Tuhan menakdirkanmu menjadi orang Indonesia, dengan kulit sawo matangnya. Namun engkau mengingkarinya dengan memutih-mutihkan kulit menggunakan segala cara, mulai kosmetika ini itu hingga terapi buatan.
Tuhan menakdirkanmu menjadi orang Indonesia, dengan rambut hitamnya yang kaya akan pigmen. Namun engkau menolaknya dengan mewarnai rambutmu dengan bermacam perwarna artifisial.
Tuhan menakdirkanmu menjadi orang Indonesia, dengan mata hitam-nya. Namun engkau menghindarinya, dengan mewarnai-nya dengan bermacam contact lens yang berwarna – warni.
Tuhan menakdirkanmu menjadi orang Indonesia, dengan segala budaya adiluhungnya, mulai dari wayang, tari Remo, tari piring, dan sebagainya. Namun engkau membantahnya, dengan lebih menggandrungi break dance, hip-hop dan segala musik ngak ngek ngok yang kebarat-baratan.
Tuhan menakdirkanmu menjadi orang Indonesia, namun engkau tidak rela. Kemudian membarat-baratkan diri, menyerupa – nyerupakan dirimu, dengan orang – orang eropa. Dan itu semua karena engkau takut dikira kuno, kolot dan tidak moderen.
Padahal Tuhan menakdirkanmu menjadi bersuku – suku dan berbangsa – bangsa agar saling mengenal satu dengan yang lain. Maka mengapa engkau dustakan?