Duka, datang tak disangka, terjadi begitu saja seperti mimpi. Namun, Kepergian itu begitu terasa nyata. Ku inginkan ini hanya mimpi, dan ingin saja aku terbangun..
Sungguh, kepergian itu menusuk hati. Menembus jiwa sanubari. Menyesakan nafas. Derai air matapun menjadi percuma, karena ‘tak akan bisa membuatnya bahagia disana
Perhatikan bulan sabit menjadi purnama. Purnamapun nanti diganti sabit.lalu begitu kemudian menghilang..
Semua mempunyai siklusnya. Lihatlah, demikianpun hidup ini..


Syair ini kalau boleh tahu untuk siapa? Apakah untuk masyarakat Jepang yang sedang dilanda bencana, dan salah satunya adalah bencana nuklir?
________
Tedy : untuk semua yang telah meninggalkan kita 🙂