Akhir – akhir ini marak, pemberitaan soal komodo yang masuk sebagai salah satu nomine 7 Keajaiban Dunia Baru oleh New 7 (Seven) Wonders of Nature (atau saya singkat saja N7W) tentu membuat bahagia. Setidaknya, akan ada satu lagi kekayaan Indonesia yang mendapat pengakuan dari dunia internasional.
Maka, ramai-ramai publik figur, mulai dari artis hingga para pejabat menyerukan agar bangsa Indonesia menunjukkan nasionalismenya lewat mendukung komodo. Caranya? Dengan mengirim SMS ke 9818. Awalnya, SMS dukungan ini bernilai Rp 1000, sekarang, demi menggalakkan dukungan, SMS-nya hanya dikenai biaya Rp 1.
Bangga bukan? Tentu bangga, namun tunggu dulu. Tulisan ini ingin mengajak kita sedikit berpikir, kritis. (Sedikit saja, nggak banyak – banyak
) . Kenapa ? Hal ini hanya kita tidak main dukung ini dukung itu. Harus tahu dong, apa yang kita dukung.
Nasionalis sih boleh-boleh saja, bagus malahan, tapi asal nasionalisme yang cerdas. Sebelum ndukung ini, dukung itu, harus tahu doong apa yang didukung? Saya sangat peduli, dan tidak menyukai nasionalisme kawan-kawan dieksploitasi untuk kepentingan mereka.
Apa saja yang perlu dipikirkan sebelum memberikan dukungan,
Pertama, sebagai negara demokrasi, harus tanya dulu dong apakah komodo mau dijadikan nominasi? 😆 ini asli bercanda
Kedua. Siapa yang ngadain nominasi N7W itu, lembaga macam apakah dia? Harus jelas lah, Duta Besar RI untuk Swiss, Djoko Susilo, yang melansir pernyataan mengagetkan: New7Wonders adalah yayasan “abal-abal”. Ditelusuri tim Kedutaan selama setahun, alamat surat yayasan ini–yang disebutkan di Hoeschgasse 8, P.O. Box 1212, 8034 Zurich–ternyata tak valid. Yang paling mendekati adalah: Hoeschgasse 8, P.O. Box 1212, 8008 Zurich. Tapi di alamat ini staf Djoko tak berhasil menemukan kantor yayasan. Yang mereka dapati adalah Museum Heidi Weber.
Yang perlu diingat lagi, bahwa lembaga New7Wonders yang mengadakan kompetisi ini sama sekali tidak terhubung dengan lembaga UNESCO di bawah PBB. Bahkan, UNESCO telah mengeluarkan pernyataan tersendiri demi menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan dengan penetapan Situs-Situs Warisan Dunia sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh New7Wonders (Pernyataan resmi dari UNESCO bisa dibaca di sini).
Sejak 2007, UNESCO menyatakan bahwa mereka sudah berkali-kali diajak bekerjasama oleh organisasi milik Bernard Weber ini, tapi mereka memilih untuk tidak berpartisipasi. Lembaga PBB biasanya menggunakan bahasa-bahasa yang diplomatis.
Maka ketika UNESCO mengatakan, “tidak ada yang bisa dibandingkan antara kampanye media yang dilakukan Tuan Weber dengan pekerjaan ilmiah dan proses pendidikan yang kami lakukan di UNESCO sehingga menghasilkan daftar situs-situs Warisan Dunia,” itu artinya mereka sedang memberi peringatan keras akan cara kerja lembaga ini.
Informasi lain menyebutkan, New7Wonders merupakan vanity scam, yang memanfaatkan Nasionalisme kita semua untuk meraup keuntungan. Ini tak jauh berbeda denganpenipuan Who’s Who atau diploma mill dimana korban menyerahkan sejumlah uang untuk atribut tertentu, misalnya gelar akademis atauperson of the year, walaupun sebenarnya institusi tersebut tidak memiliki kredibilitas atau akreditasi untuk memberi gelar tersebut. Praktis tak ada orang lain yang menganggap gelar atau atribut tersebut sebagai sesuatu yang penting.
New7Wonders hanyalah sebuah perusahaan kecil asal Swiss, bukan organisasi Internasional ataupun lembaga bentukan kerjasama multilateral antara negara-negara. Perbedaannya, New7Wonders menambahkan bumbu berupa kompetisi dengan kontestan lain, tujuannya untuk menyentuh rasa nasionalisme kita semua. Selain itu, New7Wonders merupakan vanity scam dengan skala internasional yang korbannya bukan lagi perorangan, tetapi negara-negara yang berdaula
Mirip-mirip Indonesian Idol lah, keduanya menggunakan kriteria populer untuk menentukan pemenang, bukan kriteria objektif. Lucu nggak? Keajaiban dunia, harus divoting? Bukankah kriteria ajaib itu harus dinilai oleh orang – orang yang berkompeten, kalo di voting, semua orang mempunyai standar keajaibannya masing – masing dan tentu tidak objektif, karena yang menjadi tolok ukur bukan ajaib atau tidak, masing – masing voter memiliki penilaiannya sendiri-sendiri, dan pasti keajaiban dunia asal negaranya yang akan dipilih. Kayak Indonesia ini 😆
Sebelumnya juga N7W pernah mengadakan acara nominasi serupa, dan Patung Kristus Penebus Rio de Janeiro bisa mendapatkan gelar ‘keajaiban dunia’, walaupun secara objektif, monumen-monumen lain seperti misalnya Candi Prambanan,Menara Eiffel atau Patung Liberty lebih berhak mendapatkan gelar tersebut.
Lalu apa perbedaan antara N7W dan Indonesian Idol? Indonesian Idol mendapatkan pemasukan dari pihak ketiga yang mendapatkan hiburan dari acara tersebut. Panitia kemudian menyerahkan sebagian dari pemasukan tersebut kepada kontestan, dalam bentuk gaji, pelatihan, akomodasi, atau lainnya. Semua kontestan mendapatkan keuntungan, termasuk kontestan yang kalah di babak awal sekalipun.
New7Wonders mendapatkan penghasilan dari setoran kontestan itu sendiri yang berasal dari platform pemilihan berbayar. New7Wonders praktis tidak mengeluarkan biaya apapun untuk kontestan. Bahkan biaya pemasaran ditanggung oleh masing-masing kontestan. Biaya yang dikeluarkan kontestan yang kalah melalui platform voting berbayar tak dapat dikembalikan. Bagi seluruh kontestan, kontes New7Wonders merupakan negative-sum game.
Memang sih kita hanya dikenakan Rp 1. Tapi panitia lokal harus membayar lisensi ke New7Wonders, sehingga akan ada devisa kita yang terbuang. Akibat kontes ini, akan ada pihak yang mendapatkan basis data nomor ponsel dari puluhan juta rakyat Indonesia. Jika kita melihat lebih jauh daripada sekadar nilai uang yang hilang akibat skema ini: kontes New7Wonders ini menghina intelegensia kita semua. Karena pada praktiknya, ini hanyalah kontes ‘adu jumlah setoran’.
Ketiga. Kenapa Maladewa mengundurkan diri?
Seperti tercantum dalam situs resmi pemasaran dan hubungan masyarakat Maladewa,
With regret, we are withdrawing from this competition because of the unexpected demands for large sums of money from the New7Wonders organisers. We no longer feel that continued participation in this competition is in the economic interests of the Maldives,
The Maldives originally agreed to participate in the New7Wonders of Nature competition in early 2009 and paid a participation administration fee of $199. However, the details of the joint initiatives and escalating costs were not clearly outlined prior to signing. Recently, the New7Wonders organisers have repeatedly asked the Maldives to pay significantly more money, including:
- A Platinum sponsorship license fee at US $350,000.
- Two Gold sponsorship license fees at US $210,000 each.
- The sponsorship of a ‘World Tour’ event, whereby the Maldives would pay for a delegation of people to visit the country, provide hot air balloon rides, press trips, flights, accommodation, communications etc.
- US $1,000,000 license fee for a national telecom provider to participate in New7Wonders campaign – later reduced to US $500,000 on appeal.
- US $1,000,000 license fee for a Maldives based airline to display logo on aircraft.
The MMPRC repeatedly asked the New7Wonders organisers if there was a way to stay in the competition without paying significant sums of money. The New7Wonders organisers eventually stated that the Maldives could host a “protocol visit” for a delegation of the New7Wonders organisers, in which the Maldives would incur “flights and logistical costs etc.” The New7Wonders organisers pointed out, however, that “in our previous campaign for the man made Official New7Wonders of the World, all the winners had highly successful World Tour Events” and added “you do need sponsorship to participate fully in initiatives such as the World Tour event visit
Artinya adalah bahwa penyelenggara tidak transparan dalam menjelaskan bagaimana cara mereka menghitung dukungan. Itu baru satu alasan. Yang lainnya adalah biaya-biaya tak terduga yang terus meningkat jumlahnya. Mereka menyebut harus membayar sponsor platinum mencapai $350 ribu; dua biaya sponsor emas dengan total $420 ribu, mensponsori tur dunia dengan menerima kunjungan delegasi, menyediakan perjalanan balon udara, penerbangan, akomodasi, kunjungan wartawan; biaya $1 juta dolar bagi penyedia layanan telepon untuk berpartisipasi dalam kampanye New7Wonders; dan $1 juta lagi agar maskapai Maladewa bisa menempelkan logo New7Wonders di pesawat-pesawat mereka.
Tentu ini Biaya-biaya ini sangat besar hanya demi sebuah predikat ‘ajaib’. Toh selama ini reputasi komodo sebagai tujuan wisata dunia juga sudah diakui.
Saya sangat mendukung Taman Nasional Komodo sebagai simbol keajaiban di indonesia, dan memang harus dikampanyekan. Namun Kita harus memberikan informasi kepada teman – teman, agar tidak terjebak kepada Organisasi yang nggak jelas kredibilitasnya, sama saja seperti perguruan Tinggi yang tidak terakreditasi oleh Dirjen Dikti lalu memberikan gelar Doktor Honoris Causar kepada anda. So? Gelar tersebut tidak akan diakui oleh siapapun, karena lembaga yang memberi anda gelar tidak pernah mempunyai kredibilitas untuk itu.
Lagian. UNESCO sudah lebih dulu menetapkan Taman Nasional Komodo sebagai Situs Warisan Dunia pada 1986. Selain itu, bukankah biaya jutaan dollar itu bisa lebih baik digunakan untuk sebuah kampanye wisata Indonesia yang terencana (semacam Malaysia dengan Truly Asia-nya atau Thailand lewat Amazing Thailand-nya) daripada demi membayar biaya-biaya lisensi pada sebuah perusahaan yang tidak jelas reputasinya?
Komodo sudah ajaib, sampai – sampai dalam dunia pemrograman nama komodo sudah menjadi IDE untuk developer bahasa pemrograman
Apa yang harus teman – teman lakukan terhadap informasi ini? Semua berada di tangan teman – teman 😉
Referensi

awalnya sya juga meragukan kredibilitas lembaga ini….lha wong mau jadi tuan rumah saja harus menyediakan dana yang lumayan besar buat mereka (red:panitia N7W)…..seolah-olah utk ‘menjadi juara’ (terpilih nantinya) kt harus merogoh kocek dlm2 trlebih dahulu…..(ini mah apa bedanya dengan menyogok ya….. 😀 ). Sya pikir masih banyak media lain yg bisa dijadikan sebagai wadah utk mempromosikan P Komodo sbg tmpt pariwisata drpd kt trlalu mengiba dan bergantung dngn suatu lembaga yg tidak jelas juntrungannya……!
kunjungan balik nich sob 😀
Saya sendiri melihat masih simpang siur berita ini mas.
banyak yang Pro dan Kontra. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ini mungkin yang dinamakan Nasionalisme kulit ya.. 🙂
Dari dulu yang namanya komodo ya gitu-gitu aja, nggak ada yang ajaib. Justru yang ajaib manusia Indonesia akhir2 ini banyak yang buas dan serakah melebihi komodo, ASPALpun kalau perlu dimakan, BENDUNGAN digerogoti
Semakin bingung saya jadinya, mana yang benar atau kurang benar. masing-masing pihak punya argumen dan bikti yang membenarkan mereka. Semoga pihak-pihak yang berwenang segera meluruskan berita yang sebenar-benarnya sehingga kita tidak dibuat bingung .