Saya lahir dan dibesarkan di sebuah kota kecil di Provinsi Jawa Timur. Lahir di lingkungan jawa yang kental dan kuliah di Yogyakarta, mungkin membuat saya membawa nilai – nilai budaya jawa hingga besar sampai sekarang.
Di pemikiran saya, sebagai orang jawa, entah ini apa hanya perasaan saya saja atau sampeyan yang bukan jawa juga merasakannya: Adalah saru (tabu/ngga pantes) jika kita – misalnya, mencalonkan diri sendiri agar dipilih atau ditunjuk untuk menempati suatu posisi tertentu, atau mengerjakan suatu bidang tugas tertentu.
Lha kok? masalahnya dimana? Ya memang jika dilihat dari segi aturan, hukum dan perundang – undangan, ngga akan ada masalah. Tapi masalahnya sebenarnya ada di etika, yakni ketika orang ‘mencalonkan diri’, sebenarnya dia sudah punya asumsi kalo dirinya merasa paling baik, dan paling pantas dari semua orang disekitarnya, sehingga kemudian merasa pantas menjadi A, B atau C. Padahal belum tentu dia sanggup memikul tanggung jawab dan amanah itu.
Mungkin lain ceritanya, jika dia ‘dipaksa’ atau ditunjuk oleh orang- orang di sekitarnya untuk menduduki posisi atau tugas tertentu, jika begitu kondisinya, maka itu lain persoalan. Karena itu atas inisiatif masyarakat, bukan dirinya sendiri. Ma’mum lah yang harusnya menunjuk dan menyuruh seorang imam memimpin sholatnya, bukannya malah imam yang mencalonkan dirinya sendiri kemudian memerintahkan ma’mum untuk mengikutinya.
Ojo rumongso biso, ning biso o rumongso
Begitulah, orang – orang tua kita sering menasehati, artinya kurang lebih, jangan merasa diri bisa (mampu), tapi pandai – pandailah rumongso, atau rumangsani. (mengenal ‘diri sendiri’).
Tapi ya kok dari kemarin bahkan hingga mendekati tahun 2014 ini banyak orang yang rumangsani biso, kemudian atas inisiatifnya sendiri memasang poster – poster, spanduk, baliho dan memajang wajahnya agar dikenal dan terpilih menjadi calon legislatif, kepala daerah, bahkan hingga presiden.
Yang saya aneh, kok mereka tidak merasa malu ya, atau pekewuh (sungkan), mempromosikan dirinya sendiri seperti itu agar dipilih. Hingga-hingga ada jargon, “serahkan pada ahlinya”. Kalo saya sih, pasti pekewuh seperti itu, mengklaim diri paling baik diantara yang lain. Dan kemudian berjanji macem – macem yang muluk – muluk pasti bisa mensejahterakan rakyat, memperbaiki ekonomi, dan lain sebagainya. Ya kalo bisa. klo ngga?
Padahal kan semua nabi dan rasul malah mengaku dirinya sebagai orang dholim, yang tergambar dari doa – doa dan munajat mereka,
robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin
La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin
Saya tidak pernah bisa membayangkan berdiri di depan podium di hadapan banyak orang kemudian berteriak – teriak mengatakan diri saya yang paling baik dari yang lain, dan dengan alasan itu kemudian meminta orang – orang itu untuk memilih saya sebagai pemimpin. Saya sungguh ngga bisa bayangin hal itu terjadi pada saya, membayangkannya saja, saya merasa aneh.
Silahkan lihat sejarah Islam, semua khalifah di jaman khulafaur rasyidin tidak pernah ada yang mencalonkan dirinya sendiri dan menganggap dirinya paling mampu diantara para sahabat yang lain sehingga kemudian merasa pantas menjadi pemimpin. Masing-masing dari beliau tidak rumongso biso, mereka menjadi khalifah bukan atas keinginannya sendiri tetapi dipilih dan didorong oleh masyarakatnya untuk menjadi pemimpin