Bingkai Kata, Keseharian

Bayang Hidupku

Masih kuberdiri di sudut – sudut reruntuhan dunia, melihat sekeliling dan tiada mengerti apa yang orang -orang perbincangkan. Ego masih saja meresapi dinding -dinding peradaban, meracuni setiap sunsum dan syaraf- syaraf pikiran manusia. Masih belum selesei kumengerti akan hal ini, tiba – tiba saja satu persatu mereka melintasiku, dengan aroma yang tersebar di sekat – sekat abad.

Masih ditemani sepi, aku masih menatap sekitar dan masih kutemui perang, perdebatan, dan tanda tanya. Masih kulihat pula pucat pasi wajah keadilan yang sedang duduk bersimpuh di jalanan, dan diabaikan oleh hukum yang selalu diprostitusikan oleh rupiah. Di sela – sela itu aku melihat pula modernitas jaman yang hiruk pikuk yang diramaikan bisik – bisik politik, gosip – gosip telenovela, dan juga tarian – tarian di klub telanjang yang temaram.

Di zaman seperti itu aku hanya ingin melangkah dari sudut reruntuhan hidup ini seraya berusaha menyusuri semak belukar yang merintang dihadapanku yang terkadang menyuguhkan duri, ular, atupun emas permata di dalamnya. Terkadang pula sesekali ku melihat gadis hatiku di hadapan mata, seraya menatap, membuat jantungku tertusuk serta terbius oleh pesona parasnya.

Aku masih tetaplah keping – keping tak berdaya yang terasing dan terbuang di semesta zaman, hanya bersahabat dengan detik demi detik. Mencoba bernafas di ruang sempit ini. Meskipun sulit dan terbatas, namun aku hanya mencoba semampu yang kubisa. Aku hanya ingin meraihmu meski tak mungkin. Kumohon, janganlah engkau berlalu dari hadapku, tetaplah jadi bayang-bayang hidupku. dan temanilah kesendirian ini.

Tagged , , ,

2 thoughts on “Bayang Hidupku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.