya yang manis- manis: makanan manis, minuman manis, sampai gadis manis. eh. Itulah mengapa banyak minuman manis membanjiri pasar. Coba tengok di minimarket, lalu hitung, berapa jumlah minuman manis yang dijual. Tapi meskipun begitu, toh kopi masih memiliki penggemarnya sendiri. Kopi tidak harus menjadi manis untuk disukai. Kopi cukup menjadi kopi seperti adanya.
Rasa manis selalu identik dengan kebahagiaan, dan pahit selalu dikonotasikan dengan kesedihan. Tapi toh, orang masih bisa berbahagia kala minum kopi. Bahwa toh rasa pahit tidak begitu buruk seperti yang disangka banyak orang. Ataukah mungkin kita telah salah paham dengan kehidupan. Manis pahit ternyata bukan ukuran.
Itu juga mengapa lagu – lagu dengan tema patah hati, banyak digemari. Mungkin lagu itu satu frekuensi dengan apa yang sedang kita alami. Saking cocoknya, lagu itu diputar terus – terusan. Patah hati yang begitu pahit ternyata juga bisa dinikmati dan juga dirayakan.
Kopi ternyata tidak sekedar minuman. Menyesap kopi dan pahitnya adalah cara manusia berteman dengan hidup. Lengkap dengan kegembiraan, kesedihan dan keterpisahannya. Boleh jadi kita gagal lepas dari kenangan akan keterpisahan. Yang kita lakukan hanyalah berusaha bertahan hidup, layaknya kita yang menyesap kopi untuk menahan kantuk.