Hidup itu masalah bagaimana kita menentukan yang mana yang merupakan tujuan dan yang mana yang merupakan jalan. Dari situlah kita bisa meletakkan skala prioritas.
Mereka yang meletakkan akhirat sebagai prioritas, ia akan melakukan segala cara mencapai kehidupan akhirat yang sebaik – baiknya. Siapa saja yang membereskan urusan dunianya terlebih dahulu, maka urusan dunianya belum tentu beres dan urusan akhiratnya jelas akan berantarakan. Sebaliknya, siapa yang mendahulukan urusan akhiratnya, maka urusan akhiratnya akan beres, dan dunia akan mengikutinya.
Karena itu, Tuhan dengan penuh cintaNya, memerintahkan manusia melaksanakan sholat. Pelaksanaan sholat merupakan proses disiplin agar manusia dikondisikan untuk mengambil jarak dengan dunia. Sehingga dengan itu manusia diharapkan kembali diseimbangkan hidupnya.
Dimulai ketika mengambil air wudhu, membersihkan diri dari hadast. Selain fisik, maka biarkan air wudhu itu membasuh batinmu, karena setelah beberapa lama masuk dalam dunia, selalu ada kemungkinan batin kita telah terkotori olehnya. Dan bagaimana mungkin kita membawa kotoran ketika akan menghadap pada Allah Yang Maha Tinggi.
Ketika sajadah telah digelar dan diri telah menghadap pada kiblat. maka dunia telah siap untuk dibelakangi. Tidak ada siapa – siapa di depan diri ini selain Allah. Kemudian takbiratul ikram dikumandangkan,
‘Allahu Akbar’
Allah Maha Besar, Hanya Allah Yang Maha Besar. Ketika batin sudah mengucap ‘Allahu Akbar’ maka tidak ada lagi yang besar selain Allah termasuk yang namanya rupiah, gelar, jabatan, masalah – masalah, kesedihan atau kesenangan, bahkan diri sendiri. Begitu sadarnya kita akan kekerdilan dihadapan Allah sehingga larutlah dalam KemahabesaranNya.
Demikian sholat, terus membawa pelakunya untuk larut dalam cinta dan meleburkan eksistensi dirinya, bahwa sebenarnya hanya Tuhanlah yang sejatinya ada, dan hanya dialah yang sebenarnya berkarya. Puncaknya adalah ketika sujud, dimana wajah yang menjadi simbol ketampanan atau kecantikan dan supremasi kehormatan seseorang ditundukan mencium tanah, sehingga tiada terlihat lagi dirinya, tersimpuh dalam Kemahabesaran Allah. Semua gerakan sholat itu diakhiri dengan salam kepada sisi kanan dan kiri. Bertujuan, ketika semua proses sholat berhasil dijalani dengan baik, maka akan mengantarkan pelakunya untuk menjadi khalifah – wakil Tuhan di muka bumi yang bertugas untuk menebarkan rahmat dan keselamatan untuk lingkungannya
Jika manusia benar – benar sungguh -sungguh dalam sholatnya, maka sholatnya itu tidak akan terhenti sebatas ibadah ritual formal. Namun akan berkembang menjadi suatu kesadaran hingga seluruh gerak hidup, detak jatung, aliran darah dan gerak hatinya sudah tidak ada yang lain selain sholat itu sendiri. Bahwa hidupnya hanya untuk sujud di Masjid Allah yang seluas langit dan bumi
1 thought on “Masjid Seluas Langit dan Bumi”