Tokoh

Mengingat Kartini

“Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang bahwa islam patut disukai”

Demikianlah sepenggal kutipan surat Kartini tertanggal 20 Juli 1902 kepada Ny. Van Kol, salah seorang teman korespondensi beliau di Luar Negeri. Siapakah R. A. Kartini? Tentu hampir semua orang sepertinya bisa menjawabnya. Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (Jepara, 21 April 1879 – Rembang, 17 September 1904), adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Dia adalah tokoh pejuang wanita yang memperjuangkan persamaan kesempatan bagi wanita untuk bisa juga memperluas wawasannya – dan tidak untuk dikekang pada satu titik tertentu untuk berhenti. Ya, Pendidikan sepertinya sebuah kata yang cocok atas fokus perjuangan beliau. Di latar belakangi kesedihan melihat wanita – wanita jawa yang jauh tertinggal dengan wanita di eropa maka timbulah keinginan beliau untuk membuka sebuah sekolah – sekolah khusus untuk para gadis di jepara.

Kegelisahan itu tercermin dalam surat – surat yang beliau tulis :

Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga-tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memilki buku selain buku pelajaran sekolah. (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902)

Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut “kuda liar”. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 18 )

Namun seperti yang kita sering baca dan dengarkan, prinsip perjuangan beliau sering disalahartikan dalam beberapa media, dan artikel di internet sebagai “emansipasi liberal”. Buku beliau (yang merupakan hasil kompilasi korespodensinya dengan sahabat – sahabt beliau di luar negeri ) yang diberi judul “Door Duisternis tot Licth” sering diartikan secara sastra sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Namun menurut Prof. Hariati Soedibyo yang merupakan cucu tiri R. A Kartini kalimat tersebut sebenarnya lebih berarti “Dari Gelap Menuju Terang” atau Minazh Zhulumaati ilan-Nuur.

Perjuangan beliau yang gigih untuk memajukan kaumnya akhirnya lambat laun kandas bukan karena tekanan fisik kolonial hindia belanda, namun terlebih pada kepatuhan kepada ayahanda beliau, seperti tercermin dalam surat beliau :

“Untuknyalah, aku merasa begini celaka, berbulan – bulan lamanya aku menjadi goyah hati, lemah, yang bahkan pengecut, karena aku tidak mampu dan tidak sampai hati untuk melukai hatinya…”

Beliau meninggal dunia pada usia 25 tahun pada tanggal 17 September 1904 setelah beberapa hari melahirkan putra pertamanya yang bernama RM Soesalit. Namun perjuangan, dan pemikiran beliau akan selalu hidup dalam hati wanita – wanita Indonesia.

Referensi :

Wikipedia Indonesia

Wikiquote Indonesia, koleksi kutipan bebas berbahasa Indonesia

Majalah Insani, Edisi April 2004

Tagged , , , , ,

1 thought on “Mengingat Kartini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.