Menulis itu bukan pekerjaan yang susah, namun juga bukan berarti mudah. Apa yang ingin kita tulis, kadang berbeda dengan yang ternyata kita gores di atas kertas. Mungkin sama dengan hidup yang kita hadapi, yang kita rencana jalani seringkali berbeda dengan yang ditakdirkan terjadi.
Menulis tidak hanya menyusun aksara, penulis setengah mati membawakan peristiwa ke dalam kata – kata, meskipun selalu saja tak sama, tak serasa. Menulis itu bagaikan awan Cumulunimbus dalam dada dan pemikiran yang hanya menerjunkan gerimis pada bumi kata dan aksara. Selalu saja tak sama dan selalu saja tak sebanding.
Namun menulis kadang bisa membuat kita paham diri sendiri. Semacam kita berkomunikasi dengan kedalaman hati. Berbisik pada kesunyiaan perasaan. Meski ada saja sesuatu yang tak terungkap, namun sekuat tenaga ingin kita tulis, meski selalu saja gagal tiap hari.
Karena sebenarnya dalam hidup ini, kita tak pernah dikenali. Orang lain tidak lebih dari menumpuk – numpuk persangkaanya pada kita. Dari permukaan kita terlihat, berkumpul, berteman dan berkeluarga, namun sering setiap kita masih bertempat tinggal di dalam dirinya sendiri , punya “kesibukan hati ” yang sendiri dan diam diam – sehingga orang lain tak ada yang tahu , sebagaimana kata orang bijak ” dalamnya laut bisa di duga , hati orang siapa tahu.
Penulis tidak sekedar memasang – masangkan kata dalam suatu deretan baris – baris rapi penuh tinta, kata sekedar seperti seorang kurir pembawa pesan yang sebenarnya pesan itu berada tersembunyi rahasia di masing – masing hati manusia. Rahasia itu bisa jadi berbeda masing – masing kita. Satu kata bisa memunculkan makna dan asosiasi yang berbeda, semua berdasarkan perjalanan, dan penghayatan hidup tiap – tiap orang. Meski begitu, seringkali penulis tak mampu menggunakan kata, ia lebih memilih menyebunyikan diri darinya, lalu memilih sunyi sebagai bahasa untuk mengungkap rindunya yang tak terperi.

